Wednesday, February 12, 2014

Jatuh Hati dan Zoey Deschanel



Suatu saat, seperti kamu, dan yang semua orang tau, aku juga akan meregang nyawa. Setelahnya aku ingin menjadi kaos kaki. Bercengkrama dengan sepatu datar dan mendengarkan cerita tentang setiap jingkat  langkahmu seharian.  Atau menjadi perilaku burukmu, yang sangat ingin kamu tinggalkan dan tak pernah mampu. Menghantuimu dan tetap melihat senyum nyaman disana.

Aku akan berada di sana, pada pemakamanku sendiri. Mata yang sayu  tak mampu memenangkan perang melawan sudut bibirku, memenjarakannya agar tak tersenyum saat melihatmu. Biar saja aku  tak  mengerti penyebab kakimu mengantarkan sebuah hati mengunjungiku. Tanah yang  kamu  injak, tak akan pernah tau apa yang kamu kunci rapat dalam hati, simpan saja sendiri, tak akan kutanyakan. Mungkin memastikan kematianku. Lalu aku bertanya  pada  sebuah batu persegi di atas pusaraku,  tentang perihal kacamata hitam yang kamu pakai saat itu.   Air mata yang tak perlu kamu sembunyikan sebenarnya sayang –jika kamu  masih mengijinkan kematianku memanggilmu begitu.

Aku  akan mengunjungimu, seminggu sekali. Pada mata ayah ibumu, pada sidik jari kekasih barumu, atau mungkin aku benar-benar menjadi kaos kaki. Aku ingin mencintaimu diam-diam. Masih sama seperti yang selama ini pernah kulakukan.

Kamu seperti kebun belakang  rumah masa kecilku.  Berlari telanjang mengelilinginya dan malu tak pernah  singgah pada lutut, juga otakku. Atau mungkin saat itu mereka berdua hal yang sama. Beberapa kali lututku – yang  mungkin juga  otakku memerah darah, dan mataku menangisinya. Tapi esoknya  aku kembali berkeliling, dan melakukan kebodohan yang sama. 

Jantungku pernah berdenting satu nada dengan langkah sepatumu yang terbang di sebelahku. Aku sendiri melayang saat kamu mendengarkan denyut hatiku yang melenting lewat  jari-jari kita  yang terjalin.  Milikku sekarang  berdegup  satu oktaf lebih tinggi, melengking sejak terakhir aku merasakan sesuatu bernama cemburu.

Sekarang, ada satu kala aku meriang aku menyebut sesuatu dengan nama sunyi, lalu aku memanggilnya sepi. Sesuatu yang kusebut rindu saat kita berdua.

Kamu seekor merak jantan betina, mendongak atas sesuatu yang bahkan tak kau lukis sendiri. Mengumumkan pemenang sayembara atas seseorang yang sekiramu tak mampu berjalan jauh. Kita mainkan saja permainan masa kecilku, dalam sebuah kotak, dan kita diam berdua. Tak ada pemenang di dalamnya.  Nyatanya kita  berdua  kalah, dengan kamu berpikir kakiku terjepit masa lalu.

Aku bersumpah, pada setiap peluk yang kamu dekap, paduan suara jantungku mampir pada telingamu. Aku bersumpah, pada setiap napasku yang kamu sesap dengan tak sengaja, aku yang mengisi paru-parumu, juga  mendetak jantungmu, dan pada setiap jemari yang menjamah tubuhmu, kamu melihat namaku pada setiap jejak yang ditinggalkannya. Aku menghantui, seperti ikan remora.

Aku menghitung  satu, dua, tiga.  Memotong jariku yang masih menguap walau dia tak punya mulut. Hingga hitungan ke sebelas, menumbuhkannya lagi dengan sekeluarga ludah yang memicingkan mata. Lalu aku melupakan apa yang kupenggal pada hitungan kesebelas.

Mataku  terbuka, dan sudah berjalan pelan-pelan, aku masih mengantuk, ditabrak kenangan bukan pilihan yang ingin aku dapatkan. Tak ada satu orangpun yang lari,  kurasa karena hanya kamu yang menghadiri kremasi ini.

Aku  mati, hanya ingatanmu yang melihatnya begitu.


Cahya Bagus  Mandalukita

Noted: kamu bertanya mengenai  judul sajak ini? ah alasannya sederhana kok, agar google yang baik hati lebih mudah membantumu mencarinya.

Friday, February 7, 2014

Lima Goresan, Perihal Kehilangan




I.  Hujan, dan Kenangan yang Datang Menumpang  


Aku ingin bertanya perihal hujan di kotamu, berapa kali  mereka datang mengunjungimu dalam sebulan? Apakah mereka datang tiba-tiba, atau terlebih dulu mengetuk halamanmu dengan rintik  gerimis? Apa hujan di tempatmu cukup ramah untuk membiarkanmu bermain saat mereka mengunjungi rumput kebunmu? Masihkah kamu menyukai bermain di bawah hujan? 


Aku sendiri tak pernah memahami hujan, apa alasan mereka mengunjungiku, juga perasaan mereka padaku. Jika kamu bertanya padaku, aku sangat mencintai hujan. Bukan pelangi yang membuatku bahagia. Aku suka melihat rumput-rumput tersenyum memandang pelangi saat senja, seolah mengucapkan selamat tinggal pada orang terkasihnya yang baru saja berlalu, aku juga menggilai bunga mawar dengan bulir air pada kelopaknya, aku jatuh cinta pada suara burung di  hutan belakang saat pagi  setelah hujan semalaman, meskipun aku tak  mengetahui alasan kicau mereka,  entah mereka  memaki  hujan yang merusak  percintaan mereka  pada  malam sebelumnya,  atau  berterima kasih padanya karena menyejukkan pagi.


Apakah kalian memahami  mekanisme hujan?  Aku tidak. Bukan,  bukan siklus terjadinya hujan, untuk yang satu itu aku paham di  luar kepala, siklus itu sudah kupelajari bahkan saat aku di sekolah dasar. Maksudku mekanisme kerja mereka, bagaimana mereka  menyimpan semua rekaman kenangan, bagaimana  mereka mengantarkannya  pada kepalamu, dan menyingkronkan dengan hatimu, lalu membuatmu  tersenyum, menitikkan air mata,  atau termenung karenanya. Merusak  sisa hari pertamamu bulan ini yang telah bahagia melihat rekening gaji yang sudah bertambah. 


