Wednesday, April 23, 2014

Aku sedang Suka Melakukan Ini

Aku sedang suka merapi-rapikan isi ruangan blog ini. Aku membaca semua tulisanku yang dulu. Dan aku sadar, hanya anak muda yang waktu itu saja yang mengerti, lelaki tua yang sekarang ini tak lagi mengerti apa yang sempat diucapkannya beberapa tahun ke belakang. Aku sendiri tak pernah tahu apa mata-mata lain yang membaca ruangan ini bisa ikut mengerti. Tapi setidaknya dengan kurapikan, aku lebih suka berlama-lama di ruangan kosong ini.  ini Beberapa tulisan yang saya rapihkan.



1. #CANDURINDU 


Kamar ini sepi dan dingin, hanya ada laba-laba pada sudut meja menenun jala, dan cicak yang sedari tadi hanya mematung, mungkin bersedih kehilangan cinta.

Nyatanya cicak itu bukan sedang patah hati, dia hanya menunggu merenggut sebuah nyawa, jala itu tak lagi berguna. Tak ada lagi denyut disana, memang perihal makan memakan ini tak berdosa. Laba-laba itu tersisa kenangan, pun seekor nyamuk singgah sia-sia. Mati perlahan dalam kesepian. Reptil kecil itu bak buaya, berjalan pelan, kembali pada peraduan di balik kaca, kamar ini kembali sepi.

Kaca di depanku retak sedikit, tapi cukup jelas terbesit  memantulkan kisah,dimana ada kamu, dalam kepalaku meringkuk malu. Aku masuk ke sana, menemuimu. Kupilih kartu nasibku, dan terjebak disana bersamamu.

Di luar hujan, berbisik berisik. Mereka ahlinya, meramu bumbu pada rindu, mengelitik air mata, menciptakan pelukan pertemuan. Dan kini aku benci, mereka terus merintik turun berpasangan, menertawai aku yang sendiri. Tak adil, andai ada kamu, kuajak kamu keluar, melawan hujan.

Sepertinya nyali mereka mulai ciut saat namamu kusebut. Hujan habis tiga-dua-satu, langit sebentar lagi biru, hujan malu bisu. Dengki pada pelangi, yang datang dan mereka tidak diingat lagi. Angkasa dan pelangi senja, sama indah. Hanya saja bianglala lebih berwarna. Tapi mereka aneh. Keduanya cemburu pada matamu.

Aku bersandar, melihat sebuah gambar bergerak. Tertegun kunikmati jemarimu yang sedang menari pada tuts hitam putih. Berdansa, mereka tak bersuara, hanya nada menyampaikan rasa. Baru kusadari, jemarimu lentik, cantik.

Kugadaikan diamku, hanya demi mengatakan kau cantik. Ingat-ingat ini, kututurkan sekali, selebihnya akan kubisikkan, dengan bahasa yang hanya bisa dinikmati oleh mulut dan telinga kita. Kamu cantik.

Senja yang indah, matahari memerah lelah. Kamu bernyanyi, terdengar dari sini. Angin yang membawanya begitu lirih. Lidah buaya berbunga, merunduk turun. Mengikuti angin yang sama mengalun.

Kamu, bukan anugerah. Kamu bencana, menyiksa dengan indah. Dicinta dalam pejam, disayang dalam diam. Sebuah pengecualian, yang sempat diciptakan.

17 February 2013



Cahya Bagus Mandalukita


2. DOH!!!


Kerajaan kecil ini busuk, berisi menteri-menteri mabuk. Memikirkan raja dalihnya, tapi para prajurit terus dicambuk. Kalian lihat saja pada saatnya mereka mengamuk dan kalian para sapi gemuk,akan terbantai remuk.

Mereka memegang pena ajaib, menentukan nasib. Gaib, mereka membuat jiwa para prajurit kelas satu ini menciut, menjadi anjing-anjing penjilat remah roti, 
”Hari ini kau pergi, besok kau mati!!” kata mereka tertawa, melempar bola tenis penuh liur, dan para anjing ini berlari mengejar secepatnya, itu saja kerja mereka.

Aneh, para koki diberi baju baja. Lucu, perut buncit mereka kemana-mana. Dan para jenderal tak lagi bersenjata, mereka di beri gitar, dan mulai bernyanyi mengganggu telinga. Tentu saja buruk, dan mereka dibuang setelahnya. Satu-satu.

Ada sekelompok anak muda, mereka mendaftar menjadi prajurit kerajaan. Mereka diterima, lalu ditanya, "suruh siapa masuk kemari!!" kata para mayor tertawa. Beberapa tahun mungkin anak muda ini melakukan hal yang sama, meludah dan mencaci para muda, Duh!

Agaknya kerajaan kecil ini dibuat ketika bercanda. Lawak, berlomba berlagak, berkata mereka yang paling berjasa, sudah banyak bekerja, dan melempar senjata pada sekelilingnya. Pada akhirnya, mereka tidak menghasilkan apa-apa.

Beberapa pembesar memeluk tahta, merahasiakan bagaimana mereka bekerja, tentu saja agar tetap duduk disana. Beberapa sibuk mengurut tangan robot mereka yang mulai menua karena bekerja menggila. Memohon tidak dilepar pada ujung pos jaga.

Ada bagusnya, beberapa kunang-kunang hinggap disana. Semoga mereka segera menjadi bintang, kerajaan ini butuh terang!


Cahya Bagus Mandalukita

3. #Kerandamerah



Aku berdiri di pinggir jalan, sejak tadi. Asap  mengambang, mengalungi senja seluruh kota. Sepertinya banyak kuda sedang bersantai. Berjalan berjingkat, setengah-setengah langkah sambil menikmati cerutu yang tak berhenti membuatku batuk, mereka berjingkat pelan-pelan, juga menghisap cerutu dengan pelan-pelan. Membuat mereka seperti sedang mengantre rumput dengan sangat santai. Aku kesal, jika aku sakit paru-paru, tak mungkin aku menyebut mereka dungu. Biasanya, orang-orang yang kukenal menyebut kata dungu berpasangan dengan keledai, bukan kuda. Jadi aku hanya diam, menutup mulut dengan jaketku yang sudah lusuh.

Sebuah keranda merah besar melintas,  keranda  yang beroda dan tak ditandu oleh manusia. Entah kenapa warnanya merah. Yang pasti keranda  itu mengangkut para prajurit yang sekarat. Mereka, semua prajurit itu terlihat sudah sangat lelah, menumpang pada kotak beroda ini untuk mencari arah pulang ke rumah.  Mana mungkin mereka masih dipaksa berperang. Panglima bisa marah besar, prajurit lelah seperti mereka hanya membuatnya kalah perang. Kulihat lengan mereka penuh luka, dengan wajah yang tak segagah ketika mereka pamit berangkat pada keluarga dengan bangga. Mereka seperti menanti kematian, umurnya akan habis pada langkahnya saat pulang. Aku naik ke atasnya, berlagak menjadi prajurit bernasib sama.

