Wednesday, April 23, 2014

Aku sedang Suka Melakukan Ini

Aku sedang suka merapi-rapikan isi ruangan blog ini. Aku membaca semua tulisanku yang dulu. Dan aku sadar, hanya anak muda yang waktu itu saja yang mengerti, lelaki tua yang sekarang ini tak lagi mengerti apa yang sempat diucapkannya beberapa tahun ke belakang. Aku sendiri tak pernah tahu apa mata-mata lain yang membaca ruangan ini bisa ikut mengerti. Tapi setidaknya dengan kurapikan, aku lebih suka berlama-lama di ruangan kosong ini.  ini Beberapa tulisan yang saya rapihkan.



1. #CANDURINDU 


Kamar ini sepi dan dingin, hanya ada laba-laba pada sudut meja menenun jala, dan cicak yang sedari tadi hanya mematung, mungkin bersedih kehilangan cinta.

Nyatanya cicak itu bukan sedang patah hati, dia hanya menunggu merenggut sebuah nyawa, jala itu tak lagi berguna. Tak ada lagi denyut disana, memang perihal makan memakan ini tak berdosa. Laba-laba itu tersisa kenangan, pun seekor nyamuk singgah sia-sia. Mati perlahan dalam kesepian. Reptil kecil itu bak buaya, berjalan pelan, kembali pada peraduan di balik kaca, kamar ini kembali sepi.

Kaca di depanku retak sedikit, tapi cukup jelas terbesit  memantulkan kisah,dimana ada kamu, dalam kepalaku meringkuk malu. Aku masuk ke sana, menemuimu. Kupilih kartu nasibku, dan terjebak disana bersamamu.

Di luar hujan, berbisik berisik. Mereka ahlinya, meramu bumbu pada rindu, mengelitik air mata, menciptakan pelukan pertemuan. Dan kini aku benci, mereka terus merintik turun berpasangan, menertawai aku yang sendiri. Tak adil, andai ada kamu, kuajak kamu keluar, melawan hujan.

Sepertinya nyali mereka mulai ciut saat namamu kusebut. Hujan habis tiga-dua-satu, langit sebentar lagi biru, hujan malu bisu. Dengki pada pelangi, yang datang dan mereka tidak diingat lagi. Angkasa dan pelangi senja, sama indah. Hanya saja bianglala lebih berwarna. Tapi mereka aneh. Keduanya cemburu pada matamu.

Aku bersandar, melihat sebuah gambar bergerak. Tertegun kunikmati jemarimu yang sedang menari pada tuts hitam putih. Berdansa, mereka tak bersuara, hanya nada menyampaikan rasa. Baru kusadari, jemarimu lentik, cantik.

Kugadaikan diamku, hanya demi mengatakan kau cantik. Ingat-ingat ini, kututurkan sekali, selebihnya akan kubisikkan, dengan bahasa yang hanya bisa dinikmati oleh mulut dan telinga kita. Kamu cantik.

Senja yang indah, matahari memerah lelah. Kamu bernyanyi, terdengar dari sini. Angin yang membawanya begitu lirih. Lidah buaya berbunga, merunduk turun. Mengikuti angin yang sama mengalun.

Kamu, bukan anugerah. Kamu bencana, menyiksa dengan indah. Dicinta dalam pejam, disayang dalam diam. Sebuah pengecualian, yang sempat diciptakan.

17 February 2013



Cahya Bagus Mandalukita


2. DOH!!!


Kerajaan kecil ini busuk, berisi menteri-menteri mabuk. Memikirkan raja dalihnya, tapi para prajurit terus dicambuk. Kalian lihat saja pada saatnya mereka mengamuk dan kalian para sapi gemuk,akan terbantai remuk.

Mereka memegang pena ajaib, menentukan nasib. Gaib, mereka membuat jiwa para prajurit kelas satu ini menciut, menjadi anjing-anjing penjilat remah roti, 
”Hari ini kau pergi, besok kau mati!!” kata mereka tertawa, melempar bola tenis penuh liur, dan para anjing ini berlari mengejar secepatnya, itu saja kerja mereka.

