Saturday, January 11, 2014

belajar gambar

ga tau kenapa gue lagi demen gambar-gambar, dan ga ngerti juga kenapa gue tiba-tiba bisa gambar,,tapi ya udah deh,g ada yang dirugiin juga...mau pamer dikit boleh kan yaaaakk..biarpun belom bisa dipamerin sih sebenernyaaaa..hahahah

pasti elu-elu ada yang nanya,.,kok gambarnya cewek??itu gebetan??kalo gebetan kok orangnya beda??wkwkwk,,pertanyaan lu pada standar banget.,,gue jawab duluan yaaakk....gue gambar cewek soalnya gue dari dulu gak bisa gambar cewek, judulnya aja belajar gambar, kalo ujian gambar baru gambar yang gue udah diajarin dan seharusnya udah ahli, terus gue gambar buat pembuktian., kalo belajar ya yang gue ga bisa dong yaakkk.. gitu kan yak?? anggep aja lu lagi liat orang kurang kerjaan yak...di kritik boleh,,di puji jangan...hahhaha

ilustrasi geje


karikatur buat bos besar yang mutasi ke bangka belitung
magabuttttt
buat bapak anton yang ke ambon
memperingati taun baru


Tuesday, December 10, 2013

MIJIL, Pada Malam Sebelum Sebuah Kepergian

" Gus,hidup itu tidak akan selalu menanjak ke atas, suatu kali dia akan jatuh perlahan bahkan bisa jadi dia terjun sangat kencang menghambur pada tanah liat dan memfosil."

Seorang teman masa kecil berkata beberapa hari yang lalu,satu kalimat yang membuat kembali pada sebuah cerita masa kecil, semua cerita yang diceritakan ibu, beberapa saat sebelum berangkat ke tanah timur Indonesia. Mungkin kamu pernah mengalaminya, mendengarkan dan merasa menjadi seseorang yang tidak terlihat dalam sebuah cerita. Mengikuti setiap alurnya, berada disana, mencoba berteriak memberikan larangan agar masa depan berubah, namun semua tokoh dalam cerita itu terus saja melakoni jalan cerita yang sama, tak akan ada yang mendengarmu. Berpeganglah pada satu hal. Berhentilah berandai-andai, jika memang semua tokoh itu menuruti apa yang kamu teriakkan, masa depan tak akan berubah menjadi sesuai keinginanmu.

Anak kedua dari tiga bersaudara, satu bayi perempuan cantik lahir pada tahun 1988, seorang lelaki, saya,lahir tahun 1990, dan adik lelaki bungsu dengan masa kecil bak selebritis papan atas di keluarga besar kami karena tingkah lucunya pada tahun 1996. Dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana dan jika kamu mau tahu, menjadi seorang anak yang lahir 17 bulan setelah kakak perempuannya menangis untuk pertama kalinya melihat dunia bukan hal yang mudah bagi seorang ibu pada saat itu, bahkan sebelum bayi kevil itu menangis pertama kali seperti sang kakak setahun sebelumnya. Dengan kondisi keluarga yang baru menyusun batu-batu pertama rumah tangga, dua anak dengan umur yang hanya berjarak satu setengah tahun di rasa akan sangat berat menurut nenek,merasa tidak diharapkan lahir ke dunia saat mendengar cerita tokoh yang ada namun belum ada di dalamnya terasa sedikit menyakitkan. Hal yang sama membuat saya berpikir bahwa bahkan saya benar-benar memulai kehidupan di dunia ini dalam keadaan terpuruk. Berjuta maaf saya sampaikan untuk ibu, saya tau tak sedetik pun ibu memikirkan hal yang sama.

