Friday, April 25, 2014

Surat Air Laut




Kuputuskan menulis surat pendek ini dan melipatnya menjadi sebuah pesawat kertas. Jika aku menjadi cukup sabar, akan lebih baik jika kularung saja surat ini kepada laut, melipatnya menjadi sebuah perahu. Entah, sebenarnya aku juga sudah lama sadar bahwa laut lebih romantis. Kubayangkan kamu akan menerima surat ini dan membuka lipatan-lipatannya seperti membuka pintu bahtera Nabi Nuh. Dari dalamnya keluar rindu dan harapan berpasang-pasangan yang membisikkan sebesar apa aku mencintaimu. Tapi kurasa tidak bisa. Sayang, aku bukan seorang yang cukup sabar. Dari tempatku berdiri sekarang menuju tempatmu berbaring telungkup saat membaca surat ini jaraknya sangat jauh, terlalu jauh. Lagipula, kurasa kertas terlalu mencintai air. Mereka tak boleh terlalu lama bercengkrama. Aku takut pada perjalanannya kertasku tak mau menuju padamu. Aku takut dia lebih memilih untuk bersatu dengan kekasihnya, air laut. Jika sudah begitu maka sepertinya aku akan lebih dari sekedar kecewa

            Jujur saja kukatakan padamu, aku tak berharap terlalu banyak tentang kesanmu saat membaca surat ini. Bahkan pada pikiranku, pesawat kertas ini akan jauh dari kondisi sempurna saat sampai di tanganmu. Bisa jadi ekornya akan terbakar oleh senjata kilat Zeus, atau sobek sedikit pada sayapnya karena angin sisa-sisa jejak Si Hermes saat lari Entah dari kejaran apa, mungkin dari Athena karena mencuri panahnya, atau dari waktu yang semakin menipis saat dia mengantarkan surat cinta Herakles untuk kekasihnya di Gunung Olimpus, Hebe. Harapanku hanya satu, semoga kata-kata di dalamnya masih bisa kamu nikmati selagi hangat.

Kamu tentu tau, setiap harapan digenggam oleh pengagum bernama kekhawatiran. Pengagum yang selalu membalur harapan dengan rapat, seperti remah roti renyah pada tempura kegemaranku. Iya, aku mengkhawatirkan kegigihan kekasih pesawat kertasku, air laut. Dia berjuang mati-matian untuk mengunjungi suratku. Kukira sudah cukup jauh aku memisahkan mereka. Tapi air laut ternyata memohon pada Matahari untuk membantu menyapa kertas terkasihnya. Aku heran darimana cinta yang seperti itu datang hingga syarat berat dari Matahari dianggukkan oleh air laut. Matahari bersedia mengangkat air laut menjadi awan untuk bertemu dengan pesawat kertasku, tapi pada pandangan mereka yang pertama, air laut akan jatuh menjadi hujan. Tak cukup, setelahnya Matahari akan menciptakan pelangi yang begitu indah, lalu setelah itu air laut akan kembali dilupakan.

Aku ingat kamu sempat begitu jatuh cinta pada perahu kertas. Sempat milikku hanya sebuah video kamu dan jari-jarimu memainkan lagu dengan judul yang sama dengan sesuatu yang sempat sangat kamu cintai tadi. Saat itu tak kutahu alasannya kenapa kamu bisa jatuh cinta. Bau air laut pada pesawat kertasku pasti membuatmu kembali mengingat perahu kertasmu. Kurasa kamu tidak perlu mengirimkan surat balasan untuk surat jelek yang kukirimkan ini. Kumohon nyanyikan saja lagu perahu kertas itu dengan iringan piano milikmu. Selain untukku, aku ingin menyampaikan penghormatanku atas pelajaran cinta dari air laut. Angin yang membawa pesawat kertasku padamu juga sudah bersedia membantuku mengantarkan lirih nada lagu itu untuk air laut. Bersediakah kamu?

Akumu

Saya membuat surat ini setelah membaca sebuah surat lama saat blogwalking. Surat itu sudah dibuat tahun 2011, surat itu bisa dibaca di sini.
 