Prajurit-prajurit itu membuat keranda ini seperti penuh dengan mayat hidup. Mata mereka kosong, sepertinya  mereka rindu menimang bayinya yang baru lahir kemarin. Tapi ceritanya selalu sama, mereka tak pernah tega membangunkan seorang bayi  yang sudah tertidur saat mereka tiba. Lalu hanya melihat seorang malaikat kecil tertidur. Malaikat yang sudah lama tak merasakan debar jantung ayahnya.

Roda keranda merah ini berputar, tentu saja perlahan. Kuda-kuda tadi masih saja bersantai. Tak juga mengalah pada prajurit-prajurit yang sudah lelah. Sepertinya keranda merah ini menghisap kehidupan, di dalam sini aku mengantuk. Hanya saja  aku takut tidur, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika tidur, bisa jadi aku makin jauh dengan rumah, atau malah tak akan kembali.

Kepulangan di kota ini dibayar mahal, uang tak punya  arti di sini. Alat tukar yang mengerikan kurasa. Mereka di kota ini menukarkan ruh, menjual hidup untuk tetap hidup.

Seorang anak kecil mulai berkeliling, menarik  upah. Anak kecil berbaju abu-abu. Rambutnya  merah, mungkin berdarah setelah kalah berkelahi dengan matahari. Tubuhnya kurus ceking, sesuatu yang tak pernah membuat dia peduli. Anak itu berjalan menyusuri lorong keranda, menarik ongkos pulang para prajurit yang sudah penuh luka. Dia membawa gentong kecil, dengan lubang yang menganga, ”untuk menghisap ruh,” katanya. Perjalanan pulang ini tak berongkos mahal, hanya dua jam kehidupan.

Bukan, tolong jangan menyebutnya kejam. Dia jauh dari kata kejam, memang begitulah cara hidup di sini. Dari caranya menarik mahar, kurasa dia cukup ramah. Sesimpul senyum selalu melekat pada pipinya yang coklat.  Setidaknya aku merasakannya, dia jauh lebih hangat daripada muka-muka datar para mayat  hidup yang menumpang pada kerandanya. Anak kecil itu bergelantungan pada tepi keranda, sejenak menghirup udara segar, mata kosong mayat-mayat hidup itu menyesakkan, jauh lebih menghimpit paru-paru daripada cerutu-cerutu kuda. Tangannya membuka gentong ruh yang sedari tadi ia gendong. Tangannya lincah menghitung ruh yang berhasil dia kumpulkan. Pas, tak ada yang berhutang.

Aku sejak tadi mengambil tempat di sisi paling belakang keranda. Rasanya tak penting juga mencari tempat di tengah para prajurit ini. Mereka hanya bisa diam, juga tak akan mempedulikanku. Kehilangan ruh membuat mereka mati, hanya panglima besar yang menyihir mereka agar tetap dapat berjalan. Awalnya kukira mereka seperti mayat hidup, sekarang kusimpulkan semua pikiranku adalah nyata, mereka benar-benar sudah mati.

Anak kecil bergentong tadi berjongkok di depanku, memberi punggungnya sebagai teman mataku menunggu sampai pada tujuanku, rumah. Menatapnya dari belakang membuatku bertanya, apa anak seperti ini masih menggilai buku? Semoga dia masih melahap buku dengan rakus.

Lalu aku  menyadari arti perkataanku. Ternyata tak semua hal yang biasanya dianggap buruk akan selalu berarti busuk.  Rakus dan tamak tak selalu buruk ternyata, jika dia (anak kecil itu) mampu menghabiskan semua buku di kota ini, akan ada waktunya dia akan menjadi pria yang membagikan seluruh buku yang dia makan pada dunia. Setitik harapan untuk kota mati seperti ini bukan?

Kota mati ini aneh Tuhan, susunan batu-batu yang dibuat manusia ini mampu menghidupkan rasa (milikku) dan mematikannya pada saat yang sama. Seorang bocah paruh baya dengan otak buntung baru saja masuk ke dalam keranda dan meminta-minta. Memaksa setiap mayat ini memberikan sisa ruh padanya. Sedang di luar sana, mataku tertarik pada seorang nenek remaja yang menarik gerobak sampah, setengah mati.

Kota ini menangis Tuhan, kukira  akan sama seperti biasanya, sesaat akan tenggelam. Meminta tolong pada kalian dengan mulutnya yang dijahit kawat. Terus memaksa bersuara, dan terluka. Tak ada yang bersedia mendengar, masing-masing terus sibuk menjual jiwa. Tegakah Kau membiarkan ini begini?

Jakarta, pada sebuah perjalanan pulang, hujan merintik setengah jalan. Beberapa orang menyebutnya metromini, aku menyebutnya keranda merah.

Cahya Bagus Mandalukita

Tuesday, April 22, 2014

Aku dan Benci yang Membatu


       Pada sebuah kampung jauh, hidup seorang aku. Aku kecil lahir sebagai bocah kaku dan malu-malu. Awalnya aku tak pernah membenci apapun di dunia ini. Tapi semua hal yang dialaminya membuat aku jadi seorang pembenci apapun.  Benci membenci ini dimulai saat aku mulai pengalaman pertamanya membaca. Aku tak mampu membaca beberapa kata, dan seorang wanita yang aku panggil dengan sebutan ibu tak mengijinkannya tidur. Setelahnya kamu bisa mengira perjalanan hidupnya. Aku benci membaca. Lalu dia membaca seluruh buku yang ada di rumahnya, hanya agar aku bisa secepatnya tidur.