Saya berpisah dari  rahim hangat ibu pada tanggal 07 Januari 1990, pukul 00.57 jika saya tidak salah mengingat jam pada akte kelahiran saya.  tidak seperti kakak dan adik saya yang gemuk putih dan berbagai deskripsi tentang bayi menggemaskan pada umumnya, semua yang di deskripsikan tentang saya jauh dari bayi yang lucu menggemaskan. Tidak, saya tidak gemuk saat lahir, tetap kurus, seperti sekarang. Hanya saja tanpa begitu banyak hal tidak penting yang sekarang saya pikirkan, jadi saya rasa keadaan saya ketika itu jauh lebih segar. Dengan kulit gelap dan mata bulat dan lebar, juga daun telinga saya yang kisutentah apa saya masih bisa dibilang lucu saat itu. Saya tidak bisa bercerita banyak, waktu itu saya hanya bisa menangis dan mencari air susu, Apa yang kamu harap akan saya ingat? letak air susu? Retoris saya rasa. Tapi jika dibandingkan dengan cerita tentang kakak saya yang hampir dibawa pulang oleh suster yang jatuh cinta padanya, atau adik bungsu saya, mungkin saya bayi yang paling menyebalkan di dunia,-hal yang membuat saya sedikit mahfum mengenai pendapat banyak orang yang mengatakan saya menjengkelkan. Ya, bawaan lahir saya rasa.

Tidak ada hal yang bisa dibanggakan pada masa balita saya, jauh dari kata " masa kecil luar biasa". Saya tidak pernah mau makan ikan. Bahkan udang dan kepiting selalu membuat saya muntah dari apa yang saya dengar. Wanita mana yang tidak khawatir akan perkembangan otak anaknya yang seperti itu, begitu juga ibu. Tubuh mungil saya juga sangat sensitif, hampir setiap bulan dokter langganan keluarga kami akan bertemu ibu karena saya jatuh sakit, dan dalam periode yang sama, saya pasti demam tinggi hingga kejang-kejang, orang jawa menyebutnya setep, dengan cara melafalkan "E" pertama seperti petani dan "E" kedua seperti kamu merapal efek. Antibiotik sangat akrab dengan tubuh kecil saya saat itu, banyak yang tersisa dari pengaruh obat kimia itu pada tubuh saya, gigi saya rapuh, akibat terlampau banyak melahap antibiotik. Dan karena sering demam hingga kejang itu juga, dokter dengan sangat kejamnya berkata pada ibu, memohon maaf dan meminta ibu tidak kaget jika nanti ketika dewasa perkembangan otak saya agak terhambat. Dokter berkata ada kemungkinan seringnya saya setep bisa berpengaruh pada perkembangan kecerdasan saya.satu hal lagi yang membuat saya menggangguk lemah mengerti, mungkin itu juga sebabnya saya sering melakukan hal bodoh, mungkin dokter itu benar.

Pemalu yang luar biasa, saya selalu berjalan di belakang ibu, mengait celana atau tangan beliau. Jangan pula coba-coba menggendong saya saat baru pertama kali bertemu jika tidak mau dibekuk polisi dengan tuduhan penculikan, saya pasti menangis sejadi-jadinya. Dan bagaimana perasaanmu jika menjadi saya saat pada akhir ceritanya mengenai hal itu ibumu berkata padamu sembari tertawa,
"setidaknya ibu ndak pernah takut kamu diculik pas kecil mas"
Boneka smurf kecil berwarna biru dengan topi putih yang (menurut saya)  keras, mungkin dia di adopsi dari sebuah pasar malam, tapi jika kalian ingin tahu, dia sahabat terbaik di dunia. Kuceritakan sedikit rahasia, dia bisa berbicara!!!!-setidaknya dalam pikiran saya yang bahkan saat itu belum dapat melangkah, ataupun berkata. Saya memeluknya setiap malam sebelum tidur,bagi tubuh saya yang kecil,dia tetap saja boneka smurf kecil, Tapi saya berhenti bermain dan ngobrol dengannya saat berumur belum dua tahun jika saya tidak salah ingat. Dari cerita ibu, saya baru melangkah pertama kali pada umur 20 bulan, dan mulai berbicara enam bulan kemudian. Bayi bodoh jika saya boleh menilai diri saya sendiri. saya menggigiti topi putih miliknya,dan bibir saya berdarah,sejak saat itu dia tidak pernah lagi terlihat,mungkin smurf kecil sahabat saya menangis dan pergi entah kemana setelah ibu memarahinya. Satu hal yang membuat saya marah padanya, bahkan dia pergi sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih padanya.
  