Wednesday, April 23, 2014

Aku sedang Suka Melakukan Ini

Aku sedang suka merapi-rapikan isi ruangan blog ini. Aku membaca semua tulisanku yang dulu. Dan aku sadar, hanya anak muda yang waktu itu saja yang mengerti, lelaki tua yang sekarang ini tak lagi mengerti apa yang sempat diucapkannya beberapa tahun ke belakang. Aku sendiri tak pernah tahu apa mata-mata lain yang membaca ruangan ini bisa ikut mengerti. Tapi setidaknya dengan kurapikan, aku lebih suka berlama-lama di ruangan kosong ini.  ini Beberapa tulisan yang saya rapihkan.



1. #CANDURINDU 


Kamar ini sepi dan dingin, hanya ada laba-laba pada sudut meja menenun jala, dan cicak yang sedari tadi hanya mematung, mungkin bersedih kehilangan cinta.

Nyatanya cicak itu bukan sedang patah hati, dia hanya menunggu merenggut sebuah nyawa, jala itu tak lagi berguna. Tak ada lagi denyut disana, memang perihal makan memakan ini tak berdosa. Laba-laba itu tersisa kenangan, pun seekor nyamuk singgah sia-sia. Mati perlahan dalam kesepian. Reptil kecil itu bak buaya, berjalan pelan, kembali pada peraduan di balik kaca, kamar ini kembali sepi.

Kaca di depanku retak sedikit, tapi cukup jelas terbesit  memantulkan kisah,dimana ada kamu, dalam kepalaku meringkuk malu. Aku masuk ke sana, menemuimu. Kupilih kartu nasibku, dan terjebak disana bersamamu.

Di luar hujan, berbisik berisik. Mereka ahlinya, meramu bumbu pada rindu, mengelitik air mata, menciptakan pelukan pertemuan. Dan kini aku benci, mereka terus merintik turun berpasangan, menertawai aku yang sendiri. Tak adil, andai ada kamu, kuajak kamu keluar, melawan hujan.

Sepertinya nyali mereka mulai ciut saat namamu kusebut. Hujan habis tiga-dua-satu, langit sebentar lagi biru, hujan malu bisu. Dengki pada pelangi, yang datang dan mereka tidak diingat lagi. Angkasa dan pelangi senja, sama indah. Hanya saja bianglala lebih berwarna. Tapi mereka aneh. Keduanya cemburu pada matamu.

Aku bersandar, melihat sebuah gambar bergerak. Tertegun kunikmati jemarimu yang sedang menari pada tuts hitam putih. Berdansa, mereka tak bersuara, hanya nada menyampaikan rasa. Baru kusadari, jemarimu lentik, cantik.

Kugadaikan diamku, hanya demi mengatakan kau cantik. Ingat-ingat ini, kututurkan sekali, selebihnya akan kubisikkan, dengan bahasa yang hanya bisa dinikmati oleh mulut dan telinga kita. Kamu cantik.

Senja yang indah, matahari memerah lelah. Kamu bernyanyi, terdengar dari sini. Angin yang membawanya begitu lirih. Lidah buaya berbunga, merunduk turun. Mengikuti angin yang sama mengalun.

Kamu, bukan anugerah. Kamu bencana, menyiksa dengan indah. Dicinta dalam pejam, disayang dalam diam. Sebuah pengecualian, yang sempat diciptakan.

17 February 2013



Cahya Bagus Mandalukita


2. DOH!!!


Kerajaan kecil ini busuk, berisi menteri-menteri mabuk. Memikirkan raja dalihnya, tapi para prajurit terus dicambuk. Kalian lihat saja pada saatnya mereka mengamuk dan kalian para sapi gemuk,akan terbantai remuk.

Mereka memegang pena ajaib, menentukan nasib. Gaib, mereka membuat jiwa para prajurit kelas satu ini menciut, menjadi anjing-anjing penjilat remah roti, 
”Hari ini kau pergi, besok kau mati!!” kata mereka tertawa, melempar bola tenis penuh liur, dan para anjing ini berlari mengejar secepatnya, itu saja kerja mereka.