Saat itu aku mulai meletakkan kaki pada umur belasan. Saat Ayahnya meletakkan tangannya dengan sangat keras pada ibunya, hampir wanita itu lantak. Hal yang membuatnya membenci ayahnya. Lalu setelah itu dia membenci dirinya sendiri, yang mau tak mau memiliki ayahnya dalam dirinya. Lalu dia mulai melakukan segala sesuatu berlawanan dengan semua yang dia ingat tentang seorang ayah. Berharap tak menjadi sesuatu yang dibencinya.
Aku benci pada keranda yang membawa pergi ibu keponakannya saat gadis kecil itu masih berumur lima tahun. Tapi aku yang penuh benci itu menyembunyikan semuanya dalam lambaian tangan kanan dan senyuman saat mengantarkan tubuh dingin itu pada peristirahatan, saat pipi-pipi lain di pemakaman itu tak lagi punya tempat untuk menampung airmata. Sedang tangan kirinya menggandeng keponakannya yang ikut tersenyum karena melihat aku tersenyum. Gadis kecil itu merasa harus tersenyum, mengikuti aku yang mengenakan senyum lebar sebagai pakaian tubuh penuh bencinya. 
Aku juga benci pak polisi. Dia berjaga pada perempatan lampu merah. Tempat di mana dia bertemu mata dengan seorang gadis yang melintas di depannya. Pak polisi galak itu melotot saat aku ingin mengejar gadisnya. Tentu saja, lampu merah itu melarangnya untuk belok ke kanan. Arah di mana gadis itu menuju. Sekarang aku bahkan tak pernah tau siapa nama gadis berhelm merah itu. Kali yang lain, jika bertemu gadis itu, aku berjanji tak akan lagi peduli apa kata mata pak polisi, pun mulut bulat lampu merah.
Aku membenci foto ibunya, sesuatu yang selalu dibawa dalam dompet kurusnya. Foto itu terus saja berdendang lagu-lagu rindu. Setiap malam gambar ibunya yang sedang tersenyum itu mengatakan bahwa senyum itu senjata kabut, untuk menyamarkan peluh dan kelu pada penglihatanmu. Foto itu hilang saat dompetnya kecurian beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku masih berpikir, apa foto itu masih berdendang di sana, atau dompet kurus itu dibuang dengan kesal karena terlalu kurus untuk dipotong, lalu foto itu berdendang di pinggiran jalan di kota dekat?
Aku benci ini, benci itu, yang sebelah sana, sebelah sini juga. Tak ada hal yang luput dibenci olehnya bahkan aku membenci dirinya yang penuh benci. Dia begitu mencintai benci, seperti kamu yang membenci cinta. Aku suka mengaku benci, tapi dia benci mengaku-aku. Bagi dia semua yang bukan miliknya tak pantas dibenci. Begitu juga, orang lain tak boleh membenci aku jika mereka tak merasa bagian dari dirinya yang penuh benci. 
Aku hidup dengan membenci hidupnya, padahal hidup adalah sesuatu yang bahagia karena aku hidup. Atau aku sebenarnya tak benar-benar bahagia, atau aku tak pernah benar-benar membenci? Aku benci memikirkan aku yang masih juga benci.

Monday, April 14, 2014

Pohon Beringin, Sepasang Kenari dan Telaga



Pohon Beringin Tua
Sebatang kara kayu hidup pada tepi danau  yang entah apa  namanya. Sebatang kara dan sebatang kayu sepertinya  kembar,  mereka sama-sama sendirian. Kayu itu tak bertuan, juga tak  mempunyai  pasangan.  Kerutan dahan yang kamu lihat padanya menafsirkan sedikit asa tentang usia. Tak seperti kita, manusia, kerutan membuatnya terlihat semakin kokoh berdiri. Jangan menanyakan padaku, aku  pun tak  tahu  apa kerutan itu karena  terendam air  terlalu lama seperti jari-jarimu, atau memang waktu yang membuat dahan-dahannya berkerut. Tonjolan-tonjolan akarnya seperti penopang bumi,  menjadi sandaran bagi  mereka yang sedang berkasih. Terkadang hanya berteduh dari amarah siang atau sesaat bercumbu pada dingin malam. Entah apa sekarang mereka, sepasang kekasih itu, masih bersama, atau malah telah lama terpisah. Atau bisa jadi mereka telah menikah, dengan orang yang berbeda. Tonjolan yang sama menjadi atap bagi kerajaan semut yang entah apakah kerajaan itu bernama. Sebut saja kerajaan itu sebagai  Kerajaan-semut-tak-bernama.

Dahan terkuatnya bahkan hanya terayun perlahan, menggetarkan daun kecil, juga udara di depanmu. Sekedar menyibakkan sedikit anak rambut di kening lebarmu. Membuat matamu menyipit menikmati gelitik angin karenanya, genit. Dia hanya ingin melihat senyuman di matamu dan sedikit binar bibirmu. Kamu tentu  mengerti,  dahannya tak selentur yang ia mau, jika mampu pasti ia mendekap. Tapi urung ia memelukmu, selain tak lentur, ada ulat-ulat kecil yang sedang berjuang menjadi ngengat pada daun-daunnya, tak tega ia mengganggu mereka. Bukan, bukan karenamu dia enggan menjamah tubuhmu. Tidak semua hal di dunia ini selalu berkaitan dengan dirimu, jangan merasa Tuhan tak adil hanya karena suatu hal yang terjadi bukan tentangmu.

Sepasang kenari yang kulepaskan kemarin membuat sarangnya di sana, pada sebuah rumah-rumahan coklat muda. Kupaku disana, pada tubuh tua yang bahkan tak bergetah saat kupukulkan gada diatas paku kecil, menancap tepat pada ketiak dahan terendahnya. Pada saat yang sama daun-daunnya bergesek berisik. Mungkin menahan sakit yang baru terjadi, atau berterima kasih karena memberi sepasang kenari kuning untuk menemaninya. Aku tersenyum, kujawab  perlahan,” Aku hanya memberi dua  kenari itu pilihan hidup. Mereka yang akan menentukannya sendiri, menemanimu, mencari sarang baru, atau berpisah. Aneh bukan? Memang bisa jadi begitu, bisa jadi mereka akan bersamamu dan beranak pinak disini, atau meninggalkanmu, atau bisa juga malah kalian bertiga akan saling meninggalkan. Ya, kalian bertiga, sepasang kenari kuningku dan kamu, pohon beringin tua.  Jalani saja bersama mereka, selama bisa.” Angin lebih kencang bertiup, dahan tertingginya merunduk. Aku paham,  dia mengangguk.

Sesaat aku tertidur di bawahnya, pada satu akar paling besar yang menyatu pada tubuh pohon besar, jika tak bisa kubilang raksasa. Aku tak pernah berani memanjat pohon. Di atas sana kepalaku pusing, aku merasakan rotasi dan revolusi sekaligus. Alasan logis untuk jatuh dan patah kaki. Sepotong daun tergeletak pada kelopak mataku. Kukatakan sepotong, karena angin yang memotong tangkai layunya  hingga dia terjatuh disini, pada mataku. Aneh, menurutku angin tak setajam itu hingga mampu memotong apapun sebenarnya. Tapi sudahlah, kali ini dia berhasil. Daun itu sudah tak lagi menyatu dengan si empunya.

 Sebenarnya aku lebih suka menyebutnya sehelai. Jika imajinasiku benar, maka daun adalah rambut dari sebatang pohon beringin, maka aku menamainya sehelai, bisa saja kamu setuju, bisa juga tidak, yang pasti Si pohon tua ini mengirimnya untuk menemaniku tertidur di bawahnya. Sekedar menjaga kelopakku dari silau matahari. Dia begitu baik, padahal aku belum lama mengenalnya.