Ada waktu saat kita tak saling menyalahkan, tak saling berprasangka, berpikir dengan sangat sederhana, dan melakukan semuanya tanpa berpura-pura. Ada masa dimana kita berbicara pada sebuah boneka, merasa berada di dalam sebuah mobil mainan dan berputar mengelilingi rumah raksasa, saat kita berbicara pada seseorang yang tidak pernah ada, tidur pada box dengan iringan lagu yang sama setiap malam, memeluk guling kecil yang km simpan hingga remaja. Tak ada salahnya kembali kesana dan mengingat semuanya saat ingin berucap dusta, saling mengiris hati, atau memeluk tubuh wanita yang tak pernah berhenti merekam semua jejak yang kamu tinggalkan.

sebuah potongan adegan dalam otak saya yang meloncat gembira,terbesit saat merasakan hangat pelukan wanita yang saya panggil ibu, pada malam sebelum meninggalkan rumah.

Friday, November 8, 2013

Catatan Satu Bulan

Jika mampu, ingin kutitipkan jemariku padamu barang sewindu, membiarkan mereka belajar menari pada tuts pemahat senyum wajah ayumu. Jika berkenan, jadilah guru bagi mereka, didik mereka sekeras-kerasnya, hingga saat mereka kembali, kuberikan kewajiban baru pada mereka untuk menari menghiburku, bahkan aku taka akan menyesali sedikitpun bila akhirnya peletak rasa menggeleng untuk menyandingkanmu bersamaku.

Atau setidaknya biarkan saja kita terus bertatap punggung, ingin rasanya aku mampu menghilang agar dapat memandangmu tanpa kamu sadari,melihatmu sedang tersenyum tanpa perlu memikirkan apa yang kau terka terhadap otak kosongku saat tak lepas lekat mataku, saat aku tersenyum melihatmu yang tak mengerti sebab melengkungnya sunggingan itu, aku suka wajah bingungmu. Andai aku bisa melukis, tentu da vinci akan tertunduk malu dalam peristirahatannya karena telah membanggakan monalisa begitu hebat saat menandingkannya dengan senyumanmu. Yang aku tau, aku hanya kehilangan satu hal cantik yang akan terlewatkan jika aku mampu menghilang, melihatmu malu-malu saat aku tak berhenti memperhatikan lakumu, tapi biarkan saja, sepadan rasanya.

Belum berubah,aku masih takut jika matamu melihat mataku saat melihat matamu, sebenarnya aku takut untuk saling bertatap mata denganmu, bahkan lututku terasa sangat mencintai bumi, berat sekali rasanya untuk membuatnya tetap berdiri menopang kakiku. Entahlah, mungkin gugup, beberapa perihal kegugupanku rasanya sudah pernah kuceritakan, aku takut menjadi terlalu mengagumimu, hal yang paling ku khawatirkan hanya menjadi tidak memahami keinginan sebenarnya untuk berada di dekatmu. Tidak sekalipun aku menyangkal bahwa alasan yang salah bukan hal yang mustahil untuk berakhir bahagia, mungkin hanya otakku yang terlalu matematis. Tapi kalkulasi yang entah darimana itu menghasilkan presentase duka yang terlalu besar jika ketakutanku dikabulkan Tuhan.

 Selamat pagi, kita berpijak pada bumi yang sama,menikmati sejuk angin yang sama, bermain-main pada rintik hujan yang sama, juga tersenyum pada matahari pagi yang sama, entah kenapa kamu jauh lebih mudah untuk melenakan mata, mengunci bibir dan mengelukan lidah saat tubuh tanah ini berdiri di depanmu. Bersamamu, aku lebih suka menatap matamu dalam-dalam,dan menikmati semua misteri disana, aku lebih suka mendengarkanmu bercerita mengenai tuts piano,gesekan biola,atau sekedar melihatmu memeluk adik laki-lakimu, teduh rasanya.

Aku melakukan sesuatu yang aku sendiri tak mempunyai alasan untuk melakukannya, tindakan bodoh, yang aku yakini tak membuatmu mempunyai alasan untuk jatuh cinta karena kebodohanku itu, Aku hanya mencoba membuatmu tersenyum, juga mencuri sedikit ruangan pada memorimu untuk mengingatku. Biar saja mereka tak mengerti, rasanya aku tak cukup peduli.