Aneh, para koki diberi baju baja. Lucu, perut buncit mereka kemana-mana. Dan para jenderal tak lagi bersenjata, mereka di beri gitar, dan mulai bernyanyi mengganggu telinga. Tentu saja buruk, dan mereka dibuang setelahnya. Satu-satu.

Ada sekelompok anak muda, mereka mendaftar menjadi prajurit kerajaan. Mereka diterima, lalu ditanya, "suruh siapa masuk kemari!!" kata para mayor tertawa. Beberapa tahun lagi mungkin anak muda ini melakukan hal yang sama, meludah dan mencaci para muda, Duh!

Agaknya kerajaan kecil ini dibuat ketika bercanda. Lawak, berlomba berlagak, berkata mereka yang paling berjasa, sudah banyak bekerja, dan melempar senjata pada sekelilingnya. Pada akhirnya, mereka tidak menghasilkan apa-apa.

Beberapa pembesar memeluk tahta, merahasiakan bagaimana mereka bekerja, tentu saja agar tetap duduk disana. Beberapa sibuk mengurut tangan robot mereka yang mulai menua karena bekerja menggila. Memohon tidak dilepar pada ujung pos jaga.

Ada bagusnya, beberapa kunang-kunang hinggap disana. Semoga mereka segera menjadi bintang, kerajaan ini butuh terang!


Cahya Bagus Mandalukita

3. #Kerandamerah



Aku berdiri di pinggir jalan, sejak tadi. Asap  mengambang, mengalungi senja seluruh kota. Sepertinya banyak kuda sedang bersantai. Berjalan berjingkat, setengah-setengah langkah sambil menikmati cerutu yang tak berhenti membuatku batuk, mereka berjingkat pelan-pelan, juga menghisap cerutu dengan pelan-pelan. Membuat mereka seperti sedang mengantre rumput dengan sangat santai. Aku kesal, jika aku sakit paru-paru, tak mungkin aku menyebut mereka dungu. Biasanya, orang-orang yang kukenal menyebut kata dungu berpasangan dengan keledai, bukan kuda. Jadi aku hanya diam, menutup mulut dengan jaketku yang sudah lusuh.

Sebuah keranda merah besar melintas,  keranda  yang beroda dan tak ditandu oleh manusia. Entah kenapa warnanya merah. Yang pasti keranda  itu mengangkut para prajurit yang sekarat. Mereka, semua prajurit itu terlihat sudah sangat lelah, menumpang pada kotak beroda ini untuk mencari arah pulang ke rumah.  Mana mungkin mereka masih dipaksa berperang. Panglima bisa marah besar, prajurit lelah seperti mereka hanya membuatnya kalah perang. Kulihat lengan mereka penuh luka, dengan wajah yang tak segagah ketika mereka pamit berangkat pada keluarga dengan bangga. Mereka seperti menanti kematian, umurnya akan habis pada langkahnya saat pulang. Aku naik ke atasnya, berlagak menjadi prajurit bernasib sama.

Prajurit-prajurit itu membuat keranda ini seperti penuh dengan mayat hidup. Mata mereka kosong, sepertinya  mereka rindu menimang bayinya yang baru lahir kemarin. Tapi ceritanya selalu sama, mereka tak pernah tega membangunkan seorang bayi  yang sudah tertidur saat mereka tiba. Lalu hanya melihat seorang malaikat kecil tertidur. Malaikat yang sudah lama tak merasakan debar jantung ayahnya.

Roda keranda merah ini berputar, tentu saja perlahan. Kuda-kuda tadi masih saja bersantai. Tak juga mengalah pada prajurit-prajurit yang sudah lelah. Sepertinya keranda merah ini menghisap kehidupan, di dalam sini aku mengantuk. Hanya saja  aku takut tidur, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika tidur, bisa jadi aku makin jauh dengan rumah, atau malah tak akan kembali.

Kepulangan di kota ini dibayar mahal, uang tak punya  arti di sini. Alat tukar yang mengerikan kurasa. Mereka di kota ini menukarkan ruh, menjual hidup untuk tetap hidup.