Aneh, para koki diberi baju baja. Lucu, perut buncit mereka kemana-mana. Dan para jenderal tak lagi bersenjata, mereka di beri gitar, dan mulai bernyanyi mengganggu telinga. Tentu saja buruk, dan mereka dibuang setelahnya. Satu-satu.

Ada sekelompok anak muda, mereka mendaftar menjadi prajurit kerajaan. Mereka diterima, lalu ditanya, "suruh siapa masuk kemari!!" kata para mayor tertawa. Beberapa tahun lagi mungkin anak muda ini melakukan hal yang sama, meludah dan mencaci para muda, Duh!

Agaknya kerajaan kecil ini dibuat ketika bercanda. Lawak, berlomba berlagak, berkata mereka yang paling berjasa, sudah banyak bekerja, dan melempar senjata pada sekelilingnya. Pada akhirnya, mereka tidak menghasilkan apa-apa.

Beberapa pembesar memeluk tahta, merahasiakan bagaimana mereka bekerja, tentu saja agar tetap duduk disana. Beberapa sibuk mengurut tangan robot mereka yang mulai menua karena bekerja menggila. Memohon tidak dilepar pada ujung pos jaga.

Ada bagusnya, beberapa kunang-kunang hinggap disana. Semoga mereka segera menjadi bintang, kerajaan ini butuh terang!


Cahya Bagus Mandalukita

3. #Kerandamerah



Aku berdiri di pinggir jalan, sejak tadi. Asap  mengambang, mengalungi senja seluruh kota. Sepertinya banyak kuda sedang bersantai. Berjalan berjingkat, setengah-setengah langkah sambil menikmati cerutu yang tak berhenti membuatku batuk, mereka berjingkat pelan-pelan, juga menghisap cerutu dengan pelan-pelan. Membuat mereka seperti sedang mengantre rumput dengan sangat santai. Aku kesal, jika aku sakit paru-paru, tak mungkin aku menyebut mereka dungu. Biasanya, orang-orang yang kukenal menyebut kata dungu berpasangan dengan keledai, bukan kuda. Jadi aku hanya diam, menutup mulut dengan jaketku yang sudah lusuh.

Sebuah keranda merah besar melintas,  keranda  yang beroda dan tak ditandu oleh manusia. Entah kenapa warnanya merah. Yang pasti keranda  itu mengangkut para prajurit yang sekarat. Mereka, semua prajurit itu terlihat sudah sangat lelah, menumpang pada kotak beroda ini untuk mencari arah pulang ke rumah.  Mana mungkin mereka masih dipaksa berperang. Panglima bisa marah besar, prajurit lelah seperti mereka hanya membuatnya kalah perang. Kulihat lengan mereka penuh luka, dengan wajah yang tak segagah ketika mereka pamit berangkat pada keluarga dengan bangga. Mereka seperti menanti kematian, umurnya akan habis pada langkahnya saat pulang. Aku naik ke atasnya, berlagak menjadi prajurit bernasib sama.

Prajurit-prajurit itu membuat keranda ini seperti penuh dengan mayat hidup. Mata mereka kosong, sepertinya  mereka rindu menimang bayinya yang baru lahir kemarin. Tapi ceritanya selalu sama, mereka tak pernah tega membangunkan seorang bayi  yang sudah tertidur saat mereka tiba. Lalu hanya melihat seorang malaikat kecil tertidur. Malaikat yang sudah lama tak merasakan debar jantung ayahnya.

Roda keranda merah ini berputar, tentu saja perlahan. Kuda-kuda tadi masih saja bersantai. Tak juga mengalah pada prajurit-prajurit yang sudah lelah. Sepertinya keranda merah ini menghisap kehidupan, di dalam sini aku mengantuk. Hanya saja  aku takut tidur, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika tidur, bisa jadi aku makin jauh dengan rumah, atau malah tak akan kembali.

Kepulangan di kota ini dibayar mahal, uang tak punya  arti di sini. Alat tukar yang mengerikan kurasa. Mereka di kota ini menukarkan ruh, menjual hidup untuk tetap hidup.