Seminggu setelahnya kulihat burung kenari itu tak lagi berdua, Si Jantan pergi. Entahlah, mungkin tergoda oleh burung merpati, atau mungkin juga kutilang. Aku tetap duduk di bawahnya, di bawah rumah coklat muda mereka, menyebarkan biji-bijian. Kemarin, aku menyadari bahwa  ulat-ulat ngengat itu hilang dari daun-daun kecil. Mungkin kenari kuning yang kulepaskan minggu lalu penyebabnya. Sejak itu aku berjanji menebarkan biji-bijian disini, memastikan tidak ada lagi korban selain mereka. “Maafkan aku ulat, kalian tak sempat berada pada akhir yang lebih indah, metamorfosa kalian tak sampai sempurna, sungguh aku yang menanggung dosa ini.”

 Janda kenari kuning itu melihatku. Kusebut  dia  janda, anggap saja  si pejantan itu sudah mati, toh dia juga tak  akan kembali. Dia masih melihatku, mungkin burung kecil ini bertanya kenapa, kupandangi lagi, ”Kadang seseorang menyadari bahwa mereka tidak akan pernah bisa disatukan, kadang mereka sadar bahwa mereka sangat berbeda, tapi beberapa keras kepala. Mungkin Jantan kuning itu bagian dari mereka, para keras kepala. Biarkan saja, aku akan mengunjungimu seminggu sekali.” Dia berkedip, masuk kembali pada rumahnya yang berwarna coklat muda. Sedang aku masih duduk disana, memandang telaga. Kantong bijianku sudah kosong.

Sudah beberapa  bulan aku tak mengunjungi mereka, kenari yang kini sendirian dan pohon beringin tua, semoga mereka baik-baik saja. Ah, jika kukatakan padamu alasanku tidak datang ke tempat ini selama beberapa bulan tentu kamu akan menertawakanku, jadi lebih baik kusimpan sendiri saja alasannya. Lebih penting bagiku mengetahui bahwa hari ini aku bisa kembali kesana, tidak lupa kubawa kantong bijiku. Sebenarnya aku tak begitu berharap burung kenari kecilku itu masih di sana. Bukan salahnya jika tak sanggup menghadapi kesendirian semacam itu.

Entah kenapa  hari ini si tua terasa lebih muram dari biasanya, terlalu banyak daun kering disana. Dahan-dahan besarnya kini terlihat lebih perkasa. Tonjolan-tonjolan kambiumnya yang menggelembung tak lagi tertutupi daun kecil rimbunnya seperti biasa. Begitu sampai, hal yang kuperhatikan pertama kali adalah telaga, tapi tak mengering seperti yang kuduga, jelas bukan kekeringan penyebab rambut pohon tua ini gugur menguning. Jelas saja telaga ini tak mengering, sekarang musim penghujan. Aneh, tak seharusnya pohon sebesar ini meranggas. Kuperkirakan dengan tubuh sebesar ini akarnya pasti tertancap cukup dalam jika hanya untuk  mencari air. Aku kembali duduk di bawahnya, di bawah rumah-rumahan coklat muda yang sama. Saat kutebar biji-bijian seperti biasa, dia tak muncul. Siapa  lagi yang menurutmu sedang kutunggu, tentu saja  kenari kecilku. Mungkin dia  sedang menimba air.

Pikiranku masih berjalan-jalan ke berbagai tempat, memikirkan berbagai hal tentang tempat ini. Tentang alasan pohon beringin tua meranggas pada musim penghujan, juga cara kenari kecil betina yang kesepian itu menimba air. Tak lama, angin menyibak daun kering diantara akar yang melintang, tak jauh dari tempatku duduk sekarang. Ada sebujur kaku tubuh disana. Kepalanya menoleh ke kiri sedang kaki kecilnya seperti ingin hinggap diatas angin, tak berpijak pada apapun. Aku mengenalinya sebagai kenari kuning milikku. Pohon beringin tua berduka, kenari kuning sudah terbujur tak bernyawa. Aku yakin beringin bijaksana ini sudah mengetahui semuanya. Perkiraanku, pohon beringin tua ini juga yang memotong daun-daunnya untuk menutup bujur kaku bulu tanpa ruh itu pada mulanya. Hanya itu yang dapat dia lakukan untuk menutupi mata kenari kuning yang masih basah pada ujungnya, tak tega ia melihat mata itu, masih jelas bekas air mata disana. Pada saat yang sama, tak mampu ia menguburkannya dengan layak. Janda kenari kuning yang ditinggalkan kekasih, mati dalam sepi. Kini, pohon beringin tua kembali sendiri.

Aku melongok ke dalam rumah coklat muda burung kenari yang telah kosong. Disana, bertebaran buah-buah beringin yang telah menghitam, juga tiga helai daun beringin yang mengering. Entah apa yang dipikirkan si betina. Mungkin dia terus menghitung hari sejak kehilangan paruh terkasihnya. Kubiarkan saja ruangan kosong itu seperti sebelumnya.  Di sana, kenangan mereka akan tetap seperti sebelum mereka pergi meninggalkan rumah coklatnya, juga pohon beringin tua.

Pohon beringin ini kembali kesepian. Dan aku mulai berbicara padanya, ”kemarin malam aku bercengkrama dengan seorang putri, dia cantik, sangat baik. Pekerja keras yang tak pernah ku tahu darimana dia mempunyai energi sebanyak itu. Dia bertanya  padaku,  apa ada hal yang ingin kukatakan padanya sebelum mengakhiri percakapan, dan aku terdiam. Prajurit kecil sepertiku terlalu banyak bermain dengan pedang, gada, dan panah. Tak pandai aku berbicara, dan ketika gugup, makin bodohlah otakku ini dibuatnya. Tak lama kemudian dia tertidur dan aku masih saja terdiam. Baru aku sadar, kenapa tak kukatakan saja aku mulai menyayanginya, selesai perkara!!!” Mendengar celotehanku sore itu, pohon beringin tua menerbangkan satu daunnya ke angkasa. Sepertinya  dia ingin mencapai bulan, tapi beberapa saat kemudian rambutnya itu jatuh pada telaga. Aku mengerti, akan kuikuti takdirku. Semoga dia telagaku, bukan bulan yang tak akan sanggup  kurengkuh.
Kenari Kuning
Awalnya  mereka adalah sepasang kenari kuning yang berdiam pada sangkar besar di depan rumah milikku. Aku sendiri tak pernah benar-benar mengetahui apa mereka bahagia. Tapi jika kalian bertanya menurut perkiraanku, kurasa ya, mereka bahagia. Mereka punya persediaan makanan yang cukup, rumah berteduh tanpa atap  bocor di  dalamnya, jerami yang selalu hangat di dalam rumah-rumahan kayu mereka, juga pasangan berwarna sama, apa  lagi yang kamu harapkan dari dunia burung selain itu semua. Setidaknya jika hal itu didapatkan oleh orang sepertiku,  aku sudah cukup  bahagia.