Seorang anak kecil mulai berkeliling, menarik  upah. Anak kecil berbaju abu-abu. Rambutnya  merah, mungkin berdarah setelah kalah berkelahi dengan matahari. Tubuhnya kurus ceking, sesuatu yang tak pernah membuat dia peduli. Anak itu berjalan menyusuri lorong keranda, menarik ongkos pulang para prajurit yang sudah penuh luka. Dia membawa gentong kecil, dengan lubang yang menganga, ”untuk menghisap ruh,” katanya. Perjalanan pulang ini tak berongkos mahal, hanya dua jam kehidupan.

Bukan, tolong jangan menyebutnya kejam. Dia jauh dari kata kejam, memang begitulah cara hidup di sini. Dari caranya menarik mahar, kurasa dia cukup ramah. Sesimpul senyum selalu melekat pada pipinya yang coklat.  Setidaknya aku merasakannya, dia jauh lebih hangat daripada muka-muka datar para mayat  hidup yang menumpang pada kerandanya. Anak kecil itu bergelantungan pada tepi keranda, sejenak menghirup udara segar, mata kosong mayat-mayat hidup itu menyesakkan, jauh lebih menghimpit paru-paru daripada cerutu-cerutu kuda. Tangannya membuka gentong ruh yang sedari tadi ia gendong. Tangannya lincah menghitung ruh yang berhasil dia kumpulkan. Pas, tak ada yang berhutang.

Aku sejak tadi mengambil tempat di sisi paling belakang keranda. Rasanya tak penting juga mencari tempat di tengah para prajurit ini. Mereka hanya bisa diam, juga tak akan mempedulikanku. Kehilangan ruh membuat mereka mati, hanya panglima besar yang menyihir mereka agar tetap dapat berjalan. Awalnya kukira mereka seperti mayat hidup, sekarang kusimpulkan semua pikiranku adalah nyata, mereka benar-benar sudah mati.

Anak kecil bergentong tadi berjongkok di depanku, memberi punggungnya sebagai teman mataku menunggu sampai pada tujuanku, rumah. Menatapnya dari belakang membuatku bertanya, apa anak seperti ini masih menggilai buku? Semoga dia masih melahap buku dengan rakus.

Lalu aku  menyadari arti perkataanku. Ternyata tak semua hal yang biasanya dianggap buruk akan selalu berarti busuk.  Rakus dan tamak tak selalu buruk ternyata, jika dia (anak kecil itu) mampu menghabiskan semua buku di kota ini, akan ada waktunya dia akan menjadi pria yang membagikan seluruh buku yang dia makan pada dunia. Setitik harapan untuk kota mati seperti ini bukan?

Kota mati ini aneh Tuhan, susunan batu-batu yang dibuat manusia ini mampu menghidupkan rasa (milikku) dan mematikannya pada saat yang sama. Seorang bocah paruh baya dengan otak buntung baru saja masuk ke dalam keranda dan meminta-minta. Memaksa setiap mayat ini memberikan sisa ruh padanya. Sedang di luar sana, mataku tertarik pada seorang nenek remaja yang menarik gerobak sampah, setengah mati.

Kota ini menangis Tuhan, kukira  akan sama seperti biasanya, sesaat akan tenggelam. Meminta tolong pada kalian dengan mulutnya yang dijahit kawat. Terus memaksa bersuara, dan terluka. Tak ada yang bersedia mendengar, masing-masing terus sibuk menjual jiwa. Tegakah Kau membiarkan ini begini?

Jakarta, pada sebuah perjalanan pulang, hujan merintik setengah jalan. Beberapa orang menyebutnya metromini, aku menyebutnya keranda merah.

Cahya Bagus Mandalukita

Tuesday, April 22, 2014

Aku dan Benci yang Membatu


       Pada sebuah kampung jauh, hidup seorang aku. Aku kecil lahir sebagai bocah kaku dan malu-malu. Awalnya aku tak pernah membenci apapun di dunia ini. Tapi semua hal yang dialaminya membuat aku jadi seorang pembenci apapun.  Benci membenci ini dimulai saat aku mulai pengalaman pertamanya membaca. Aku tak mampu membaca beberapa kata, dan seorang wanita yang aku panggil dengan sebutan ibu tak mengijinkannya tidur. Setelahnya kamu bisa mengira perjalanan hidupnya. Aku benci membaca. Lalu dia membaca seluruh buku yang ada di rumahnya, hanya agar aku bisa secepatnya tidur.