Ambil selembar kertas, darimanapun asalnya, buku catatan, bill restoran, novel  yang sudah selesai kamu  baca, apapun, aku tak mempermasalahkan sumbernya, dan sebatang pensil,  atau pulpen. Mulailah menulis  semua hal  yang melintas di  otakmu  saat memandang bulir-bulir air yang dijatuhkan Tuhan dari  langit.  Tidak perlu  kamu  sampaikan padaku hasilnya, simpan saja sendiri untukmu.  Aku  tak memerlukan hal-hal terkait  kenanganmu, jika disana tercantum nama ibumu, segeralah menghubungi  beliau,  selagi sempat. Aku sendiri menyimpan daftar  itu pada  dompetku, sekedar mengingatkanku  pada semua hal  yang berharga (atau bisa jadi hanya sebentar singgah) di sampingku.


Semua kenangan yang direkam olehnya, oleh hujan, sebagian besar mengenai  perihal kehilangan. Entah kenapa hujan menjadi perantara paling melankolis bagi (mungkin) kita, sejujurnya aku  menyukai hujan, tapi tidak dengan kenangan yang datang menumpang padanya. Saat bulir hujan yang kucintai  itu menghilang, mereka hanya menyisakan hal bernama kenangan. Menyebalkan bukan? Aku masih mencari  cara menikmati hujan tanpa kenangan. Bagaimana denganmu? Beritahukan padaku jika kamu  sudah menemukan caranya,  bersediakah?



II.  Ulat dan Sepohon Daun Jeruk Nipis

Bolehkah aku mengetahui pikiranmu tentang seekor ulat? Ah tidak, ulat bukan hewan melata,dia lebih terlihat seperti merangkak perlahan buatku. Apa kamu jijik melihatnya? Aku cukup mahfum, hampir semua hewan invertebrata memiliki tubuh yang bisa jadi membuatmu merinding. Walaupun tidak buatku, aku tidak jijik memandang ulat. Lagipula jarang aku menyempatkan untuk menyisihkan waktuku memandang ulat. Bagiku dia hanya  seorang anak kecil  yang sedang menjalani kehidupannya sebelum dewasa. Apakah ada seseorang yang jijik padaku saat aku balita? Rasanya tidak, karenanya aku merasa tidak adil jika harus menghakimi tubuh kecil ulat yang tak mengetahui apapun tentang pikiranku, tentangnya.


Ulat kupu-kupu yang aku tak tahu apa namanya, jika kamu mau sedikit mencoba mengerti tentang kehidupannya, mengajarkanmu banyak hal tentang kesabaran dan ketabahan hidup. Menurutku kisah hidupmu tak ada sebiji padi daripada kehidupan seekor ulat.  Apakah kamu ditinggalkan ibumu sebelum kamu sempat bertanya pada beliau  bagaimana cara berjalan? Atau mencari makan? Atau cara merajut kepompong keras itu?


Ya begitulah kehidupan seekor ulat, seekor kupu-kupu betina (mungkin mereka memanggilnya ibu) meninggalkan beberapa puluh telur di  balik sepotong daun, pada sepohon daun jeruk nipis beberapa hari yang lalu. Berharap  dunia akan menjaga dan membantunya bertahan menjadi seekor  kupu-kupu  yang melanjutkan kehidupannya. Aku memperkirakan beberapa puluh telur ulat itu adalah jumlah yang cukup untuk membuat sepohon daun jeruk nipis ini menjadi sepohon jeruk nipis berdaun ulat.  Entah kenapa  hanya satu ulat  jeruk nipis ini yang terlihat di sini. Banyak kemungkinan yang terlintas di benakku, bisa jadi dia ulat yang pertama kali keluar  dari telur kecilnya yang menjadi terlalu sempit  setelah dia tumbuh dan berkaki, lalu  memakan ssaudara-saudaranya  yang belum cukup  umur untuk  melihat dunia, atau dia  hanya  si  bungsu  yang  lahir belakangan,  sementara saudaranya  yang lahir lebih dulu meregang nyawa pada paruh nuri kelaparan, jika cerita  terakhir benar, maka takdirlah yang membantunya  melanjutkan hidup. 


Tak  butuh waktu lama baginya  untuk belajar merangkak dan mulai mengunyah. Rasanya tak sekalipun dengan tedeng aling-aling ulat kecil ini memohon ijin pada pohon jeruk  nipis  itu untuk menghabiskan daunnya, mana paham dia tentang perih yang dirasakan si pohon saat bagian tubuhnya robek oleh gigi-gigi kecil itu. Alih-alih menggelitik, gigi-gigi itu lebih menimbulkan perih kurasa. Tak salah juga  sebenarnya, apa yang kamu harap diketahui ulat kecil yang ditinggalkan ibunya sebelum menetas mengenai sopan santun, tak seulatpun yang mengajarkan hal itu padanya.  Tak paham juga aku darimana dia mengerti cara menggunakan kaki-kaki kecilnya, juga  cara mengunyah. Entah apa dia punya tenggat waktu untuk  menjadi kepompong, yang aku tahu ulat kecil itu tak juga berhenti mengunyah.


Jika ulat itu mengetahui perihal ketabahan,  maka  pohon jeruk nipis punya  satu perihal luar  biasa  lainnya.  Kamu perlu belajar darinya mengenai keikhlasan. Tak sekalipun pohon itu  mencoba  menancapkan duri saat ulat menggerogoti daunnya. Padahal dengan ukuran durinya, ulat sekecil itu pasti mati seketika. Tapi dia membiarkan anak kecil itu menggerogoti bagian tubuhnya, menggantikan ibu kupu-kupu menyuapinya hingga anak kecil itu cukup kuat merajut kepompongnya sendiri. Mungkin sembari berharap anak kecil itu tak cukup tega memakan daun muda miliknya.  Menumbuhkan tunas daun tak semudah yang kamu kira, seperti membesarkan anak kukira. Bisa jadi daun itu menjadi cukup bagus untuk berfotosintesis, atau tanggal jika tak cukup kuat menahan terpaan angin. Apa kamu berpikir kehilangan tunas itu bukan masalah besar? Pikirkan lagi, kamu kira darimana asal kambium besar pohon beringin di depan keraton jogjakarta? Ya, dari setunas kecil daun yang dibesarkan dengan susah payah, apa kamu masih berpikir itu bukan masalah besar?