Seorang anak kecil mulai berkeliling, menarik  upah. Anak kecil berbaju abu-abu. Rambutnya  merah, mungkin berdarah setelah kalah berkelahi dengan matahari. Tubuhnya kurus ceking, sesuatu yang tak pernah membuat dia peduli. Anak itu berjalan menyusuri lorong keranda, menarik ongkos pulang para prajurit yang sudah penuh luka. Dia membawa gentong kecil, dengan lubang yang menganga, ”untuk menghisap ruh,” katanya. Perjalanan pulang ini tak berongkos mahal, hanya dua jam kehidupan.

Bukan, tolong jangan menyebutnya kejam. Dia jauh dari kata kejam, memang begitulah cara hidup di sini. Dari caranya menarik mahar, kurasa dia cukup ramah. Sesimpul senyum selalu melekat pada pipinya yang coklat.  Setidaknya aku merasakannya, dia jauh lebih hangat daripada muka-muka datar para mayat  hidup yang menumpang pada kerandanya. Anak kecil itu bergelantungan pada tepi keranda, sejenak menghirup udara segar, mata kosong mayat-mayat hidup itu menyesakkan, jauh lebih menghimpit paru-paru daripada cerutu-cerutu kuda. Tangannya membuka gentong ruh yang sedari tadi ia gendong. Tangannya lincah menghitung ruh yang berhasil dia kumpulkan. Pas, tak ada yang berhutang.

Aku sejak tadi mengambil tempat di sisi paling belakang keranda. Rasanya tak penting juga mencari tempat di tengah para prajurit ini. Mereka hanya bisa diam, juga tak akan mempedulikanku. Kehilangan ruh membuat mereka mati, hanya panglima besar yang menyihir mereka agar tetap dapat berjalan. Awalnya kukira mereka seperti mayat hidup, sekarang kusimpulkan semua pikiranku adalah nyata, mereka benar-benar sudah mati.

Anak kecil bergentong tadi berjongkok di depanku, memberi punggungnya sebagai teman mataku menunggu sampai pada tujuanku, rumah. Menatapnya dari belakang membuatku bertanya, apa anak seperti ini masih menggilai buku? Semoga dia masih melahap buku dengan rakus.

Lalu aku  menyadari arti perkataanku. Ternyata tak semua hal yang biasanya dianggap buruk akan selalu berarti busuk.  Rakus dan tamak tak selalu buruk ternyata, jika dia (anak kecil itu) mampu menghabiskan semua buku di kota ini, akan ada waktunya dia akan menjadi pria yang membagikan seluruh buku yang dia makan pada dunia. Setitik harapan untuk kota mati seperti ini bukan?

Kota mati ini aneh Tuhan, susunan batu-batu yang dibuat manusia ini mampu menghidupkan rasa (milikku) dan mematikannya pada saat yang sama. Seorang bocah paruh baya dengan otak buntung baru saja masuk ke dalam keranda dan meminta-minta. Memaksa setiap mayat ini memberikan sisa ruh padanya. Sedang di luar sana, mataku tertarik pada seorang nenek remaja yang menarik gerobak sampah, setengah mati.

Kota ini menangis Tuhan, kukira  akan sama seperti biasanya, sesaat akan tenggelam. Meminta tolong pada kalian dengan mulutnya yang dijahit kawat. Terus memaksa bersuara, dan terluka. Tak ada yang bersedia mendengar, masing-masing terus sibuk menjual jiwa. Tegakah Kau membiarkan ini begini?

Jakarta, pada sebuah perjalanan pulang, hujan merintik setengah jalan. Beberapa orang menyebutnya metromini, aku menyebutnya keranda merah.