Kenyataannya, tak ada yang benar-benar bebas dalam hidup kita. Kita  dikurung oleh sebuah sangkar yang tak bisa dilihat. Pekerjaan, peraturan-peraturan yang terkadang membuat tangan dan kaki kalian benar-benar ingin melanggarnya, di otakku adalah sangkar kita. Aku hanya berpikir ada satu  hal yang belum pernah mereka rasakan di hidup mereka, sebuah kebebasan.  Mereka tidak pernah memilih akan seperti apa hidup  mereka.

Akhirnya aku menemukan satu hal yang menjadi perbedaan antara aku dan mereka. Aku memilih jalan hidupku, karenanya aku tetap menjalani hidup dan bentuk kurunganku. Karena aku yang memilihnya. Sedangkan mereka hanya mengikuti apa yang kupilihkan sebagai jalannnya.  Lalu kuputuskan untuk memberikan pilihan itu pada mereka. Ya, biarpun pilihan kebebasan itu tetap saja pemberianku. Tapi sudahlah, setidaknya kali ini kubiarkan mereka memilih.

Hari ini aku mengunjungi pohon beringin tua di tepi telaga. Ada sesuatu yang kubawa kali ini, sepasang kenari, sekotak perkakas, dan rumahnya yang berwarna coklat muda. Sepasang kenari yang tampak kebingungan dengan daerah baru mereka. Sejak awal aku datang ke sini,  mereka tampak kebingungan dengan apa yang  mereka lihat. Jika nanti mereka tenggelam, rasanya mereka tak akan bisa selamat. Sayap mereka tak pernah diciptakan untuk berjuang di dalam air. Sekotak perkakas, lebih seperti kantong ajaib milik robot kucing dari masa depan ketika aku berusia tak sampai sepuluh. Ayahku selalu membawanya ketika mainanku rusak dan dia selalu berhasil menyulapnya seperti tidak ada hal yang pernah terjadi pada mainanku. Setelah mengambil peralatan dari kotak itu, semuanya kembali seperti baru. Juga rumah kenari coklat muda. Entahlah, sudah berwarna seperti itu saat pertama kali aku membelinya dari seorang janda.

Kupaku rumah kenari coklat muda pada ketiak pohon yang mampu kugapai. Aku memang  tidak membawa tangga,  juga tak  merencanakan membawanya.  Aku pusing pada ketinggian, lebih terhormat daripada aku mengatakan aku takut, kan? Mulutku berucap, meminta maaf  pada  beringin tua saat kupaksakan besi tajam itu menembus tubuhnya. Tak bergetah, juga tak  bersuara, padahal aku saja menangis saat pertama kali jarum suntik menembus kulitku, yang tentu saja berdarah sedikit setelahnya. Entah dengan apa dia bekap mulutnya, tapi yang pasti tak sedikitpun aku mendengar jeritan darinya. Dia tetap kokoh berdiri di depanku, dan rumah kenari coklat muda itu sudah terpasang di atas sana sekarang.

Pintu sangkar bambu sepasang kenari kuningku sudah terbuka, entah sejak kapan. Aku heran, mereka tidak terbang. Mungkin sudah terbiasa dengan sangkar sempit mereka di rumah. Mereka tak tahu  bahwa angkasa lebih luas dan indah dari yang mereka pikirkan. Terlalu  lama terkurung membuatmu berpikir dunia hanya seluas  sangkar sempitmu, berpikir  bahwa kamu sudah tidak mungkin lagi keluar dari sana. Kuulurkan jari telunjukku dan mereka hinggap di sana sekarang, aku mulai berbicara pada mereka, tak peduli apa sebenarnya mereka mengerti atau tidak. Rasanya bahkan tak satupun dari kata-kataku yang mengambil perhatian mereka. Mereka benar-benar tidak peduli.

“Sekarang tentukan sendiri nasib kalian, tak pantas rasanya aku mengurung kalian pada sangkar  bambu ini.” Kuletakkan mereka satu-satu pada rumah coklat itu kemudian aku berpamitan pada beringin  tua,  hari ini aku tak bisa terlalu lama di  sana.

Si jantan yang pertama keluar dari rumahnya, berjingkat berkeliling. Dia belum menyadari kebebasannya, hanya merasa berada pada sangkar yang lebih besar sekarang. Satu buah beringin jatuh mengenai kepalanya, sebuah sapaan perkenalan hangat dari sebatang (kara) beringin tua. Dia mulai berkicau, memanggil betinanya  untuk menemaninya,

“Sayang, keluarlah dan lihat sangkar baru kita. Sangkar ini lebih bagus dari rumah kita sebelumnya,  jerujinya mahal agaknya, kasat mata.” Kicaunya sambil terus  berjingkat.

 Sedang si betina masih tak peduli. Terlalu lelah ia tak tidur semalaman, kemarin hari Kamis. Ditambah perjalanan panjang yang harus dilalui tadi, kepalanya benar-benar pusing sekarang. Ulat-ulat ngengat memandang kenari jantan itu sambil terus mengunyah daun, tak begitu peduli mereka pada kehadiran penghuni baru di pohon mereka. Mereka terlalu sibuk makan, tiga hari lagi mereka harus sudah menjadi kepompong.

Sudah tiga malam dan empat sore sejak kubebaskan mereka disana, mereka berdua sudah berkenalan dengan beringin tua, telaga, juga dengan ulat-ulat ngengat yang tak berhenti mengunyah. Besok ulat-ulat kecil itu akan mulai menenun kepompong kerasnya. Sedang sepasang kenariku, masih sibuk mengumpulkan rumput untuk penghangat  rumah mereka. Daun-daun beringin yang kuletakkan dalam rumah mereka basah ternyata, bukan alas yang nyaman untuk menghadapi musim hujan yang dingin seperti sekarang. Sudah banyak cerita yang mereka dengar di sana, tentang cita-cita besar para ulat yang ingin segera menjadi ngengat, tentang telaga yang tak pernah berbohong, juga tentang beringin dan sejoli-sejoli yang  pernah singgah disana. Kudengar salah satu dari sejoli itu segera menikah setelah si perempuan mengandung, beberapa lainnya pergi pada dukun jahat untuk memotong-motong tubuh yang belum genap sembilan bulan.