Kamu tentu tak mengerti apa hubungan dari setiap paragraf yang kubuat kali ini. Tentu saja,setiap paragraf kubuat saat aku mengingatmu, dan analisismu sungguh sempurna, bukan hanya sekali waktu aku mengingatmu, Setelah catatan pada telepon pintarku menghilang bersama dengan raganya, kuputuskan untuk menuliskannya disini, tak lagi pada gadgetku itu. Aku tak ingin catatanku tentangmu menghilang kesekian kalinya, sebelum kawanan kecil pengingatmu yang tersisa ini ikut menghilang, Kumulai kembali, kutuliskan pada suatu tempat, tentang aku, duniaku, dan semua hal yang mengingatkanku, yang tak perlu ku kirimkan padamu.

kepadamu yang mendekam dalam imajinasiku.

Timika, Denpasar, Surabaya,Jakarta,
4 Oktober- 9 November 2013,

Cahya Bagus Mandalukita


Sunday, October 6, 2013

Kepada Cinta Pertamaku

Bu, entah mengapa anak lelakimu ini menuliskan surat ini di sebuah jejaring sosial yang aku tau ibu tidak pernah membuat akun di jejaring sosial ini. Kalaupun ibu membaca surat ini, mungkin ibu membacanya dari akun milik mbak, atau adik, entahlah.. Mungkin anakmu yang sudah berkumis ini terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu.. Oh iya bu, kumisku sudah aku cukur, maaf aku tak mematuhi saranmu untuk mengguntingnya, mencukur lebih praktis menurutku.

Bu, hari ini, ketika mengerjakan tugas bahasa inggris yang kalau ibu tau ini sangat membosankan, tiba-tiba aku mengingatmu. Sms terakhir yang kukirim untukmu berisi tentang seorang anak yang hampir tidak mempunyai pulsa di telepon genggamnya, dan memintamu untuk membelikan pulsa untuknya. Memalukan ya bu, anakmu yang sudah besar ini, masih meminta pulsa padamu. Aku yakin ibu pasti tersenyum membaca smsku, dan sebenarnya aku menunggumu membalas smsku seperti biasanya,"kamu ini sms ibu kalo minta pulsa aja", entah mengapa aku selalu tersenyum membacanya. Bu, sebenarnya aku ingin sekali mengirim sms hanya berisi aku kangen, aku sayang ibu, aku kangen soto ayam buatan ibu, tapi aku malu melakukannya. Entahlah, maaf ya bu, anak jagoanmu ini pengecut, malu rasanya mengatakan bahwa aku sungguh2 merindukan suasana rumah.

Bu, Baru saja aku selesai latihan basket seperti biasa, tapi lututku yang cedera ringan setelah pertandingan kemaren makin sakit. Sedangkan tugas inggris yang membosankan tadi belum juga selesai karena aku pergi latian hari ini sebelum sempat kuselesaikan. Hari ini aku harus terjaga agak lama untuk menyelesaikannya dengan lutut yang sedikit membengkak, agak ngilu memang, aku ingin mendengar ibu memarahiku karena masih memaksa latihan dengan kaki yang cedera, aku ingin ibu mengatakan bahwa ibu tidak akan menghiraukanku jika sepulang latihan melihatku terpincang-pincang, walau akhirnya ibu tetap menyuruhku cepat istirahat dan mengambilkan makanan untukku.

Bu, aku akan tidur lebih malam hari ini. Sama seperti ketika aku di taman kanak-kanak dan ibu mengajariku membaca, masih jelas di ingatanku ketika aku tidak mengerti apa yang aku baca dan aku hanya menghapal gambar yang ada di buku "latihan membaca" dan dengan percaya dirinya menjawab dengan lantang ketika ibu menunjuk gambarnya dan menyuruhku membacanya. Sekali ibu tersenyum, dan terbongkarlah trik yang aku buat. Ibu tidak membolehkanku tidur sebelum bisa mengeja kata apel dengan benar, membiarkanku duduk  di meja belajar dengan lampu belajar tetap menyala, ya hanya lampu belajar, karena semua orang telah tidur. Aku terus berusaha mengingat ejaan apel sambil menangis dan pagi harinya aku terbangun di tempat tidurku. Sekarang lihatlah bu, anakmu tidak hanya bisa membaca, aku hampir menyelesaikan kuliahku.