Cahya Bagus Mandalukita

Tuesday, April 22, 2014

Aku dan Benci yang Membatu


       Pada sebuah kampung jauh, hidup seorang aku. Aku kecil lahir sebagai bocah kaku dan malu-malu. Awalnya aku tak pernah membenci apapun di dunia ini. Tapi semua hal yang dialaminya membuat aku jadi seorang pembenci apapun.  Benci membenci ini dimulai saat aku mulai pengalaman pertamanya membaca. Aku tak mampu membaca beberapa kata, dan seorang wanita yang aku panggil dengan sebutan ibu tak mengijinkannya tidur. Setelahnya kamu bisa mengira perjalanan hidupnya. Aku benci membaca. Lalu dia membaca seluruh buku yang ada di rumahnya, hanya agar aku bisa secepatnya tidur.

Saat itu aku mulai meletakkan kaki pada umur belasan. Saat Ayahnya meletakkan tangannya dengan sangat keras pada ibunya, hampir wanita itu lantak. Hal yang membuatnya membenci ayahnya. Lalu setelah itu dia membenci dirinya sendiri, yang mau tak mau memiliki ayahnya dalam dirinya. Lalu dia mulai melakukan segala sesuatu berlawanan dengan semua yang dia ingat tentang seorang ayah. Berharap tak menjadi sesuatu yang dibencinya.
Aku benci pada keranda yang membawa pergi ibu keponakannya saat gadis kecil itu masih berumur lima tahun. Tapi aku yang penuh benci itu menyembunyikan semuanya dalam lambaian tangan kanan dan senyuman saat mengantarkan tubuh dingin itu pada peristirahatan, saat pipi-pipi lain di pemakaman itu tak lagi punya tempat untuk menampung airmata. Sedang tangan kirinya menggandeng keponakannya yang ikut tersenyum karena melihat aku tersenyum. Gadis kecil itu merasa harus tersenyum, mengikuti aku yang mengenakan senyum lebar sebagai pakaian tubuh penuh bencinya. 
Aku juga benci pak polisi. Dia berjaga pada perempatan lampu merah. Tempat di mana dia bertemu mata dengan seorang gadis yang melintas di depannya. Pak polisi galak itu melotot saat aku ingin mengejar gadisnya. Tentu saja, lampu merah itu melarangnya untuk belok ke kanan. Arah di mana gadis itu menuju. Sekarang aku bahkan tak pernah tau siapa nama gadis berhelm merah itu. Kali yang lain, jika bertemu gadis itu, aku berjanji tak akan lagi peduli apa kata mata pak polisi, pun mulut bulat lampu merah.
Aku membenci foto ibunya, sesuatu yang selalu dibawa dalam dompet kurusnya. Foto itu terus saja berdendang lagu-lagu rindu. Setiap malam gambar ibunya yang sedang tersenyum itu mengatakan bahwa senyum itu senjata kabut, untuk menyamarkan peluh dan kelu pada penglihatanmu. Foto itu hilang saat dompetnya kecurian beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku masih berpikir, apa foto itu masih berdendang di sana, atau dompet kurus itu dibuang dengan kesal karena terlalu kurus untuk dipotong, lalu foto itu berdendang di pinggiran jalan di kota dekat?
Aku benci ini, benci itu, yang sebelah sana, sebelah sini juga. Tak ada hal yang luput dibenci olehnya bahkan aku membenci dirinya yang penuh benci. Dia begitu mencintai benci, seperti kamu yang membenci cinta. Aku suka mengaku benci, tapi dia benci mengaku-aku. Bagi dia semua yang bukan miliknya tak pantas dibenci. Begitu juga, orang lain tak boleh membenci aku jika mereka tak merasa bagian dari dirinya yang penuh benci. 
Aku hidup dengan membenci hidupnya, padahal hidup adalah sesuatu yang bahagia karena aku hidup. Atau aku sebenarnya tak benar-benar bahagia, atau aku tak pernah benar-benar membenci? Aku benci memikirkan aku yang masih juga benci.