Pada hari keempat, delapan ekor kutilang singgah pada tepian telaga. Mungkin hanya sebuah kebetulan saat mereka hinggap pada beringin tua. Suami istri kenari menyambut mereka dengan sangat ramah, tak setiap hari mereka kedatangan tamu. Mereka berdua berkicau bersahutan, selayaknya kenari, dan para kutilang acuh. Mereka lapar dan tidak tertarik pada buah beringin yang berwarna merah itu, sesaat kemudian mereka mulai memakan ulat-ulat ngengat, satu-satu. Bukan kebiasaan kutilang makan ulat, bukan untuk makanan seperti itu paruh mereka diciptakan Tuhan. Entah kenapa ulat-ulat itu juga tidak berteriak, pun tak berlari menjauh, tetap saja makan. Seakan menunggu kematian yang sudah mereka perkirakan.

Kenari  jantan mengamuk, teringat cita-cita tinggi para ulat ngengat.  Mimpi yang akan segera mereka kejar esok pagi, satu persatu kehilangan kesempatannya masing-masing, oleh kematian. Entah darimana keberanian itu datang, kenari  jantan mulai mematuk, menyerang para kutilang. Dia sendirian, terlalu kecil bagi enam kutilang kelaparan. Tak butuh waktu lama bagi kenari jantan itu untuk mengakui kekalahannya. Pertengkaran yang tak seimban. Jantan itu mati, dan terjatuh menyatu dalam telaga. Tujuh ekor lele gesit menyambarnya, dia tenggelam, tak mengambang seperti jasad kebanyakan. Hilang sudah cita-cita para ulat ulat ngengat, juga nyawa seekor  kenari,  yang baru menikmati sebuah kebebasan baru empat hari.

Apa kalian menyadari ada dua ekor kutilang yang tak ikut dalam pembantaian sadis itu? Dua ekor kutilang yang menghilang itu adalah sepasang suami istri, mereka lebih memilih lapar dan saling bercerita di balik batu pada sisi lain telaga. Bagus bagi mereka, setidaknya mereka tidak ikut menanggung kutuk dari paruh kenari betina milikku.

Hari keenam saat aku kembali kesana, aku sudah melihat si betina sendirian. Dia memandangku, mengatakan bahwa kekasihnya mati menjadi pahlawan. Dia tahu aku tak mengerti, juga salah mengartikan  apa  yang dia  sampaikan. Menyerah, kenari  betinaku  kembali masuk ke sarangnya dan menangis. Sesekali dia  mengintip  keluar, melihatku duduk di bawah rumahnya sambil melempar biji-bijian dari kantong plastik berwarna  hitam. Lalu dia  kembali  meringkuk,  menangis  hingga tertidur.

Semut-semut hitam mengangkut biji-bijian yang kutebarkan kemarin. Persembahan untuk ratu mereka yang tak berhenti bertelur sejak  sebulan yang lalu. Bukan pekerjaan berat untuk  mereka,  jumlah mereka jauh lebih banyak dari jumlah biji yang kusebarkan dan juga mereka tak memerlukan ijinku untuk memungutnya, toh aku  juga  tak  mengetahui siapa  yang pada akhirnya memakan biji-biji itu. Tentu saja setelah kutebarkan kemarin, alam memilikinya, tak jadi masalah perut mana yang kenyang karenanya.

Kenari kuning betinaku masih meringkuk di dalam rumah coklat  muda yang kubuatkan untuknya, dia sudah tak ingin lagi melihat dunia. Pohon  beringin menemaninya, sesekali melemparkan buahnya  ke  dalam rumah coklat muda, tak satupun tersentuh oleh paruh sang  betina yang mulai  berlumut.

Pada hari ke sembilan puluh tiga,  kenari betina  keluar dari rumahnya dengan tubuh lemah, terjatuh pada celah akar beringin tua. Regang sudah sebuah nyawa bersama air mata terakhir yang sempat menetes dari mata kecilnya. Hari itu seluruh semesta tepi telaga berduka, seluruh mulut ikan terkatup, tak satupun dari mereka mau menyangkutkan bibir mereka pada kail nelayan tua yang sudah empat puluh lima tahun mengail di sana.  Sepertinya malam ini cucunya harus bersantap daun singkong lagi, seluruh hewan masuk pada sarangnya. Telaga sepi sehari, berduka atas kematian seekor betina dengan kesetiaannya.  Bahkan, masih tersisa bekas air mata disana,  pada sudut mata kenari yang masih terbuka.

Hari berduka tak  hanya sehari bagi pohon beringin tua, mulai hari itu dia berhenti menghisap hara dari akarnya, berusaha meranggas  tidak pada  waktunya. Sudah dua  hari ini ia terus melihat mata  kenari betina yang masih terbuka. Kesedihan apa yang lebih perih dari kesendirian bersama jasad yang mati dalam kesepian. Dia bersumpah, seperti Patih Pembesar Majapahit, Gajahmada yang bersumpah palapa untuk menyatukan Indonesia kuno, juga Drupadi yang tak akan memotong rambutnya sebelum para kurawa mati. Sumpah yang tak  main-main kurasa, akarnya akan berhenti menghisap hara hingga anak kecil yang datang membawa kantong plastik bijian mengunjunginya lagi, dan menguburkan jasad kenari betina itu sebagaimana mestinya. Anak kecil yang sama, yang meletakkan rumah coklat muda dan sepasang kenari itu untuk menemaninya. Anak yang sama, yang memberikan kebahagiaan sesaat untuknya, dengan duka  yang lebih panjang setelahnya. Usia anak itu dua puluhan tahun, yang dia yakin tak akan sampai pada usia  sepertinya, -karena itu dia menyebutnya  anak kecil-. Usahanya mulai berbuah. Bukan, aku tak sedang membicarakan tentang pohon yang berbuah, ini tentang sumpah beringin tua untuk meranggas. Daunnya mengering dan lepas satu-satu, dibiarkannya menutupi  raga kaku kenari betina. Hanya itu yang sanggup  dilakukannya saat ia tak sanggup menguburkan jasad kesepian itu dengan layak.

Tepat pada hari ke seratus, seminggu setelah hari duka  itu, aku datang. Tanpa tahu apa yang terjadi, melakukan semuanya seperti biasa. Berdiri di  bawah rumah burung coklat muda yang kupaku seratus hari yang lalu, menebarkan biji-bijian dari kantong plastik hitamku, dan duduk di tepi telaga. Semut-semut sudah mengintip dari kerajaan mereka di bawah akar beringin, menungguku pergi untuk kembali memungut biji. Sedang aku masih menunggu burung kenari kecilku turun kemari, menemaniku menghabiskan hari.