Saat itu aku mulai meletakkan kaki pada umur belasan. Saat Ayahnya meletakkan tangannya dengan sangat keras pada ibunya, hampir wanita itu lantak. Hal yang membuatnya membenci ayahnya. Lalu setelah itu dia membenci dirinya sendiri, yang mau tak mau memiliki ayahnya dalam dirinya. Lalu dia mulai melakukan segala sesuatu berlawanan dengan semua yang dia ingat tentang seorang ayah. Berharap tak menjadi sesuatu yang dibencinya.
Aku benci pada keranda yang membawa pergi ibu keponakannya saat gadis kecil itu masih berumur lima tahun. Tapi aku yang penuh benci itu menyembunyikan semuanya dalam lambaian tangan kanan dan senyuman saat mengantarkan tubuh dingin itu pada peristirahatan, saat pipi-pipi lain di pemakaman itu tak lagi punya tempat untuk menampung airmata. Sedang tangan kirinya menggandeng keponakannya yang ikut tersenyum karena melihat aku tersenyum. Gadis kecil itu merasa harus tersenyum, mengikuti aku yang mengenakan senyum lebar sebagai pakaian tubuh penuh bencinya. 
Aku juga benci pak polisi. Dia berjaga pada perempatan lampu merah. Tempat di mana dia bertemu mata dengan seorang gadis yang melintas di depannya. Pak polisi galak itu melotot saat aku ingin mengejar gadisnya. Tentu saja, lampu merah itu melarangnya untuk belok ke kanan. Arah di mana gadis itu menuju. Sekarang aku bahkan tak pernah tau siapa nama gadis berhelm merah itu. Kali yang lain, jika bertemu gadis itu, aku berjanji tak akan lagi peduli apa kata mata pak polisi, pun mulut bulat lampu merah.
Aku membenci foto ibunya, sesuatu yang selalu dibawa dalam dompet kurusnya. Foto itu terus saja berdendang lagu-lagu rindu. Setiap malam gambar ibunya yang sedang tersenyum itu mengatakan bahwa senyum itu senjata kabut, untuk menyamarkan peluh dan kelu pada penglihatanmu. Foto itu hilang saat dompetnya kecurian beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku masih berpikir, apa foto itu masih berdendang di sana, atau dompet kurus itu dibuang dengan kesal karena terlalu kurus untuk dipotong, lalu foto itu berdendang di pinggiran jalan di kota dekat?
Aku benci ini, benci itu, yang sebelah sana, sebelah sini juga. Tak ada hal yang luput dibenci olehnya bahkan aku membenci dirinya yang penuh benci. Dia begitu mencintai benci, seperti kamu yang membenci cinta. Aku suka mengaku benci, tapi dia benci mengaku-aku. Bagi dia semua yang bukan miliknya tak pantas dibenci. Begitu juga, orang lain tak boleh membenci aku jika mereka tak merasa bagian dari dirinya yang penuh benci. 
Aku hidup dengan membenci hidupnya, padahal hidup adalah sesuatu yang bahagia karena aku hidup. Atau aku sebenarnya tak benar-benar bahagia, atau aku tak pernah benar-benar membenci? Aku benci memikirkan aku yang masih juga benci.

Sunday, April 6, 2014

Tentang Sebuah Kata Maaf

      Kemarin ada hal yang membuat saya benar-benar kaget, seorang teman bercerita jika dia sedang merasa ada yang salah dengan sebuah kata maaf yang tertulis dengan sangat tegas pada halaman chating miliknya. Percakapan itu ditulis oleh seorang gadis, katanya. Seorang gadis yang dia perjuangkan hidup-hidup, karena memperjuangkan seseorang mati-matian itu bodoh. Bodoh, karena setelah mati, maka perjuangan itu akan habis. hasilnya tidak akan pernah benar-benar dia panen. Jadi buat apa berjuang jika kemudian kamu mati? begitu katanya. Hahahaha, alasan yang sangat realistis dengan perhitungan yang sangat cermat saya rasa. Ya, pemikiran seperti ini yang saya suka, dia gila! Romansa melankolis sudah tidak laku baginya, atau mungkin dia seorang penipu yang menyimpan kebenaran dengan sangat rapi. Yang manapun kebenarannya, tetap saja saya tidak mengerti, kenapa kata maaf bisa membuatnya merasa jika ada sesuatu yang salah?
             