Genap seminggu sudah ulat kecil itu menjadi parasit pada dahan-dahan  pohon jeruk nipis. Gerakannya  melambat, sepertinya  kulitnya  sudah terlalu  sempit  untuk tubuhnya yang menggembung karena tak berhenti mengunyah. Sekarang kalian mengakuinya kan?  ulat bukan reptil  melata yang bisa berganti kulit saat tubuhnya  membesar.  Mungkin itu juga  yang menjadi alasan sebenarnya seekor  ulat merajut kepompong, setidaknya  dengan begitu mereka  berpuasa makan. Tubuh yang berat bukan gegaman yang bagus untuk melanjutkan perjalanan. Bukan menginginkan dirinya menjadi kupu-kupu,  bagaimana mungkin kamu menginginkan menjadi sesuatu yang meninggalkanmu dalam bentuk telur? Aku makin membenci kupu-kupu. Selain perihal meninggalkan para telur itu, sepertinya mereka menjadi teladan bagi para wanita. Meletakkan pemikiran brilian bahwa untuk menjadi cantik kamu harus berhenti makan. Lihat saja ulat buruk  rupa yang berhenti makan, sesaat mereka akan tersiksa menjadi kepompong yang tak bisa melakukan apapun, tapi setelahnya mereka menjadi kupu-kupu cantik  dengan sayap  yang mengagumkan. Jika benar mereka yang membuat para gadis berpikiran untuk menyiksa diri dengan “sumpahtakmakan” mereka, sepertinya aku benar-benar akan membumihanguskan kupu-kupu di seluruh dunia.  Tak pernah tega aku melihat para wanita berdiet, Terlalu menyiksa bagi mataku.


Benar saja,  tak  sampai sehari ulat itu sudah menjadi kepompong berwarna hijau muda. Tersamar dengan sangat cantik diantara daun-daun segar jeruk nipis belia. Kamu pernah mendengar tapa Arjuna saat mencari pusaka panahnya? Kepompong mirip seperti  itu, mereka bersemedi, tapa tanpa makan dan minum, hanya saja  tanpa  menggemparkan istana betara guru. Menurutku mereka lebih hebat dari Arjuna, tanpa perlu membuat para  dewata itu cemas kelimpungan setengah mati, mereka mendapatkan sebuah pusaka. Sepasang sayap cantik yang entah sebuah anugerah atau kutukan bagi mereka. Bagaimana tidak, sayap-sayap itu yang membuat mereka begitu mengagumkan, dan sayap-sayap  itu pula  yang membuat  beberapa  dari mereka harus bergelut dengan formalin dan menjadi cindera mata pada sebuah bingkai keemasan.


Tiga hari setelahnya, kepompong itu bergerak, seperti baru membuka  mata dari tidur  panjang. Aku rasa, dari caranya  bergerak dia tidak menguap, otak kepompong tak membutuhkan oksigen saat bosan, atau mungkin karena dia  tak  memiliki mulut, juga hidung.  Aku jadi berpikir  bagaimana cara dia  bernafas, rasanya  kulit kepompong itu terlalu keras  untuk rembesan udara. Ah sudahlah, mungkin kepompong tak perlu bernafas untuk hidup, toh kenyataannya  dia  tetap hidup. 


Ada sesosok aneh yang beringsut keluar  dari dalam kepompong hijau muda, mirip kakek tua  keriput, kisut. Entah sejak kapan dia berada di  dalam sana, juga bagaimana cara dia keluar  dari penjara hijau muda keras itu. Kuperhatikan dia tak bergigi, juga tak  bertanduk. Sesaat dia terdiam di sana,  berjemur pada matahari pagi. Sayapnya seperti kerupuk, membutuhkan panas untuk mengembang. Hanya saja  dia menggunakan terik  matahari dan hembusan angin, bukan minyak kelapa. Tak  lama,  dia pergi tanpa  mengucapkan sepatah selamat tinggal  pada jeruk nipis, dan meninggalkan sepotong kenangan pada bekas kepompong hijau muda. Sekarang aku tak bisa  memutuskan pada siapa aku harus  lebih mengiba,  pada seekor ulat yang  sudah sempurna menjadi  kupu-kupu, menjadi perihal yang pernah meninggalkannya dan melakukan hal  yang  sama, meninggalkan sepatah dahan jeruk nipis, atau pada  jeruk nipis muda, yang ditinggalkan sebatang kara.


III.   Airmata dan Pipi Gadis Pengamen Kecil


Aku melihat  sepasang sayap  malaikat kecil, duduk sambil memegang  uang recehan. Lingkaran logam yang tak cukup untuk  menjadi segerombolan dan menggemerincing. Tangannya  kehilangan tongkat kebahagiaan, mungkin seorang raksasa menukarnya dengan batang kayu kecil yang berisik saat lempeng pipih ujungnya  bercumbu.


Matanya abu-abu, tak  sedalam lautan, tak juga segelap dasar palung laut. Matamu dengan mudah bisa  melihat apa isi di dalamnya, kosong. Sama kosongnya dengan lambung yang tak  terisi makanan apapun sejak siang tadi,  pada tubuh yang sama. Mata-mata yang lain memandangnya  berbelas kasihan penuh kesombongan. Kebanyakan manusia  seperti itu, merasa dirinya lebih baik daripada yang lainnya. Sedang nurani sendiri lebih memilih  untuk  memeluknya.