Angin datang kencang, kesal padaku yang tak  juga  menyadari ada jasad  yang masih tertimbun daun kering di dekatku. Iba pada beringin tua yang masih belum berhenti berpuasa, juga menangis mengingat kisah duka kenari betina. Dia terbangkan semua daun kering yang menjadi kasur empuk di bawah batang beringin tua  yang hampir tak berdaun, memperlihatkan jasad yang masih terbujur kaku disana. Mencoba menikamku dengan hembusan kuat, lebih seperti mencoba membunuhku kurasa. Tapi sia-sia, angin danau tidak diciptakan mematikan seperti kerabatnya  topan, atau puting beliung, dia jenis yang berbeda pada kerajaan angin, seperti membandingkan singa dengan kucing persia.

Kupejamkan mata menikmati angin kencang yang menerpa wajahku, lalu bersandar pada batang beringin tua botak, bersiap untuk tidur. Angin kencang di tempat seperti ini bukan hal yang aneh menurutku, dan ini benar-benar memanjakan. Kamu tentu akan mencintai tempat ini sama sepertiku, telaga yang sejuk, pohon beringin rimbun (walaupun sekarang dia lebih seperti seorang penderita kanker), berisik kicauan burung jantan yang sedang merayu betina, tempat  ini benar-benar damai.

Beringin tua menjatuhkan buahnya berkali-kali, sengaja membuatnya mengenaiku. Mencoba mencuri perhatianku untuk melihat jasad yang sudah tak lagi tertutup daun-daun yang dia korbankan. Kali ini dia berhasil, aku melihat jasad itu. Tentu saja aku terdiam, mengenai perasaanku saat itu, antara marah, sedih dan menyesal memberikan mereka pilihan hidup. Si Jantan dengan sangat bodohnya memilih meninggalkan betina kecilku, dan paruh kuning betina ini dengan sangat bodoh memilih untuk mati. Kesedihanku lebih besar dari amarah dan penyesalanku, kini aku ikut  berduka bersama  seluruh penghuni telaga.

Kuucapkan maaf sekali lagi pada beringin tua, setidaknya dengan yang satu  ini sudah dua kali aku melukainya. Pertama  saat kupaku rumah coklat muda itu, dan sekarang saat aku mencoba mematahkan ranting terendahnya. Semoga ini ranting yang mengering, hingga aku tak cukup menyakiti beringin tua  yang tak pernah aku tau bahwa saat itu dia berpuasa. Dengan ranting itu aku menguburkan kenari kuning betina  yang kuduga mati karena kesepian. Setelah terkubur, kutancapkan ranting itu di atas pusaranya, sekedar tanda jika suatu saat aku ingin mengunjunginya.
Telaga
Aku  baru mengenalnya. Tiga puluh hari lalu, saat pertama kali aku datang mengunjunginya. Setiap akhir pekan sekitar pukul tiga sore aku datang dan duduk di bawah sahabatnya, sebatang pohon beringin tua. Entah kenapa aku merasa pohon beringin tua ini yang paling bersahabat menerimaku di telaga ini, bukan pohon trembesi 300 meter di seberang telaga, apalagi lapangan ilalang sebelah kanannya. Aku tak menyukai keduanya. Pohon trembesi seperti tak suka aku duduk  di  bawahnya. Selalu saja dia menjatuhkan bunga-bunga kuningnya seperti ingin mengusirku lekas-lekas. Lebih-lebih sekawanan ilalang, mereka lebih bersahabat pada sepasangan kekasih yang akan menjalankan pernikahan dan berfoto di antara mereka, daripada aku yang hanya duduk dan tak melakukan apa-apa. Lagipula kawanan ilalang itu terlalu genit, mereka membuatku gatal.

Aku mengenal kakek beringin tua dan nenek telaga ini dari seorang gadis kesepian. Ah ya, mereka lebih seperti sepasang kekasih abadi daripada sepasang sahabat menurutku. Beringin tua yang kokoh kaku dan bijaksana, telaga yang begitu sejuk dan ramah, juga tak pernah berbohong padamu. Mengingatkan pada kakek nenek di kampung ayahku. Gadis kesepian yang mengenalkanku pada mereka tak pernah lagi datang berkunjung kemari. Leukimia melemahkan tubuhnya. Seolah menyerahkan tongkat kekuasaannya padaku sebelum tak lagi mampu ia membuka matanya. Aku sendiri berdoa dia tak menyerah  pada cobaan itu, dia gadis baik menurutku. Dia mengenalkanku pada telaga dan beringin tua, saat menyadari aku merasakan kesepian yang sama.

Seperti yang kukatakan padamu, telaga ini tak pernah berbohong. Seluruh isi telaga dapat kamu lihat tanpa satupun yang disembunyikan di dalamnya, sepenuhnya dia berikan. Ya, telaga itu  juga benar-benar berikan, telaga dan ikan memang hampir tak bisa dipisahkan. Entah apa rahasianya, satu  hal  yang  membuatku begitu mencintai telaga ini, kamu bisa melihat seluruh semesta telaga tanpa menggunakan alat bantu apapun. Aku tak  memintamu mengamini apa  yang kupikirkan, tapi bagiku telaga ini adalah hal paling jujur yang pernah dibangun manusia. Bahkan rumah tangga tak bisa dibangun sejujur ini, tentu saja setiap pasangan suami sitri berusaha melakukannya, tapi aku belum melihat yang benar-benar bisa. Tanyakan apa  saja tentang dirinya, dan dia  tak akan berdusta, kamu akan mendapatkan jawabannya bahkan sebelum dia menjawabmu.

Sore pertama saat aku berkenalan dengannya, aku duduk di bawah beringin tua, mengambil beberapa batu pipih dan melemparkannya ke dasar telaga. Batu itu meloncat dua tiga kali di permukaan telaga, lalu menyelam. Entah batu itu sedang riang, adikku yang sedang gembira selalu melompat-lompat seperti kelinci,  atau mungkin sedang tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.  Air memercik ke atas membentuk gelombang bulat dengan tempat terjunnya batu ke dasar telaga sebagai pusatnya. Aku senang memandang telaga, dia seperti ingin mengatakan sesuatu padaku. Atau mungkin dia yang sedang memandangiku, juga sebenarnya aku  yang ingin mengatakan semua isi otakku padanya, entahlah.

Setiap sore, seorang nelayan tua yang berlayar dengan perahu kecilnya. Perahu berdayung, bukan perahu mesin berasap, dia satu-satunya nelayan yang diijinkan mengail di sini. Aku sendiri belum mengetahui namanya, kurasa ia  juga tak akan mendengar teriakanku dari sini saat dia berada di tengah telaga sana. Ya dia mengail, bukan menjala atau  menggunakan potas. Padahal dengan bening airnya, akan sangat mudah baginya untuk menjala. Ikan disini tidak pernah bersembunyi, mereka cukup paham bahwa tak ada tempat untuk bersembunyi di telaga ini, telaga ini terlalu jujur untuk menyembunyikan mereka.