     Bukannya memang karena ada sesuatu yang salah lalu ada suatu kata yang dia sebut "maaf" tadi? Lalu setelahnya bukankah sesuatu yang salah itu seharusnya dilupakan atau kembali di simpan dalam peti untuk kembali diungkit saat ada kesalahan yang sama terulang lagi? Atau bisa jadi saat kita mengangguk atas permintaan maaf seseorang, lalu berkata pada mereka untuk melupakannya, saat itu kita sendiri tidak pernah benar-benar melupakan kesalahan itu? Kita hanya menyimpannya pada sebuah peti lalu menyimpan kuncinya pada tempat yang paling mudah untuk digapai. Sehingga suatu saat, peti itu dapat dengan mudah dibuka dan membuat kita mengingat sebuah luka lama? Lalu mengatakan pada mereka seperti seorang hakim, "Ini kali kedua kamu melakukan salah yang sama!" dan kelanjutannya bisa dengan mudah ditebak, kita tidak bisa memaafkan unutk kedua kalinya, atau membuat perjanjian tidak tertulis jika kita tidak akan memaafkannya lain kali, lalu kejadian-kejadian di atas akan terulang lagi.

    saya pernah mencoba meletakkan sebuah kesalahan pada sebuah peti, tapi dasar saya yang pelupa, saya selalu lupa meletakkan kuncinya di mana. Karena itu setiap seseorang bertanya, "Apa pernah aku melukaimu?" 

     Jawabanku selalu sama, "Entahlah, rasanya tidak pernah." Selalu begitu. Hahahaha, dasar aku pelupa yang bodoh.

    Kembali pada cerita temanku tadi, dia bercerita dengan sangat fasih. Seorang gadis yang tadi dia katakan sebagai "sebuah perjuangan", mengatakan maaf padanya. Sebabnya? Gadis itu tak mengatakan apapun tentang sebabnya. Temanku ini bukan orang bodoh, tentu saja dia mencari tau. Kebanyakan gadis bukan penyimpan rahasia yang baik, mereka dengan mudah mengatakan kebenaran lewat hal-hal yang tersirat dari perilaku mereka. Ya, mereka suka memberi pengumuman setengah-setengah tentang sesuatu, lalu membiarkan seseorang mencari tau, atau hanya melakukan tebak-tebak berhadiah. Hanya saja, kebanyakan pria yang tidak sedang jatuh hati tidak pernah ingin mencari tau, dan kebanyakan pria yang terlalu jatuh hati, terlalu banyak mencari tau dan terlalu banyak menebak-nebak. Maka dari itu kebanyakan gadis mengatakan seorang pria tidak pernah cukup mengerti dan seorang pria yang lain sangat mengganggu. 

     Temanku ini sedang jatuh hati, hanya saja tidak terlalu jatuh hati. Jadi dia mencari tau, kemudian menebak-nebak. Lalu dengan sangat percaya diri mendeklarasikan hasil pengamatan dan tebakan itu pada gadis yang meminta maaf padanya tadi. Tebakannya jitu, dan semua pengamatannya benar. Lalu temanku itu berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan atau dimintakan maaf." 

     Sekarang kubiarkan kalian menebak-nebak. Aku tau kalian tidak sedang jatuh hati, dan aku bukan wanita atau seseorang yang kamu cintai, tentu saja aku bukan seseorang yang membuat kalian ingin mencari tau. Setidaknya dengan menebak-nebak, kalian tau rasanya menjadi seseorang yang jatuh hati. Atau buatkan saja aku sebuah akhir cerita dari kata "maaf" tadi. Sebuah kata yang sering sukar kita persembahkan, juga sangat sulit benar-benar kita terima.

       Biar kuberi satu petunjuk, 

"Karenanya aku tidak pernah benar-benar meminta padamu, karena kamu juga kurasa tidak akan pernah benar-benar memberikannya padaku." Kata-kata ini adalah ucapan terakhir percakapan yang kubaca.