Sunday, April 6, 2014

Tentang Sebuah Kata Maaf

      Kemarin ada hal yang membuat saya benar-benar kaget, seorang teman bercerita jika dia sedang merasa ada yang salah dengan sebuah kata maaf yang tertulis dengan sangat tegas pada halaman chating miliknya. Percakapan itu ditulis oleh seorang gadis, katanya. Seorang gadis yang dia perjuangkan hidup-hidup, karena memperjuangkan seseorang mati-matian itu bodoh. Bodoh, karena setelah mati, maka perjuangan itu akan habis. hasilnya tidak akan pernah benar-benar dia panen. Jadi buat apa berjuang jika kemudian kamu mati? begitu katanya. Hahahaha, alasan yang sangat realistis dengan perhitungan yang sangat cermat saya rasa. Ya, pemikiran seperti ini yang saya suka, dia gila! Romansa melankolis sudah tidak laku baginya, atau mungkin dia seorang penipu yang menyimpan kebenaran dengan sangat rapi. Yang manapun kebenarannya, tetap saja saya tidak mengerti, kenapa kata maaf bisa membuatnya merasa jika ada sesuatu yang salah?
             
     Bukannya memang karena ada sesuatu yang salah lalu ada suatu kata yang dia sebut "maaf" tadi? Lalu setelahnya bukankah sesuatu yang salah itu seharusnya dilupakan atau kembali di simpan dalam peti untuk kembali diungkit saat ada kesalahan yang sama terulang lagi? Atau bisa jadi saat kita mengangguk atas permintaan maaf seseorang, lalu berkata pada mereka untuk melupakannya, saat itu kita sendiri tidak pernah benar-benar melupakan kesalahan itu? Kita hanya menyimpannya pada sebuah peti lalu menyimpan kuncinya pada tempat yang paling mudah untuk digapai. Sehingga suatu saat, peti itu dapat dengan mudah dibuka dan membuat kita mengingat sebuah luka lama? Lalu mengatakan pada mereka seperti seorang hakim, "Ini kali kedua kamu melakukan salah yang sama!" dan kelanjutannya bisa dengan mudah ditebak, kita tidak bisa memaafkan unutk kedua kalinya, atau membuat perjanjian tidak tertulis jika kita tidak akan memaafkannya lain kali, lalu kejadian-kejadian di atas akan terulang lagi.

    saya pernah mencoba meletakkan sebuah kesalahan pada sebuah peti, tapi dasar saya yang pelupa, saya selalu lupa meletakkan kuncinya di mana. Karena itu setiap seseorang bertanya, "Apa pernah aku melukaimu?" 

     Jawabanku selalu sama, "Entahlah, rasanya tidak pernah." Selalu begitu. Hahahaha, dasar aku pelupa yang bodoh.

    Kembali pada cerita temanku tadi, dia bercerita dengan sangat fasih. Seorang gadis yang tadi dia katakan sebagai "sebuah perjuangan", mengatakan maaf padanya. Sebabnya? Gadis itu tak mengatakan apapun tentang sebabnya. Temanku ini bukan orang bodoh, tentu saja dia mencari tau. Kebanyakan gadis bukan penyimpan rahasia yang baik, mereka dengan mudah mengatakan kebenaran lewat hal-hal yang tersirat dari perilaku mereka. Ya, mereka suka memberi pengumuman setengah-setengah tentang sesuatu, lalu membiarkan seseorang mencari tau, atau hanya melakukan tebak-tebak berhadiah. Hanya saja, kebanyakan pria yang tidak sedang jatuh hati tidak pernah ingin mencari tau, dan kebanyakan pria yang terlalu jatuh hati, terlalu banyak mencari tau dan terlalu banyak menebak-nebak. Maka dari itu kebanyakan gadis mengatakan seorang pria tidak pernah cukup mengerti dan seorang pria yang lain sangat mengganggu. 

     Temanku ini sedang jatuh hati, hanya saja tidak terlalu jatuh hati. Jadi dia mencari tau, kemudian menebak-nebak. Lalu dengan sangat percaya diri mendeklarasikan hasil pengamatan dan tebakan itu pada gadis yang meminta maaf padanya tadi. Tebakannya jitu, dan semua pengamatannya benar. Lalu temanku itu berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan atau dimintakan maaf." 