Matamu langit mendung,  kelabu. Mendung seperti karung beras kelebihan beban, tapi matamu  tak pernah berhujan deras, menggerimis  pada sebuah pipi yang terlihat seperti kawah tanah, cekung dan coklat. Air mata sedikit meredakan perih yang dirasakan hati, padahal dia mengering pada sebuah pipi. Mungkin pipi  adalah pintu masuk hati, sekarang aku tahu kenapa  ibuku suka mengecup pipiku. Sekedar menyejukkan hati. Paragraf ini aneh, terlalu banyak kata hati.  Bukti bahwa  jariku tak begitu  pandai menyusun kata-kata.

Kukutip dari  seorang teman, “hidup tak selalu monokrom”. Maaf kawan jika  ada yang salah dari yang kuucapkan. Tapi  kamu sepertinya harus  datang kesini dan melihat ini, apakah abu-abu  adalah monokrom yang kamu maksud,  atau sesuatu yang lain?


Sepotong malaikat yang sudah tertidur,  dengan pipi coklat tanah yang sudah berkerak, ditinggalkan air mata.


IV.  Kakek dan Pensil Kayu


Aku tak bisa menulis tentang ini, cinta puluhan tahun hanya  bisa kamu rasakan saat mengalaminya, bukan membacanya. Hanya saja mereka saling kehilangan saat pensil kayu itu habis.  Melukis segores rambut gadis yang menikah dengannya 50 tahun yang lalu. Itu saja.


V.  Remaja dan Kawan Lama


Kalian pernah saling  jatuh cinta saat sekolah, atau menyerahkan diri pada satu ketulusan. Barangkali suatu saat menjadi hutan dengan hanya dua pohon merah yang tak lagi saling menyapa, diam dan kaku. Tapi  bukankah kalian tak peduli akan masa depan? Genggaman kalian adalah masa depan bagi kalian, dan tak ada seorangpun yang memprotesnya.


Gadis itu selalu berada pada  sebuah pilihan,  tetap merasa tersakiti atau mati. Hei nona, tahukah kamu bahwa pria disampingmu juga  memutuskan menancapkanmu pada dadanya? Pilihannya sama, membawamu bagaimanapun tertatihnya, atau mencabutnya dan lebih dari terluka. Tapi bukankah kalian tak pernah peduli rasa sakit? Kalian saling menghujam dan tetap mencoba bahagia.


Selamat siang pagi. Seperti sengaja kamu datang terlambat hari ini. Memberi waktu lebih lama bagi mereka untuk beristirahat? Ah ya, telinga mereka butuh tidur, setelah semalaman menguping percakapan dua manusia jatuh hati. Tapi bukankah kalian tak peduli orang lain? Guru kalian hanya lalat kerbau  yang mengganggu jika kalian tertidur di kelas.


Mulut kalian menjadi terlalu tajam dan jantung kalian tak mengijinkan belati itu menancap lagi, jadi kalian sekarang tak lagi ingin mati? Sekarang kalian mulai peduli?


Pada satu perjalanan kamu meninggalkan sepasang hati kecil  pada panti asuhan. Kaki kalian berjalan menjauh.  Mereka menjadi  sepasang anak kecil  yang ditinggalkan pada pasar malam, kecil  dan tak tahu harus kemana, sekarang kalian mulai peduli?

Ya, lupakan saja. Kalian juga sudah tak ingin saling mengingat. Sudah tak ingat lagi menjadi tak peduli?




Sekarang mulailah mengingat, berapa banyak dunia ini kehilangan?


Cahya Bagus Mandalukita


Saturday, January 11, 2014

belajar gambar

ga tau kenapa gue lagi demen gambar-gambar, dan ga ngerti juga kenapa gue tiba-tiba bisa gambar,,tapi ya udah deh,g ada yang dirugiin juga...mau pamer dikit boleh kan yaaaakk..biarpun belom bisa dipamerin sih sebenernyaaaa..hahahah

pasti elu-elu ada yang nanya,.,kok gambarnya cewek??itu gebetan??kalo gebetan kok orangnya beda??wkwkwk,,pertanyaan lu pada standar banget.,,gue jawab duluan yaaakk....gue gambar cewek soalnya gue dari dulu gak bisa gambar cewek, judulnya aja belajar gambar, kalo ujian gambar baru gambar yang gue udah diajarin dan seharusnya udah ahli, terus gue gambar buat pembuktian., kalo belajar ya yang gue ga bisa dong yaakkk.. gitu kan yak?? anggep aja lu lagi liat orang kurang kerjaan yak...di kritik boleh,,di puji jangan...hahhaha

ilustrasi geje


karikatur buat bos besar yang mutasi ke bangka belitung
magabuttttt
buat bapak anton yang ke ambon
memperingati taun baru


Tuesday, December 10, 2013

MIJIL, Pada Malam Sebelum Sebuah Kepergian

" Gus,hidup itu tidak akan selalu menanjak ke atas, suatu kali dia akan jatuh perlahan bahkan bisa jadi dia terjun sangat kencang menghambur pada tanah liat dan memfosil."

Seorang teman masa kecil berkata beberapa hari yang lalu,satu kalimat yang membuat kembali pada sebuah cerita masa kecil, semua cerita yang diceritakan ibu, beberapa saat sebelum berangkat ke tanah timur Indonesia. Mungkin kamu pernah mengalaminya, mendengarkan dan merasa menjadi seseorang yang tidak terlihat dalam sebuah cerita. Mengikuti setiap alurnya, berada disana, mencoba berteriak memberikan larangan agar masa depan berubah, namun semua tokoh dalam cerita itu terus saja melakoni jalan cerita yang sama, tak akan ada yang mendengarmu. Berpeganglah pada satu hal. Berhentilah berandai-andai, jika memang semua tokoh itu menuruti apa yang kamu teriakkan, masa depan tak akan berubah menjadi sesuai keinginanmu.