        NB: untuk kawanku jika kamu membaca ini, Maafkan saya, saya berjanji tidak akan ada yang tau siapa dirimu.
                           

Wednesday, April 2, 2014

Setau Saya Ini Terlambat

                Ada segerombolan manusia menarik yang diciptakan Tuhan untuk mewarnai hidup dari masing-masing kita. Pertemuan dengan pensil warna seperti mereka juga biasanya tidak terduga, tapi tidak dengan saya. Saya bertemu dengan manusia-manusia ini dengan cara yang sangat biasa, kuliah. tapi coret-coret ini bukan tentang mereka, saya hanya ingin membicarakan salah satunya. Ibunya, yang sangat dia sayang -saya tau dia sangat menyayangi ibunya dari banyaknya teman saya ini menceritakan tentang seorang ibu yang berada di Jogjakarta, memberikannya nama Arfindo Briyan Santoso. Saya lebih suka memanggil pria itu "Om"
             Rasanya saya sudah pernah membicarakannya suatu waktu, saat saya kehilangan kepribadian saya. Biar kusiarkan sesuatu pada kalian, tanggal 28 Maret kemarin pria itu berulang tahun, pria yang kupanggil om tadi, sepertinya sedang mengukuhkan bahwa dirinya lebih tua dewasa dari saya. Tidak, saya tidak sedang menggodanya, saya yakin dia bangga pada perubahannya menjadi dewasa. Dan saya dengan sangat jujur bisa berkata, saya bangga mengenalnya. Pria yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita di kota kelahirannya sejak lima tahun yang lalu. Kuberitahukan sekarang padamu kawan, saya sendiri iri melihatmu mampu berjuang sekeras itu. Doaku selalu yang terbaik untuk kalian. Ini memang ulang tahunmu, tapi biar kamu yang meniup lilin lalu aku ikut berdoa, semoga kamu mengenalkannya padaku suatu saat, sebelum kalian mengucapkan ikrar sehidup semati.
                 Tulisan ini daripada ucapan selamatku, lebih ingin kujadikan tempat pengakuan dosa. Om, aku lupa ulang tahunmu. Lucki mengingatkanku hari itu, tepat pada hari kamu lahir. Kawanmu itu kurang ajar, kenapa tidak mengingatkanku sehari sebelumnya, sehingga aku setidaknya bisa menjadi orang ketiga yang mengucapkan ulang tahun padamu. Setelah ibuk dan kekasih jauhmu itu. Sekarang, sudah terlanjur. Aku tak tahu aku menjadi kawan sehina apa, yang tak mengignat hari ulang tahunmu. Maaf.  padahal kamu dengan sangat baik membantuku mengerjakan proyek rahasia. Maaf lagi aku merepotkan, kamu satu-satunya profesional yang aku kenal, setidaknya cukup dekat sehingga aku tidak akan sakit hati jika kamu menghina sampah rahasia itu.
Apapun yang pernah kukatakan padamu, tapi aku salah satu orang yang tersenyum diam-diam atas kebahagiaanmu. Juga mengamini apapun yang kamu imani,semua yang kamu panjatkan pada Tuhan saat meniup lilin di atas kue ulang tahunmu. Selamat Ulang Tahun Kawan, pesanku hanya satu, tak ada satu pesan yang bisa diucapkan oleh seorang sahabat untuk menunjukkan kebahagiaannya atas bertambahnya umurmu, 


Sebuah ucapan yang terlambat,

Cahya Bagus Mandalukita
                            

Friday, March 21, 2014

Puisi Kecil Sebulan Tiga Ini

Jika kamu tidak tahu, hari ini tanggal 21 Maret, World Poetry Day

jadi kukumpulkan sampah yang berserakan sebulan tiga ini.  Sudah kukatakan ini sampah, jadi memang ini cukup membuat muntah..

***

Kita berdua mencipta lagu sedih, kamu membuat melodi, sedang aku membuat puisi.
Kamu bernyanyi, aku sendiri, sudah. sajak ini selesai.