     Sekarang kubiarkan kalian menebak-nebak. Aku tau kalian tidak sedang jatuh hati, dan aku bukan wanita atau seseorang yang kamu cintai, tentu saja aku bukan seseorang yang membuat kalian ingin mencari tau. Setidaknya dengan menebak-nebak, kalian tau rasanya menjadi seseorang yang jatuh hati. Atau buatkan saja aku sebuah akhir cerita dari kata "maaf" tadi. Sebuah kata yang sering sukar kita persembahkan, juga sangat sulit benar-benar kita terima.

       Biar kuberi satu petunjuk, 

"Karenanya aku tidak pernah benar-benar meminta padamu, karena kamu juga kurasa tidak akan pernah benar-benar memberikannya padaku." Kata-kata ini adalah ucapan terakhir percakapan yang kubaca.


        NB: untuk kawanku jika kamu membaca ini, Maafkan saya, saya berjanji tidak akan ada yang tau siapa dirimu.
                           

Wednesday, April 2, 2014

Setau Saya Ini Terlambat

                Ada segerombolan manusia menarik yang diciptakan Tuhan untuk mewarnai hidup dari masing-masing kita. Pertemuan dengan pensil warna seperti mereka juga biasanya tidak terduga, tapi tidak dengan saya. Saya bertemu dengan manusia-manusia ini dengan cara yang sangat biasa, kuliah. tapi coret-coret ini bukan tentang mereka, saya hanya ingin membicarakan salah satunya. Ibunya, yang sangat dia sayang -saya tau dia sangat menyayangi ibunya dari banyaknya teman saya ini menceritakan tentang seorang ibu yang berada di Jogjakarta, memberikannya nama Arfindo Briyan Santoso. Saya lebih suka memanggil pria itu "Om"
             Rasanya saya sudah pernah membicarakannya suatu waktu, saat saya kehilangan kepribadian saya. Biar kusiarkan sesuatu pada kalian, tanggal 28 Maret kemarin pria itu berulang tahun, pria yang kupanggil om tadi, sepertinya sedang mengukuhkan bahwa dirinya lebih tua dewasa dari saya. Tidak, saya tidak sedang menggodanya, saya yakin dia bangga pada perubahannya menjadi dewasa. Dan saya dengan sangat jujur bisa berkata, saya bangga mengenalnya. Pria yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita di kota kelahirannya sejak lima tahun yang lalu. Kuberitahukan sekarang padamu kawan, saya sendiri iri melihatmu mampu berjuang sekeras itu. Doaku selalu yang terbaik untuk kalian. Ini memang ulang tahunmu, tapi biar kamu yang meniup lilin lalu aku ikut berdoa, semoga kamu mengenalkannya padaku suatu saat, sebelum kalian mengucapkan ikrar sehidup semati.
                 Tulisan ini daripada ucapan selamatku, lebih ingin kujadikan tempat pengakuan dosa. Om, aku lupa ulang tahunmu. Lucki mengingatkanku hari itu, tepat pada hari kamu lahir. Kawanmu itu kurang ajar, kenapa tidak mengingatkanku sehari sebelumnya, sehingga aku setidaknya bisa menjadi orang ketiga yang mengucapkan ulang tahun padamu. Setelah ibuk dan kekasih jauhmu itu. Sekarang, sudah terlanjur. Aku tak tahu aku menjadi kawan sehina apa, yang tak mengignat hari ulang tahunmu. Maaf.  padahal kamu dengan sangat baik membantuku mengerjakan proyek rahasia. Maaf lagi aku merepotkan, kamu satu-satunya profesional yang aku kenal, setidaknya cukup dekat sehingga aku tidak akan sakit hati jika kamu menghina sampah rahasia itu.
Apapun yang pernah kukatakan padamu, tapi aku salah satu orang yang tersenyum diam-diam atas kebahagiaanmu. Juga mengamini apapun yang kamu imani,semua yang kamu panjatkan pada Tuhan saat meniup lilin di atas kue ulang tahunmu. Selamat Ulang Tahun Kawan, pesanku hanya satu, tak ada satu pesan yang bisa diucapkan oleh seorang sahabat untuk menunjukkan kebahagiaannya atas bertambahnya umurmu, 


Sebuah ucapan yang terlambat,

Cahya Bagus Mandalukita
                            

Friday, March 21, 2014

Puisi Kecil Sebulan Tiga Ini

Jika kamu tidak tahu, hari ini tanggal 21 Maret, World Poetry Day

jadi kukumpulkan sampah yang berserakan sebulan tiga ini.  Sudah kukatakan ini sampah, jadi memang ini cukup membuat muntah..