Anak kedua dari tiga bersaudara, satu bayi perempuan cantik lahir pada tahun 1988, seorang lelaki, saya,lahir tahun 1990, dan adik lelaki bungsu dengan masa kecil bak selebritis papan atas di keluarga besar kami karena tingkah lucunya pada tahun 1996. Dibesarkan dalam sebuah keluarga sederhana dan jika kamu mau tahu, menjadi seorang anak yang lahir 17 bulan setelah kakak perempuannya menangis untuk pertama kalinya melihat dunia bukan hal yang mudah bagi seorang ibu pada saat itu, bahkan sebelum bayi kevil itu menangis pertama kali seperti sang kakak setahun sebelumnya. Dengan kondisi keluarga yang baru menyusun batu-batu pertama rumah tangga, dua anak dengan umur yang hanya berjarak satu setengah tahun di rasa akan sangat berat menurut nenek,merasa tidak diharapkan lahir ke dunia saat mendengar cerita tokoh yang ada namun belum ada di dalamnya terasa sedikit menyakitkan. Hal yang sama membuat saya berpikir bahwa bahkan saya benar-benar memulai kehidupan di dunia ini dalam keadaan terpuruk. Berjuta maaf saya sampaikan untuk ibu, saya tau tak sedetik pun ibu memikirkan hal yang sama.

Saya berpisah dari  rahim hangat ibu pada tanggal 07 Januari 1990, pukul 00.57 jika saya tidak salah mengingat jam pada akte kelahiran saya.  tidak seperti kakak dan adik saya yang gemuk putih dan berbagai deskripsi tentang bayi menggemaskan pada umumnya, semua yang di deskripsikan tentang saya jauh dari bayi yang lucu menggemaskan. Tidak, saya tidak gemuk saat lahir, tetap kurus, seperti sekarang. Hanya saja tanpa begitu banyak hal tidak penting yang sekarang saya pikirkan, jadi saya rasa keadaan saya ketika itu jauh lebih segar. Dengan kulit gelap dan mata bulat dan lebar, juga daun telinga saya yang kisutentah apa saya masih bisa dibilang lucu saat itu. Saya tidak bisa bercerita banyak, waktu itu saya hanya bisa menangis dan mencari air susu, Apa yang kamu harap akan saya ingat? letak air susu? Retoris saya rasa. Tapi jika dibandingkan dengan cerita tentang kakak saya yang hampir dibawa pulang oleh suster yang jatuh cinta padanya, atau adik bungsu saya, mungkin saya bayi yang paling menyebalkan di dunia,-hal yang membuat saya sedikit mahfum mengenai pendapat banyak orang yang mengatakan saya menjengkelkan. Ya, bawaan lahir saya rasa.

Tidak ada hal yang bisa dibanggakan pada masa balita saya, jauh dari kata " masa kecil luar biasa". Saya tidak pernah mau makan ikan. Bahkan udang dan kepiting selalu membuat saya muntah dari apa yang saya dengar. Wanita mana yang tidak khawatir akan perkembangan otak anaknya yang seperti itu, begitu juga ibu. Tubuh mungil saya juga sangat sensitif, hampir setiap bulan dokter langganan keluarga kami akan bertemu ibu karena saya jatuh sakit, dan dalam periode yang sama, saya pasti demam tinggi hingga kejang-kejang, orang jawa menyebutnya setep, dengan cara melafalkan "E" pertama seperti petani dan "E" kedua seperti kamu merapal efek. Antibiotik sangat akrab dengan tubuh kecil saya saat itu, banyak yang tersisa dari pengaruh obat kimia itu pada tubuh saya, gigi saya rapuh, akibat terlampau banyak melahap antibiotik. Dan karena sering demam hingga kejang itu juga, dokter dengan sangat kejamnya berkata pada ibu, memohon maaf dan meminta ibu tidak kaget jika nanti ketika dewasa perkembangan otak saya agak terhambat. Dokter berkata ada kemungkinan seringnya saya setep bisa berpengaruh pada perkembangan kecerdasan saya.satu hal lagi yang membuat saya menggangguk lemah mengerti, mungkin itu juga sebabnya saya sering melakukan hal bodoh, mungkin dokter itu benar.

Pemalu yang luar biasa, saya selalu berjalan di belakang ibu, mengait celana atau tangan beliau. Jangan pula coba-coba menggendong saya saat baru pertama kali bertemu jika tidak mau dibekuk polisi dengan tuduhan penculikan, saya pasti menangis sejadi-jadinya. Dan bagaimana perasaanmu jika menjadi saya saat pada akhir ceritanya mengenai hal itu ibumu berkata padamu sembari tertawa,
"setidaknya ibu ndak pernah takut kamu diculik pas kecil mas"
Boneka smurf kecil berwarna biru dengan topi putih yang (menurut saya)  keras, mungkin dia di adopsi dari sebuah pasar malam, tapi jika kalian ingin tahu, dia sahabat terbaik di dunia. Kuceritakan sedikit rahasia, dia bisa berbicara!!!!-setidaknya dalam pikiran saya yang bahkan saat itu belum dapat melangkah, ataupun berkata. Saya memeluknya setiap malam sebelum tidur,bagi tubuh saya yang kecil,dia tetap saja boneka smurf kecil, Tapi saya berhenti bermain dan ngobrol dengannya saat berumur belum dua tahun jika saya tidak salah ingat. Dari cerita ibu, saya baru melangkah pertama kali pada umur 20 bulan, dan mulai berbicara enam bulan kemudian. Bayi bodoh jika saya boleh menilai diri saya sendiri. saya menggigiti topi putih miliknya,dan bibir saya berdarah,sejak saat itu dia tidak pernah lagi terlihat,mungkin smurf kecil sahabat saya menangis dan pergi entah kemana setelah ibu memarahinya. Satu hal yang membuat saya marah padanya, bahkan dia pergi sebelum saya sempat mengucapkan terima kasih padanya.
  
Ada waktu saat kita tak saling menyalahkan, tak saling berprasangka, berpikir dengan sangat sederhana, dan melakukan semuanya tanpa berpura-pura. Ada masa dimana kita berbicara pada sebuah boneka, merasa berada di dalam sebuah mobil mainan dan berputar mengelilingi rumah raksasa, saat kita berbicara pada seseorang yang tidak pernah ada, tidur pada box dengan iringan lagu yang sama setiap malam, memeluk guling kecil yang km simpan hingga remaja. Tak ada salahnya kembali kesana dan mengingat semuanya saat ingin berucap dusta, saling mengiris hati, atau memeluk tubuh wanita yang tak pernah berhenti merekam semua jejak yang kamu tinggalkan.

sebuah potongan adegan dalam otak saya yang meloncat gembira,terbesit saat merasakan hangat pelukan wanita yang saya panggil ibu, pada malam sebelum meninggalkan rumah.