Bu, aku ingin membuat pengakuan. Ketika di sekolah dasar, sering jika aku lupa meminta tanda tangan ibu untuk ulangan-ulanganku, aku menandatanganinya sendiri dengan meniru tanda tangan ibu. Bukan, bukan karena nilaiku jelek bu, ibu tentu tau semua nilaiku. Ketika itu aku berpikir, tidak penting siapa saja yang menuliskan tanda tangan yang penting ada tanda tangan ibu, sering pula aku membeli makanan ringan di sekolah yang dengan tegas ibu larang karena ketika itu aku pasti sakit ketika memakannya, jujur saja, makanan-makanan itu enak menurutku dan tidak butuh waktu lama untukmu mengetahuinya, karena tidak sampai seminggu aku pasti jatuh sakit,sering aku mati-matian mengatakan bahwa aku tidak membeli apa-apa. Ibu tetap membawaku ke dokter dengan segera, tidak perduli aku berbohong, tidak peduli berapa biaya yang harus ibu keluarkan. Aku yakin,ibu pasti tau kebohonganku. Maaf bu, waktu itu aku tidak pernah berpikir aku akan menyusahkan ibu dengan perbuatan konyolku, pun dengan bagaimana letihnya ibu mencari rupiah untuk menghidupiku.

Bu, ketika pulang sewaktu liburan kemarin ibu mengatakan bahwa hasil pemeriksaan menyatakan kemungkinan ginjal ibu mengalami gangguan, begitu besar syukurku ketika pemeriksaan kedua menyatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Sudah waktunya ibu beristirahat, mungkin ibu bekerja terlalu keras, ingin rasanya aku cepat-cepat menyelesaikan kuliah ini dan meminta ibu berhenti mengerjakan semua sampingan yang melelahkan itu, ibu harus membuat kue kecil untuk keesokan harinya sepulang kerja, karena gaji saja tidak akan cukup menghidupi kami bertiga. Ketika aku sekolah, ibu pergi ke kantor, ketika aku pulang ibu masih di kantor, ketika ibu pulang, ibu masih harus membuat kue, bahkan hingga sangat larut, dan ketika aku bangun pagi, ibu sudah bangun berjam-jam lalu, atau sering hanya tidur beberapa menit. Maaf aku hanya bisa membantu sebisaku. Aku berjanji, ketika aku pulang nanti, aku akan memijat kaki ibu setiap malam sebelum tidur.

Bu, aku tau betapa khawatirnya ibu ketika aku menginjakkan kakiku di sekolah menengah atas. Tapi aku selalu menganggap bahwa kekhawatiran ibu berlebihan, sering aku pulang terlambat, bahkan hingga lewat jam 10 di rumah seorang yang aku anggap spesial ketika itu hanya karena aku ingin menemaninya hingga ayah ibunya pulang ke rumahnya atau menemaninya belajar biologi, entah kenapa dia ingin mengerti biologi, padahal ketika itu aku tau dia sangat ingin masuk desain perhiasan, tidak masuk akal menurutku. Tapi ketika aku pulang, kamu hanya berkata, jangan lewat jam 9 kalo bertamu. Aku tau ibu ingin aku dianggap lelaki yang bisa menempatkan diri di depan orang lain, apalagi di depan orang tua seseorang yang aku anggap spesial ketika itu. 