***

Kita berdua mencipta lagu sedih, kamu membuat melodi, sedang aku membuat puisi.
Kamu bernyanyi, aku sendiri, sudah. sajak ini selesai.

***

Aku berpikir, sepertinya aku adalah kumpulan-kumpulan kenangan, dari para perempuan yang kucintai, dulu.
Dengan bagian terbesarnya adalah dirimu.  Hanya saja aku tak tahu, apa tubuh kenanganku yang mulai tanggal mampu membuatmu tetap tinggal?

***

Mereka, kekasih diri mereka sendiri, meminta orang lain jatuh hati pada kekasihnya. Lalu cemburu, merasa tak dikasihi seperti seharusnya,begitu?

***

Apa kamu percaya kalo kamu orang baik? Apa kamu percaya aku orang baik? Jika keduanya kau jawab iya, jangan tanya lagi kenapa aku ingin kita bersama.

***

Dinding,ciptaan manusia untuk memisah-misahkan apa yang dulunya satu, lalu mereka membuat jendela, untuk saling mengintip malu-malu.

***

Aku suka menulis, kamu suka musik. Setiap kamu menangis aku hancur tiap detik.

***

Malam ini dingin, biar saja seluruh tubuhku menggigil. Asal dadaku tidak. Disana mendekam sebuah tulang rusuk,yang kupanggil kamu.


***

Hati tidak akan pernah mau mengikuti kata-kata untuk mencoba sekedar singgah, mereka bukan sesuatu yang mudah betah


***

Kemarin aku mencoba menulis sajak dari semua benda dalam kamar, tidak bertahan lama,terlalu penuh kenangan memuakkan.

***

Dunia ini aneh,sekali patah hati dan semua orang berpikir dia jatuh selamanya, karena itu aku tak menggilai dunia,bukankah kamu dari surga?

***

Kamu yang tercantik dari semua gadis berhati baik. Tentu saja paling baik diantara semua gadis berwajah cantik.

***

kalian melihat seorang sendiri menulis puisi itu berkudis,sedang pasangan jatuh hati romantis. Apa Nelson Mandela perlu hidup sekali lagi?

***

Aku punya seorang kawan. Ingin kusumpahi agar mati dan bereinkarnasi menjadi aku, kurasa dia terlalu lama tak jatuh cinta.

 ***

Jika aku tak bisa memejamkan mata, apa karena kau belum sampai pada pintu masuk ke mimpiku, atau aku yang sebenarnya sedang bermimpi buruk?

***

Mereka bilang aku egois. Benarkah sekuat itu aku tak ingin kehilanganmu?

***

Nilai sekolahku tak pernah berlaku padamu, otakku seperti kucing yang kamu pangku. Tak ingin berkata apa-apa, hanya ingin tetap disana.

***

Malam ini hujan,besok rumput akan bergembira. Selalu begitu, masih terus membuatku mencintai pagi buta.

***

Kita bertemu pada pertigaan. Kamu belok kiri,sedang aku masih terjebak lampu merah. Apa pak polisi akan berbaik hati membiarkanku mengejarmu?

***

Aku terdiam dalam kertas-kertas yang terus kosong, puisi-puisi ini lebih ingin menyapamu diam-diam.

***

Jika gadis terbuat dari tulang rusuk,penciptaannya pasti setelah kamu. Saat kalian bertemu, mereka pasti tau rasanya bersandar pada dadamu.

***

Sejauh-jauhnya jarak adalah saat kamu mulai saling membenci, karena rindu tak akan mampir padamu, rindu dan benci seperti musuh.

***

Terakhir kali aku melihat jam 00.00, mereka berkata tidak ada yang rindu aku, mereka salah.. Aku hanya belum mengetahui namamu,bukan begitu?