Friday, November 8, 2013

Catatan Satu Bulan

Jika mampu, ingin kutitipkan jemariku padamu barang sewindu, membiarkan mereka belajar menari pada tuts pemahat senyum wajah ayumu. Jika berkenan, jadilah guru bagi mereka, didik mereka sekeras-kerasnya, hingga saat mereka kembali, kuberikan kewajiban baru pada mereka untuk menari menghiburku, bahkan aku taka akan menyesali sedikitpun bila akhirnya peletak rasa menggeleng untuk menyandingkanmu bersamaku.

Atau setidaknya biarkan saja kita terus bertatap punggung, ingin rasanya aku mampu menghilang agar dapat memandangmu tanpa kamu sadari,melihatmu sedang tersenyum tanpa perlu memikirkan apa yang kau terka terhadap otak kosongku saat tak lepas lekat mataku, saat aku tersenyum melihatmu yang tak mengerti sebab melengkungnya sunggingan itu, aku suka wajah bingungmu. Andai aku bisa melukis, tentu da vinci akan tertunduk malu dalam peristirahatannya karena telah membanggakan monalisa begitu hebat saat menandingkannya dengan senyumanmu. Yang aku tau, aku hanya kehilangan satu hal cantik yang akan terlewatkan jika aku mampu menghilang, melihatmu malu-malu saat aku tak berhenti memperhatikan lakumu, tapi biarkan saja, sepadan rasanya.

Belum berubah,aku masih takut jika matamu melihat mataku saat melihat matamu, sebenarnya aku takut untuk saling bertatap mata denganmu, bahkan lututku terasa sangat mencintai bumi, berat sekali rasanya untuk membuatnya tetap berdiri menopang kakiku. Entahlah, mungkin gugup, beberapa perihal kegugupanku rasanya sudah pernah kuceritakan, aku takut menjadi terlalu mengagumimu, hal yang paling ku khawatirkan hanya menjadi tidak memahami keinginan sebenarnya untuk berada di dekatmu. Tidak sekalipun aku menyangkal bahwa alasan yang salah bukan hal yang mustahil untuk berakhir bahagia, mungkin hanya otakku yang terlalu matematis. Tapi kalkulasi yang entah darimana itu menghasilkan presentase duka yang terlalu besar jika ketakutanku dikabulkan Tuhan.

 Selamat pagi, kita berpijak pada bumi yang sama,menikmati sejuk angin yang sama, bermain-main pada rintik hujan yang sama, juga tersenyum pada matahari pagi yang sama, entah kenapa kamu jauh lebih mudah untuk melenakan mata, mengunci bibir dan mengelukan lidah saat tubuh tanah ini berdiri di depanmu. Bersamamu, aku lebih suka menatap matamu dalam-dalam,dan menikmati semua misteri disana, aku lebih suka mendengarkanmu bercerita mengenai tuts piano,gesekan biola,atau sekedar melihatmu memeluk adik laki-lakimu, teduh rasanya.

Aku melakukan sesuatu yang aku sendiri tak mempunyai alasan untuk melakukannya, tindakan bodoh, yang aku yakini tak membuatmu mempunyai alasan untuk jatuh cinta karena kebodohanku itu, Aku hanya mencoba membuatmu tersenyum, juga mencuri sedikit ruangan pada memorimu untuk mengingatku. Biar saja mereka tak mengerti, rasanya aku tak cukup peduli.

Kamu tentu tak mengerti apa hubungan dari setiap paragraf yang kubuat kali ini. Tentu saja,setiap paragraf kubuat saat aku mengingatmu, dan analisismu sungguh sempurna, bukan hanya sekali waktu aku mengingatmu, Setelah catatan pada telepon pintarku menghilang bersama dengan raganya, kuputuskan untuk menuliskannya disini, tak lagi pada gadgetku itu. Aku tak ingin catatanku tentangmu menghilang kesekian kalinya, sebelum kawanan kecil pengingatmu yang tersisa ini ikut menghilang, Kumulai kembali, kutuliskan pada suatu tempat, tentang aku, duniaku, dan semua hal yang mengingatkanku, yang tak perlu ku kirimkan padamu.

kepadamu yang mendekam dalam imajinasiku.

Timika, Denpasar, Surabaya,Jakarta,
4 Oktober- 9 November 2013,

Cahya Bagus Mandalukita


Sunday, October 6, 2013

Kepada Cinta Pertamaku

Bu, entah mengapa anak lelakimu ini menuliskan surat ini di sebuah jejaring sosial yang aku tau ibu tidak pernah membuat akun di jejaring sosial ini. Kalaupun ibu membaca surat ini, mungkin ibu membacanya dari akun milik mbak, atau adik, entahlah.. Mungkin anakmu yang sudah berkumis ini terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku sangat menyayangimu.. Oh iya bu, kumisku sudah aku cukur, maaf aku tak mematuhi saranmu untuk mengguntingnya, mencukur lebih praktis menurutku.

Bu, hari ini, ketika mengerjakan tugas bahasa inggris yang kalau ibu tau ini sangat membosankan, tiba-tiba aku mengingatmu. Sms terakhir yang kukirim untukmu berisi tentang seorang anak yang hampir tidak mempunyai pulsa di telepon genggamnya, dan memintamu untuk membelikan pulsa untuknya. Memalukan ya bu, anakmu yang sudah besar ini, masih meminta pulsa padamu. Aku yakin ibu pasti tersenyum membaca smsku, dan sebenarnya aku menunggumu membalas smsku seperti biasanya,"kamu ini sms ibu kalo minta pulsa aja", entah mengapa aku selalu tersenyum membacanya. Bu, sebenarnya aku ingin sekali mengirim sms hanya berisi aku kangen, aku sayang ibu, aku kangen soto ayam buatan ibu, tapi aku malu melakukannya. Entahlah, maaf ya bu, anak jagoanmu ini pengecut, malu rasanya mengatakan bahwa aku sungguh2 merindukan suasana rumah.