Bu, aku sungguh minta maaf ketika kelas 2 ibu harus menahan malu karena ada dua nilai yang sangat buruk, nyaris aku tidak naik kelas. Itu murni kesalahanku. Satu-satunya hal yang membuatku bekerja keras ketika akan mencari perguruan tinggi adalah membuat ibu bangga, maafkan anak smamu ini bu,,

Bu, sebentar lagi anakmu ini menyelesaikan kuliahnya, aku sangat menantikan wisuda. Namun maafkan aku bu, mungkin ibu harus menunggu agak lama dan sedikit bersabar mendengar nama anakmu dipanggil, karena anakmu tidak masuk ke rangking tiga besar lulusan tahun depan, tidak seperti saat aku Sekolah Dasar dulu, bahkan seratus besar sekalipun. Aku harap ibu tidak kecewa harus datang jauh-jauh ke jakarta dan masih menunggu lama untuk mendengar namaku disebut. Aku ingin ibu menciumku dan menggumamkan sesuatu padaku, yang pastinya doa terbaik untukku, mau kan bu?

Bu, jika aku tuliskan semua kesalahanku padamu, dan menuliskan semua maafmu untukku, tidak akan cukup malam ini aku merangkumnya. Aku merindukanmu bu, sungguh.

aku sayang ibu,,

Tulisan di atas saya buat pada 2011, 8 bulan sebelum saya wisuda, dengan judul "tulisan yang seharusnya dikatakan". Sekarang, saat makin jauh kita berada, bahkan jam di rumah kita saja tak menunjukkan angka yang sama, saya makin merindukanmu.

anakmu, untuk cinta pertamaku..


Cahya Bagus Mandalukita

Friday, September 20, 2013

Lelah

"Kamu ndak salah nduk."
Cuma itu yang ada di otak dangkalku saat aku berkali-kali jatuh, terluka lagi-lagi saat melewati jalan yang sama. Benci yang kamu rawat dengan begitu subur, hal yang bertunas karena kutanam dengan tak sengaja pada hati malaikat kecilku, balik mencengkram begitu kuat pada setiap laku bidak yang kuputuskan. Dosa yang kubuat tak akan pernah tertebus bahkan dengan tapa barata arjuna yang mengguncang kahyangan barata guru. Maafkan aku nduk, kamu punya banyak hal yang lebih penting daripada untuk membenci hati renta sepertiku. Berkali-kali aku merapal maaf, semoga suatu saat kamu mengamini.

Aku  tidak pernah memikirkan darimana kekuatanmu untuk berkata-kata. Hanya satu yang aku tau, semua kata penuh benci yang kudengarkan, karena kesalahanku. Bahkan saat aku merasa kamu salah pun aku pasti memikirkan bagian kesalahanku. Pernahkah kamu mendengar aku menyalahkanmu atas semua ini, nduk? Maafkan aku nduk jika ternyata pernah, lututku pun akan kurendahkan sampai tanah agar kamu memaafkanku. Sampai saat ini, aku masih terus menahan jariku, saat ingin kutuliskan "maafkan aku sayang", entah kenapa aku begitu yakin kamu akan makin membenciku, aku tak bisa merasakan bencimu lebih dari ini. Biar saja kata-kata itu tak pernah sampai padamu, semoga Tuhan masih berkenan meletakkan maaf yang sama pada hatimu.

Jangan salah paham nduk, aku sudah berhenti mencoba memaksamu untuk kembali bersamaku. Sudah cukup lama aku memutuskan berhenti memaksakan apa yang bukan kehendakmu -yang aku sudah aku sadari bahwa akan membuatmu makin membenciku-. Tapi maaf nduk, aku ndak bisa mengangguk untuk permintaan yang kamu sampaikan padaku tempo hari. Tak akan kutuliskan disini apa yang kamu minta kulakukan, cukup aku dan kamu yang tau. Mereka yang tak pernah tau apa yang terjadi pada kita benar-benar menjadi belatung yang menggerogoti bangkaiku. Aku tak suka mereka menghakimi apa yang terjadi pada kita, entah itu tentang kamu, atau tentang kejatuhanku. Bahkan mereka tak juga memahami saat berkali-kali kuucapkan ini kesalahanku pada awalnya. Akhir sebuah lagu selalu bermula dari intro, aku yang memainkan melodi intro itu, bukan kamu.