Kepercayaan yang diamini oleh nelayan tua ini juga sederhana dan luar biasa. Alam menyediakan semua yang diperlukan manusia untuk melanjutkan hidup, dan dengan kemurahan yang diberikan Tuhan kepadanya,  rasanya  tak bijak untuk mengambil berlebihan dan merusaknya. Maka dia mengambil ikan-ikan telaga ini hanya untuk menyambung hidup, dalam arti sebenarnya, dia hanya mengambil  secukupnya untuk disantap sebagai makan malam, untuknya dan seorang cucu semata wayang tercintanya. Tak pernah dia  berpikiran untuk  menjual  seisi telaga ini. Bagi seorang nelayan tua sepertinya, telaga ini temannya, lebih dari sekedar teman lama atau teman sedari kecil. Hati manusia baik hati mana yang tega memeras temannya  sendiri?

Sosoknya (nelayan tua itu) seakan membuktikan padaku, bahwa hidup ini sebenarnya tak butuh uang, pendidikan yang membutuhkannya. Oleh sebab itu dia bekerja pada peternakan ayam di ujung desa setiap pagi untuk menyekolahkan cucunya. Tak sepeserpun dia menikmati uang itu. Dia hanya makan dari telaga ini, dan pohon singkong yang ditanam sendiri di tepi telaga. Bibitnya ia dapat dari batang-batang singkong yang dibuang petani di ujung bukit, pun masih memohon ijin untuk memilikinya.

Telaga itu disana, memandang saat kenari jantan berjuang demi teman-teman barunya. Dia juga disana saat kenari yang sama terkapar dan jatuh kepadanya. Tak seorangpun tau, telaga juga yang meminta tujuh ekor lele menyambar jasad tak bernyawa, tak cukup tega ia  melihat si betina semakin bersedih melihat jasad kekasihnya yang tersisa. Ya, terkadang kenangan pahit lebih baik habis tak bersisa daripada menyisakan sedikit serpihan yang bisa membuatnya makin terluka. Tapi aku kesal padanya, pada telaga, dia tak menceritakan itu semua padaku, tak menceritakan apapun. Salahku juga yang tak menanyakan apapun kepadanya. Satu lagi keahliannya yang akhirnya aku tahu, dia penyimpan rahasia terbaik di dunia.

Pada hari yang sama saat seluruh penghuni telaga berduka, dia sudah berulangkali membujuk ikan-ikan agar menyerahkan diri mereka pada nelayan tua. Tak tega ia  membayangkan nelayan tua dan cucunya hanya makan daun singkong rebus dan nasi beras miskin -yang menjadi bayarannya karena menjaga telaga ini-. Setiap makhluk punya hak untuk memastikan nasibnya sendiri dan para ikan tetap pada pendirian mereka untuk menyepi barang sehari. Memang begitu perjanjian dari setiap penghuni telaga  ini, masing-masing mereka harus menghargai setiap keputusan penghuni yang lainnya. Telaga menyerah, besok dia akan memaksa para ikan untuk menyerahkan keluarga mereka lebih banyak pada nelayan tua. Meskipun telaga tau, nelayan tua  itu akan berhenti mengail saat telah mendapatkan barang tiga empat ekor. Setidaknya nelayan tua itu bisa pulang lebih cepat, untuk beristirahat. Biarlah hari ini nelayan tua  itu berpuasa, terpaksa ikut  berduka, pada hari kematian jantan kenari kuning, sang penghuni baru telaga.

Pohon beringin tua menjatuhkan daunnya pada telaga, saat aku bercerita tentang gadis  cantik yang kutelepon kemarin malam. Rupanya telaga bening ini menguping pembicaraan kami, aku juga tak  terlalu mempermasalahkannya, pun demikian dengan beringin tua. Bijak kokoh ini percaya bahwa telaga tak akan membocorkan apapun, juga pada siapapun. Telaga merekam semuanya dan akan tetap tersimpan disana, pada setiap bulir air di dalamnya. Daun itu masih mengambang hingga malam, dan masih saja memandang bulan,

” Aku ingin pergi ke dasar telaga, tak sanggup aku terus melihat pujaan hatiku di atas sana.” Kata daun memohon pada telaga.

“Suatu saat kamu akan berada di sana, dan akan menyesal karena telah menginginkannya,” jawab telaga. Bulir airnya mendinginkan hati daun kecil yang memupus asa, tentang mimpinya bersanding dengan bulan purnama.

Hari ke seratus satu setelah kejadian itu, daun kecil  itu benar-benar mencapai dasar telaga. Bukan benar-benar dasar telaga sebenarnya, pagi harinya saja daun itu tak  lagi berada di tengah telaga. Dia sudah berada di tepian telaga bersama beberapa batu, juga seekor kura-kura saat dia terbangun. Telaga itu mengering, jebol saat hujan datang terlalu lama seminggu itu. Ikan-ikan hanyut terkapar di atap rumah penduduk yang memang lebih rendah darinya. Kukatakan saja seluruh tanah itu kini dasar telaga, toh tak ada bedanya sekarang, bagaimana kamu mengartikan dasar untuk  telaga  tak berair?

Nasib nelayan tua? Nelayan tua itu kini kehilangan tempatnya mencari makan, pohon singkong yang dia tanam pun setengah menguning sekarang, tak sesubur saat telaga membantu dengan segala upayanya. Tidak, nelayan tua itu hanya termenung, bukan meratap seperti yang kamu kira. Meratap hanya akan menghilangkan harap, dia merenungi  telaga itu, untuknya, juga untuk cucunya -yang tak juga paham arti belaian tangan keriput kakeknya pada rambutnya, atau genggaman erat dan ciuman pada keningnya-. Bisa kupahami memang, anak sekecil itu tidak mempunyai banyak pengalaman tentang kenangan, juga kehilangan. Sedang aku kehilangan tiga sahabat yang baru kukenal  belum setahun ini, telaga dengan semua rekaman ceritaku pada tiap-tiap bulirnya dan sepasang kenari  kuning dengan pilihan kebebasannya. Kini tak ada lagi alasanku mengunjugi beringin tua, sepertinya dia kehilangan lebih banyak dariku. Pohon sebatang kara itu kehilangan nenek telaga, dan sepasang kenari kuning yang sama,  juga  seorang teman yang baru dikenalnya,  belum setahun.
 Catatan: cerpen ini hanya perbaikan dari cerpen berjudul sama yang saya buat pada tahun 2013. Tulisan saya dulu berantakan sekali, setidaknya yang satu ini jadi berantakan saja:)
Twitter Bird Gadget