Bu, Baru saja aku selesai latihan basket seperti biasa, tapi lututku yang cedera ringan setelah pertandingan kemaren makin sakit. Sedangkan tugas inggris yang membosankan tadi belum juga selesai karena aku pergi latian hari ini sebelum sempat kuselesaikan. Hari ini aku harus terjaga agak lama untuk menyelesaikannya dengan lutut yang sedikit membengkak, agak ngilu memang, aku ingin mendengar ibu memarahiku karena masih memaksa latihan dengan kaki yang cedera, aku ingin ibu mengatakan bahwa ibu tidak akan menghiraukanku jika sepulang latihan melihatku terpincang-pincang, walau akhirnya ibu tetap menyuruhku cepat istirahat dan mengambilkan makanan untukku.

Bu, aku akan tidur lebih malam hari ini. Sama seperti ketika aku di taman kanak-kanak dan ibu mengajariku membaca, masih jelas di ingatanku ketika aku tidak mengerti apa yang aku baca dan aku hanya menghapal gambar yang ada di buku "latihan membaca" dan dengan percaya dirinya menjawab dengan lantang ketika ibu menunjuk gambarnya dan menyuruhku membacanya. Sekali ibu tersenyum, dan terbongkarlah trik yang aku buat. Ibu tidak membolehkanku tidur sebelum bisa mengeja kata apel dengan benar, membiarkanku duduk  di meja belajar dengan lampu belajar tetap menyala, ya hanya lampu belajar, karena semua orang telah tidur. Aku terus berusaha mengingat ejaan apel sambil menangis dan pagi harinya aku terbangun di tempat tidurku. Sekarang lihatlah bu, anakmu tidak hanya bisa membaca, aku hampir menyelesaikan kuliahku.

Bu, aku ingin membuat pengakuan. Ketika di sekolah dasar, sering jika aku lupa meminta tanda tangan ibu untuk ulangan-ulanganku, aku menandatanganinya sendiri dengan meniru tanda tangan ibu. Bukan, bukan karena nilaiku jelek bu, ibu tentu tau semua nilaiku. Ketika itu aku berpikir, tidak penting siapa saja yang menuliskan tanda tangan yang penting ada tanda tangan ibu, sering pula aku membeli makanan ringan di sekolah yang dengan tegas ibu larang karena ketika itu aku pasti sakit ketika memakannya, jujur saja, makanan-makanan itu enak menurutku dan tidak butuh waktu lama untukmu mengetahuinya, karena tidak sampai seminggu aku pasti jatuh sakit,sering aku mati-matian mengatakan bahwa aku tidak membeli apa-apa. Ibu tetap membawaku ke dokter dengan segera, tidak perduli aku berbohong, tidak peduli berapa biaya yang harus ibu keluarkan. Aku yakin,ibu pasti tau kebohonganku. Maaf bu, waktu itu aku tidak pernah berpikir aku akan menyusahkan ibu dengan perbuatan konyolku, pun dengan bagaimana letihnya ibu mencari rupiah untuk menghidupiku.

Bu, ketika pulang sewaktu liburan kemarin ibu mengatakan bahwa hasil pemeriksaan menyatakan kemungkinan ginjal ibu mengalami gangguan, begitu besar syukurku ketika pemeriksaan kedua menyatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Sudah waktunya ibu beristirahat, mungkin ibu bekerja terlalu keras, ingin rasanya aku cepat-cepat menyelesaikan kuliah ini dan meminta ibu berhenti mengerjakan semua sampingan yang melelahkan itu, ibu harus membuat kue kecil untuk keesokan harinya sepulang kerja, karena gaji saja tidak akan cukup menghidupi kami bertiga. Ketika aku sekolah, ibu pergi ke kantor, ketika aku pulang ibu masih di kantor, ketika ibu pulang, ibu masih harus membuat kue, bahkan hingga sangat larut, dan ketika aku bangun pagi, ibu sudah bangun berjam-jam lalu, atau sering hanya tidur beberapa menit. Maaf aku hanya bisa membantu sebisaku. Aku berjanji, ketika aku pulang nanti, aku akan memijat kaki ibu setiap malam sebelum tidur.

Bu, aku tau betapa khawatirnya ibu ketika aku menginjakkan kakiku di sekolah menengah atas. Tapi aku selalu menganggap bahwa kekhawatiran ibu berlebihan, sering aku pulang terlambat, bahkan hingga lewat jam 10 di rumah seorang yang aku anggap spesial ketika itu hanya karena aku ingin menemaninya hingga ayah ibunya pulang ke rumahnya atau menemaninya belajar biologi, entah kenapa dia ingin mengerti biologi, padahal ketika itu aku tau dia sangat ingin masuk desain perhiasan, tidak masuk akal menurutku. Tapi ketika aku pulang, kamu hanya berkata, jangan lewat jam 9 kalo bertamu. Aku tau ibu ingin aku dianggap lelaki yang bisa menempatkan diri di depan orang lain, apalagi di depan orang tua seseorang yang aku anggap spesial ketika itu. 

Bu, aku sungguh minta maaf ketika kelas 2 ibu harus menahan malu karena ada dua nilai yang sangat buruk, nyaris aku tidak naik kelas. Itu murni kesalahanku. Satu-satunya hal yang membuatku bekerja keras ketika akan mencari perguruan tinggi adalah membuat ibu bangga, maafkan anak smamu ini bu,,

Bu, sebentar lagi anakmu ini menyelesaikan kuliahnya, aku sangat menantikan wisuda. Namun maafkan aku bu, mungkin ibu harus menunggu agak lama dan sedikit bersabar mendengar nama anakmu dipanggil, karena anakmu tidak masuk ke rangking tiga besar lulusan tahun depan, tidak seperti saat aku Sekolah Dasar dulu, bahkan seratus besar sekalipun. Aku harap ibu tidak kecewa harus datang jauh-jauh ke jakarta dan masih menunggu lama untuk mendengar namaku disebut. Aku ingin ibu menciumku dan menggumamkan sesuatu padaku, yang pastinya doa terbaik untukku, mau kan bu?