Begitu juga dengan alasan otakku menolak untuk mengamininya,sudah kujelaskan kepadamu, pada pesan yang hingga saat ini belum kamu baca, mungkin namaku sudah kamu masukkan pada kotak sampah di contact milikmu, yang walupun kamu baca, aku yakin kamu tetap menganggapku bocah. Maaf nduk, aku ndak bisa. Aku merasa menjadi orang lain saat mencoba melakukannya. Jika aku harus menjadi orang lain untuk menjadi seseorang yang kamu cintai, mungkin kamu sudah menemukan sosok yang kamu cintai, yang membuatmu menginginkan aku sesempurna dirinya. Dari awal aku berharap kamu mencintaiku, bukan mencintai sosok yang kamu cinta.

Ndak tau, aku bener-bener ndak tau, apa memang kamu sudah ndak sayang sama aku waktu kamu mulai membenciku, hal yang menurutku aneh nduk, mungkin aku cuma belum tau cara untuk melakukan hal yang sama, entahlah. Tapi yang aku tau nduk, saat kamu memilih membiarkan perihal itu meringkuk di hatimu,maka dia akan tetap disana, saat semuanya berakhir,dia akan tetap ada disana, mungkin nyalanya mengecil, tapi dia ada nduk, jika kamu berkata dia mati, kamu pasti berbohong nduk. Jika memang bencimu lebih besar, lakukan saja nduk. Apa yang aku bicarakan ndak bohong, aku ndak mengharapkan hubungan kita kembali seperti dulu, aku ndak pernah ngomong dia mati nduk, aku cuma ndak boleh terus diam di sini. 
            
Majulah dan berhenti menyayanginya, banyak yang lebih baik darinya, terlalu banyak orang yang menyarankan hal itu padaku. Apa kamu mengikuti salah satunya nduk? Jika aku hanya memilih maju, dan tetap peduli padamu, tolong tunjukkan kesalahan atas keputusanku nduk. Ya, aku peduli, hanya peduli, bukan ingin memilikimu lagi. Adu mulut yang makin kacau membuat ambisiku untuk bertahan mengejarmu hilang, Aku cuma ingin adu mulut itu berakhir. Banyak celaan yang mengatakan ini omong kosong, aku hanya bisa mengatakan, aku bukan mereka. Tak cukupkah?

Mungkin kamu benar nduk,aku memang makhluk paling aneh, menyebalkan, juga membosankan sedunia. Aku , sampai saat ini belum memungut penyelesaian selama aku berjalan, buntu. Apa yang aku lakukan selalu berakhir dengan kemarahanmu, tapi penyelesaian yang kamu tawarkan ndak pernah bisa aku terima nduk, kamu ndak memberi pilihan yang lain, take it or leave it. Hingga saat ini aku masih memilih untuk bergentayangan diantaranya, mencari penyelesaian yang lain.

Dan kalian, tolong jangan menerka-nerka. Ini bukan tentang pemujaan, tak ada yang dipuja dan memuja. Hanya lelah.
         

Cahya Bagus Mandalukita
      

Wednesday, September 18, 2013

Sesungging Petikan

When there is love, you can live even without hapiness
                            -notes from underground-

idealisme yang membuat tersungging,sebuah senyuman:)

Tuesday, September 10, 2013

Tanda Tanya

Seorang lelaki dengan bekas luka yang tak pernah bisa kamu lihat dengan mata,

kembali tersenyum setelah lama berduka atas sebuah kekalahan dari bayangannnya sendiri, bangkit atas kematian yang tak membunuhnya baru sekali,

mendaki jengkal setelah jungkal sekali mengitari matahari,
semua teman-temannya berkata bahwa seseorang di luar sana tercipta untuknya, hampir semuanya sedang bahagia,dan tak ada celah baginya untuk begitu saja percaya,

fakta tak pernah sekalipun di dapat dari kata-kata, kali ini dia mencoba mencari kebenaran serangkaian kata hiburan teman-temannya,mencari cara menemukan satu cela diantara milyaran sempurna,

sebuah cara dicoba, jari-jarinya mengetikkan alamat blog miliknya,dan mulai menulis,blog yang bahkan hanya dikunjungi beberapa pengangguran sekenanya,

dan ia mulai membuat 20 daftar pertanyaan untuk siapapun yang membacanya,setidaknya blog miliknya bisa di akses oleh seluruh dunia,biarpun bisa memiliki definisi yang sangat berbeda dengan [asti,,blog miliknya tidak mendunia,tentu saja,
sudahlah,baca saja,