***

Aku berpikir, sepertinya aku adalah kumpulan-kumpulan kenangan, dari para perempuan yang kucintai, dulu.
Dengan bagian terbesarnya adalah dirimu.  Hanya saja aku tak tahu, apa tubuh kenanganku yang mulai tanggal mampu membuatmu tetap tinggal?

***

Mereka, kekasih diri mereka sendiri, meminta orang lain jatuh hati pada kekasihnya. Lalu cemburu, merasa tak dikasihi seperti seharusnya,begitu?

***

Apa kamu percaya kalo kamu orang baik? Apa kamu percaya aku orang baik? Jika keduanya kau jawab iya, jangan tanya lagi kenapa aku ingin kita bersama.

***

Dinding,ciptaan manusia untuk memisah-misahkan apa yang dulunya satu, lalu mereka membuat jendela, untuk saling mengintip malu-malu.

***

Aku suka menulis, kamu suka musik. Setiap kamu menangis aku hancur tiap detik.

***

Malam ini dingin, biar saja seluruh tubuhku menggigil. Asal dadaku tidak. Disana mendekam sebuah tulang rusuk,yang kupanggil kamu.


***

Hati tidak akan pernah mau mengikuti kata-kata untuk mencoba sekedar singgah, mereka bukan sesuatu yang mudah betah


***

Kemarin aku mencoba menulis sajak dari semua benda dalam kamar, tidak bertahan lama,terlalu penuh kenangan memuakkan.

***

Dunia ini aneh,sekali patah hati dan semua orang berpikir dia jatuh selamanya, karena itu aku tak menggilai dunia,bukankah kamu dari surga?

***

Kamu yang tercantik dari semua gadis berhati baik. Tentu saja paling baik diantara semua gadis berwajah cantik.

***

kalian melihat seorang sendiri menulis puisi itu berkudis,sedang pasangan jatuh hati romantis. Apa Nelson Mandela perlu hidup sekali lagi?

***

Aku punya seorang kawan. Ingin kusumpahi agar mati dan bereinkarnasi menjadi aku, kurasa dia terlalu lama tak jatuh cinta.

 ***

Jika aku tak bisa memejamkan mata, apa karena kau belum sampai pada pintu masuk ke mimpiku, atau aku yang sebenarnya sedang bermimpi buruk?

***

Mereka bilang aku egois. Benarkah sekuat itu aku tak ingin kehilanganmu?

***

Nilai sekolahku tak pernah berlaku padamu, otakku seperti kucing yang kamu pangku. Tak ingin berkata apa-apa, hanya ingin tetap disana.

***

Malam ini hujan,besok rumput akan bergembira. Selalu begitu, masih terus membuatku mencintai pagi buta.

***

Kita bertemu pada pertigaan. Kamu belok kiri,sedang aku masih terjebak lampu merah. Apa pak polisi akan berbaik hati membiarkanku mengejarmu?

***

Aku terdiam dalam kertas-kertas yang terus kosong, puisi-puisi ini lebih ingin menyapamu diam-diam.

***

Jika gadis terbuat dari tulang rusuk,penciptaannya pasti setelah kamu. Saat kalian bertemu, mereka pasti tau rasanya bersandar pada dadamu.

***

Sejauh-jauhnya jarak adalah saat kamu mulai saling membenci, karena rindu tak akan mampir padamu, rindu dan benci seperti musuh.

***

Terakhir kali aku melihat jam 00.00, mereka berkata tidak ada yang rindu aku, mereka salah.. Aku hanya belum mengetahui namamu,bukan begitu?

***

Konon, kamu masih menungguku sama baiknya seperti dirimu. Mungkin masih lama, atau bisa jadi besok itu terjadi. Tolong bersabar, sedikit lagi.

***

Mereka menganggapku gila karena bercerita tentang cinta, sedang milikku sendiri patah. Aku masih punya cinta untuk ibuku,mungkin mereka lupa.

***

Beberapa orang mudah jatuh hati, tapi mereka hanya berbohong saat berkata ingatan mereka tentang cinta mudah terkuras habis.

***

Apa otak masih harus berdebat tentang kepemilikanmu,sedang hati saja tak peduli?

***
Twitter Bird Gadget