Bu, jika aku tuliskan semua kesalahanku padamu, dan menuliskan semua maafmu untukku, tidak akan cukup malam ini aku merangkumnya. Aku merindukanmu bu, sungguh.

aku sayang ibu,,

Tulisan di atas saya buat pada 2011, 8 bulan sebelum saya wisuda, dengan judul "tulisan yang seharusnya dikatakan". Sekarang, saat makin jauh kita berada, bahkan jam di rumah kita saja tak menunjukkan angka yang sama, saya makin merindukanmu.

anakmu, untuk cinta pertamaku..


Cahya Bagus Mandalukita

Friday, September 20, 2013

Lelah

"Kamu ndak salah nduk."
Cuma itu yang ada di otak dangkalku saat aku berkali-kali jatuh, terluka lagi-lagi saat melewati jalan yang sama. Benci yang kamu rawat dengan begitu subur, hal yang bertunas karena kutanam dengan tak sengaja pada hati malaikat kecilku, balik mencengkram begitu kuat pada setiap laku bidak yang kuputuskan. Dosa yang kubuat tak akan pernah tertebus bahkan dengan tapa barata arjuna yang mengguncang kahyangan barata guru. Maafkan aku nduk, kamu punya banyak hal yang lebih penting daripada untuk membenci hati renta sepertiku. Berkali-kali aku merapal maaf, semoga suatu saat kamu mengamini.

Aku  tidak pernah memikirkan darimana kekuatanmu untuk berkata-kata. Hanya satu yang aku tau, semua kata penuh benci yang kudengarkan, karena kesalahanku. Bahkan saat aku merasa kamu salah pun aku pasti memikirkan bagian kesalahanku. Pernahkah kamu mendengar aku menyalahkanmu atas semua ini, nduk? Maafkan aku nduk jika ternyata pernah, lututku pun akan kurendahkan sampai tanah agar kamu memaafkanku. Sampai saat ini, aku masih terus menahan jariku, saat ingin kutuliskan "maafkan aku sayang", entah kenapa aku begitu yakin kamu akan makin membenciku, aku tak bisa merasakan bencimu lebih dari ini. Biar saja kata-kata itu tak pernah sampai padamu, semoga Tuhan masih berkenan meletakkan maaf yang sama pada hatimu.

Jangan salah paham nduk, aku sudah berhenti mencoba memaksamu untuk kembali bersamaku. Sudah cukup lama aku memutuskan berhenti memaksakan apa yang bukan kehendakmu -yang aku sudah aku sadari bahwa akan membuatmu makin membenciku-. Tapi maaf nduk, aku ndak bisa mengangguk untuk permintaan yang kamu sampaikan padaku tempo hari. Tak akan kutuliskan disini apa yang kamu minta kulakukan, cukup aku dan kamu yang tau. Mereka yang tak pernah tau apa yang terjadi pada kita benar-benar menjadi belatung yang menggerogoti bangkaiku. Aku tak suka mereka menghakimi apa yang terjadi pada kita, entah itu tentang kamu, atau tentang kejatuhanku. Bahkan mereka tak juga memahami saat berkali-kali kuucapkan ini kesalahanku pada awalnya. Akhir sebuah lagu selalu bermula dari intro, aku yang memainkan melodi intro itu, bukan kamu.

Begitu juga dengan alasan otakku menolak untuk mengamininya,sudah kujelaskan kepadamu, pada pesan yang hingga saat ini belum kamu baca, mungkin namaku sudah kamu masukkan pada kotak sampah di contact milikmu, yang walupun kamu baca, aku yakin kamu tetap menganggapku bocah. Maaf nduk, aku ndak bisa. Aku merasa menjadi orang lain saat mencoba melakukannya. Jika aku harus menjadi orang lain untuk menjadi seseorang yang kamu cintai, mungkin kamu sudah menemukan sosok yang kamu cintai, yang membuatmu menginginkan aku sesempurna dirinya. Dari awal aku berharap kamu mencintaiku, bukan mencintai sosok yang kamu cinta.

Ndak tau, aku bener-bener ndak tau, apa memang kamu sudah ndak sayang sama aku waktu kamu mulai membenciku, hal yang menurutku aneh nduk, mungkin aku cuma belum tau cara untuk melakukan hal yang sama, entahlah. Tapi yang aku tau nduk, saat kamu memilih membiarkan perihal itu meringkuk di hatimu,maka dia akan tetap disana, saat semuanya berakhir,dia akan tetap ada disana, mungkin nyalanya mengecil, tapi dia ada nduk, jika kamu berkata dia mati, kamu pasti berbohong nduk. Jika memang bencimu lebih besar, lakukan saja nduk. Apa yang aku bicarakan ndak bohong, aku ndak mengharapkan hubungan kita kembali seperti dulu, aku ndak pernah ngomong dia mati nduk, aku cuma ndak boleh terus diam di sini. 
            
Majulah dan berhenti menyayanginya, banyak yang lebih baik darinya, terlalu banyak orang yang menyarankan hal itu padaku. Apa kamu mengikuti salah satunya nduk? Jika aku hanya memilih maju, dan tetap peduli padamu, tolong tunjukkan kesalahan atas keputusanku nduk. Ya, aku peduli, hanya peduli, bukan ingin memilikimu lagi. Adu mulut yang makin kacau membuat ambisiku untuk bertahan mengejarmu hilang, Aku cuma ingin adu mulut itu berakhir. Banyak celaan yang mengatakan ini omong kosong, aku hanya bisa mengatakan, aku bukan mereka. Tak cukupkah?

Mungkin kamu benar nduk,aku memang makhluk paling aneh, menyebalkan, juga membosankan sedunia. Aku , sampai saat ini belum memungut penyelesaian selama aku berjalan, buntu. Apa yang aku lakukan selalu berakhir dengan kemarahanmu, tapi penyelesaian yang kamu tawarkan ndak pernah bisa aku terima nduk, kamu ndak memberi pilihan yang lain, take it or leave it. Hingga saat ini aku masih memilih untuk bergentayangan diantaranya, mencari penyelesaian yang lain.

Dan kalian, tolong jangan menerka-nerka. Ini bukan tentang pemujaan, tak ada yang dipuja dan memuja. Hanya lelah.
         

Cahya Bagus Mandalukita
      
Twitter Bird Gadget