Kepadamu entah siapa disana,

setidaknya dengan ini aku mengenal kamu yang mungkin tak pernah sekalipun aku tau,sebentar saja berikan kunci matamu agar kucuri perhatianmu dengan santun,jawab saja sesukamu, mungkin kamu bisa ajak teman-temanmu,sesukamu,siapa saja mereka,
tenang saja,ini bukan wawancara kerja,bahkan aku tidak akan mampu menggajimu kalau kamu bisa menjawab semuanya sekalipun,

1. Seorang pengganggu yang selalu mengikutimu,atau seorang teman yang tak pernah ada?
2. Sebutkan saja jumlah waktu yang kamu habiskan untuk, a.)saling menatap mata, b.)berpikir mengenai dirimu sendiri dan menertawakannya lain kali, c)meneguk kopi dan menarik nafas
3. Kecupan di kening,atau belaian pada rambutmu yang entah lurus panjang,ikal,berponi,atau entahlah bagaimana?
4.apakah kamu bertanya siapa aku?
5.Mana yang paling kamu rindukan?kecupan di kening,mencium punggung tangan, atau jari-jari yang memijat kepalamu saat mandi?
6. piano atau biola?
8. Pengemis renta atau pengamen kecil?
9.  Berenang dan tenggelam,atau berlari dan patah kaki?
10. ......
11. kamu atau aku?
12. Logaritma atau gerak parabola?
13. Membenci seseorang yang kamu sayang,atau dibenci orang yang kamu sayang?
14. Seberapa sering kamu menuliskan "aku merindukanmu?"
15. Pertanyaan ke lima belas, ingin kutanyakan sekarang,atau nanti saat aku berjabat malu-malu?
16.Lumba-lumba berkulit licin,atau kucing persia yang membuatku bersin tapi tak pernah berhenti menggendongnya?
17. apa yang kamu pikirkan tentang no 10?
18. Bagaimana caramu memaafkan seseorang?menggeleng, mengangguk,menatap,atau meratap?
19. Berapa besar ruang yang kamu sisakan untuk masing-masing orang yang pernah kamu maafkan?
20. Jika aku memintamu mencari sesuatu tentang nomer tujuh,kemana kamu akan mencarinya?

hingga saat ini dia melihat tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan-pertanyaannya, dan tersenyum menertawakan dirinya sendiri.


13.12 11 September 2013


Cahya Bagus Mandalukita

Monday, September 9, 2013

September Jatuh

September berseru gema.
menyeru kabar sebelah hati tersenyum bahagia, sedang pasangannya mengeras tak lagi berasa.
keduanya hilang, rasa, juga asa.
setahun lalu.

September, gagal menggigil.
berkali-kali mencoba membeku.
buka mata, apa yang dipuja tidak pernah gagal cela.
Penghamba tak mencari iba
mereka melihatmu sepenuh jenuh tuduh, meneduh, tak sekalipun menjauh.
jangan juga kamu tanyakan mereka tentang cela, mereka tak pernah tau
baginya tak ada cela, hanya bagian dekap cinta

September benci mencaci,
mengangkat pedang getah, berbekas pada degup gugup
berdansa pada sayatan patah, ranting,juga kata
bukan, hati tidak patah, mereka tumbal tumbang

September, mencandu rindu
belah bilah bermata dua, menghentikan debar hambar senyum, pada perang paling hangat
sebuah sumber kelahiran, menarik restu berganti pastu,
mengetuk kutuk anggukan Tuhan.

September, pulang tergesa
berjingkat cepat mengendap genap
mengejar kereta yang sudah meninggalkannya kemarin sore
berlari sejajar dengan seorang gadis mengikuti kata hati,
sekali bersilang, lalu semakin menjauh

September, dengan semua harapan yang jatuh padanya menahan lebam beban.
  
7 September 2013















Cahya Bagus Mandalukita
Twitter Bird Gadget