Seorang lelaki dengan bekas luka yang tak pernah bisa kamu lihat dengan mata,
kembali tersenyum setelah lama berduka atas sebuah kekalahan dari bayangannnya sendiri, bangkit atas kematian yang tak membunuhnya baru sekali,
mendaki jengkal setelah jungkal sekali mengitari matahari,
semua teman-temannya berkata bahwa seseorang di luar sana tercipta untuknya, hampir semuanya sedang bahagia,dan tak ada celah baginya untuk begitu saja percaya,
fakta tak pernah sekalipun di dapat dari kata-kata, kali ini dia mencoba mencari kebenaran serangkaian kata hiburan teman-temannya,mencari cara menemukan satu cela diantara milyaran sempurna,
sebuah cara dicoba, jari-jarinya mengetikkan alamat blog miliknya,dan mulai menulis,blog yang bahkan hanya dikunjungi beberapa pengangguran sekenanya,
dan ia mulai membuat 20 daftar pertanyaan untuk siapapun yang membacanya,setidaknya blog miliknya bisa di akses oleh seluruh dunia,biarpun bisa memiliki definisi yang sangat berbeda dengan [asti,,blog miliknya tidak mendunia,tentu saja,
sudahlah,baca saja,
Kepadamu entah siapa disana,
setidaknya dengan ini aku mengenal kamu yang mungkin tak pernah sekalipun aku tau,sebentar saja berikan kunci matamu agar kucuri perhatianmu dengan santun,jawab saja sesukamu, mungkin kamu bisa ajak teman-temanmu,sesukamu,siapa saja mereka,
tenang saja,ini bukan wawancara kerja,bahkan aku tidak akan mampu menggajimu kalau kamu bisa menjawab semuanya sekalipun,
1. Seorang pengganggu yang selalu mengikutimu,atau seorang teman yang tak pernah ada?
2. Sebutkan saja jumlah waktu yang kamu habiskan untuk, a.)saling menatap mata, b.)berpikir mengenai dirimu sendiri dan menertawakannya lain kali, c)meneguk kopi dan menarik nafas
3. Kecupan di kening,atau belaian pada rambutmu yang entah lurus panjang,ikal,berponi,atau entahlah bagaimana?
4.apakah kamu bertanya siapa aku?
5.Mana yang paling kamu rindukan?kecupan di kening,mencium punggung tangan, atau jari-jari yang memijat kepalamu saat mandi?
6. piano atau biola?
8. Pengemis renta atau pengamen kecil?
9. Berenang dan tenggelam,atau berlari dan patah kaki?
10. ......
11. kamu atau aku?
12. Logaritma atau gerak parabola?
13. Membenci seseorang yang kamu sayang,atau dibenci orang yang kamu sayang?
14. Seberapa sering kamu menuliskan "aku merindukanmu?"
15. Pertanyaan ke lima belas, ingin kutanyakan sekarang,atau nanti saat aku berjabat malu-malu?
16.Lumba-lumba berkulit licin,atau kucing persia yang membuatku bersin tapi tak pernah berhenti menggendongnya?
17. apa yang kamu pikirkan tentang no 10?
18. Bagaimana caramu memaafkan seseorang?menggeleng, mengangguk,menatap,atau meratap?
19. Berapa besar ruang yang kamu sisakan untuk masing-masing orang yang pernah kamu maafkan?
20. Jika aku memintamu mencari sesuatu tentang nomer tujuh,kemana kamu akan mencarinya?
hingga saat ini dia melihat tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan-pertanyaannya, dan tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
13.12 11 September 2013
Cahya Bagus Mandalukita
Showing posts with label moment. Show all posts
Showing posts with label moment. Show all posts
Tuesday, September 10, 2013
Tuesday, July 30, 2013
Malaria, Hujan, dan Malam
Aku bosan menuliskan hal-hal romantis,
kadang, karenanya otakku berkata aku bajingan melankolis, seperti seorang kekar penuh goresan hasil sayatan pisau pada pelipis dan pipinya. Otot-otot steroid yang menggembung berurat pada lengannya. Hanya saja dengan tatto cupid merah jambu.
Seperti malam ini, hujan lebih deras dari biasanya. Mungkin parasit malaria sedang berpesta, yang jelas onggokan daging ini terasa beku. Setauku beku membuat daging lebih tahan lama.Walaupun otak bebalku belum menemukan teori yang pas, apakah hal yang sama berlaku juga pada serakan tulang belulang yang bernyawa.
Jari-jari kaki bergerak menggigil, dingin. hilir darah dengan sumber yang mulai mengering, aliran yang sama menyerbu muara yang kalian sebut jantung. Aku sendiri lebih suka menyebutnya hati, karena disana berdetak lebih kencang saat memenatapmu, bahkan hanya dengan gambar dirimu. Aku percaya degupan itu terjadi karena diletakkannya perihal yang Tuhan sebut cinta. Pada imajinasiku letak cinta adalah hati bukan jantung. atau mungkin mereka hal yang sama yang kita sebutkan dengan cara yang berbeda. Bagaimana jika kita sepakati saja menyebutnya jantung hati? Tapi jika kamu adalah jantung hatiku, apakah berarti kamu juga muara aliran darahku?
Mataku tak juga terpejam, hari ini Senin,02.00 WIT. Aku tidak sedang memikirkanmu, jadi jangan terlalu senang dulu. Entah apa yang membuat adrenalinku ini meningkat tanpa sedikitpun kafein yang kutelan seharian ini, mesencephalon pada otakku melarang mataku terpejam. Lalu aku mulai menulis. Saat aku menuliskan "aku tidak memikirkanmu", saat yang sama bagian belakang dari sulkus entralis memerintahkan anterior lobus frontalis untuk memikirkanmu. Aku benci keadaan seperti ini. Pagi ini, pegawai rendahan sepertiku harus berangkat bekerja, dan tidak mungkin menyalahkanmu jika aku terlambat nanti. "Terjaga karena memikirkanmu semalaman" bukan salah satu pasal dalam undang-undang pengampunan yang diterima bos besarku untuk keterlambatan pegawai baru sepertiku. Ah sudahlah, toh nyatanya pagi ini aku terlambat, sekian menit saja.
Ingin rasanya sekali saja dalam satu kali dua puluh empat jam ini tak seorangpun yang kuhubungi, ada sesuatu yang membutuhkan waktu untuk berpikir tentang dirinya sendiri. Keegoisan yang membuatmu terhindar dari keangkuhan. Kesendirian menyadarkanmu bahwa memang sendi-sendimu masih nyaman dengan kesendirian. Kemarin otakku mengatakan hal yang aneh,
"Tidak cukupkah hukuman yang aku terima dengan kehilanganmu, hingga kamu masih menghukumku dengan kebencianmu?"
Dengan jari-jari ini, otakku lebih fasih berbahasa daripada lidah penuh ludah. Banyak hati yang tersayat karena racun dari madah yang keluar bersama kata. Tapi disini, aku menuliskan banyak hal tanpa menuliskan tentang siapa, tentang apa. Kubiarkan saja otak-otak cerdas kalian menerka kata-kata. Harapanku sebenarnya sederhana, bertanyalah padaku tentang buangan jariku. Lalu aku akan menanyakan banyak hal tentangmu, sekedar lebih mengenalmu. Nanti saja, suweda yang menggigil bukan gegaman yang pas untuk menuliskan banyak perihal, mereka sedang sebeku otakku.
Selamat malam, parasit malaria, bulir hujan, juga kamu..
Cahya Bagus Mandalukita