***

Konon, kamu masih menungguku sama baiknya seperti dirimu. Mungkin masih lama, atau bisa jadi besok itu terjadi. Tolong bersabar, sedikit lagi.

***

Mereka menganggapku gila karena bercerita tentang cinta, sedang milikku sendiri patah. Aku masih punya cinta untuk ibuku,mungkin mereka lupa.

***

Beberapa orang mudah jatuh hati, tapi mereka hanya berbohong saat berkata ingatan mereka tentang cinta mudah terkuras habis.

***

Apa otak masih harus berdebat tentang kepemilikanmu,sedang hati saja tak peduli?

***

Wednesday, February 12, 2014

Jatuh Hati dan Zoey Deschanel



Suatu saat, seperti kamu, dan yang semua orang tau, aku juga akan meregang nyawa. Setelahnya aku ingin menjadi kaos kaki. Bercengkrama dengan sepatu datar dan mendengarkan cerita tentang setiap jingkat  langkahmu seharian.  Atau menjadi perilaku burukmu, yang sangat ingin kamu tinggalkan dan tak pernah mampu. Menghantuimu dan tetap melihat senyum nyaman disana.

Aku akan berada di sana, pada pemakamanku sendiri. Mata yang sayu  tak mampu memenangkan perang melawan sudut bibirku, memenjarakannya agar tak tersenyum saat melihatmu. Biar saja aku  tak  mengerti penyebab kakimu mengantarkan sebuah hati mengunjungiku. Tanah yang  kamu  injak, tak akan pernah tau apa yang kamu kunci rapat dalam hati, simpan saja sendiri, tak akan kutanyakan. Mungkin memastikan kematianku. Lalu aku bertanya  pada  sebuah batu persegi di atas pusaraku,  tentang perihal kacamata hitam yang kamu pakai saat itu.   Air mata yang tak perlu kamu sembunyikan sebenarnya sayang –jika kamu  masih mengijinkan kematianku memanggilmu begitu.

Aku  akan mengunjungimu, seminggu sekali. Pada mata ayah ibumu, pada sidik jari kekasih barumu, atau mungkin aku benar-benar menjadi kaos kaki. Aku ingin mencintaimu diam-diam. Masih sama seperti yang selama ini pernah kulakukan.

Kamu seperti kebun belakang  rumah masa kecilku.  Berlari telanjang mengelilinginya dan malu tak pernah  singgah pada lutut, juga otakku. Atau mungkin saat itu mereka berdua hal yang sama. Beberapa kali lututku – yang  mungkin juga  otakku memerah darah, dan mataku menangisinya. Tapi esoknya  aku kembali berkeliling, dan melakukan kebodohan yang sama. 

Jantungku pernah berdenting satu nada dengan langkah sepatumu yang terbang di sebelahku. Aku sendiri melayang saat kamu mendengarkan denyut hatiku yang melenting lewat  jari-jari kita  yang terjalin.  Milikku sekarang  berdegup  satu oktaf lebih tinggi, melengking sejak terakhir aku merasakan sesuatu bernama cemburu.

Sekarang, ada satu kala aku meriang aku menyebut sesuatu dengan nama sunyi, lalu aku memanggilnya sepi. Sesuatu yang kusebut rindu saat kita berdua.

Kamu seekor merak jantan betina, mendongak atas sesuatu yang bahkan tak kau lukis sendiri. Mengumumkan pemenang sayembara atas seseorang yang sekiramu tak mampu berjalan jauh. Kita mainkan saja permainan masa kecilku, dalam sebuah kotak, dan kita diam berdua. Tak ada pemenang di dalamnya.  Nyatanya kita  berdua  kalah, dengan kamu berpikir kakiku terjepit masa lalu.

Aku bersumpah, pada setiap peluk yang kamu dekap, paduan suara jantungku mampir pada telingamu. Aku bersumpah, pada setiap napasku yang kamu sesap dengan tak sengaja, aku yang mengisi paru-parumu, juga  mendetak jantungmu, dan pada setiap jemari yang menjamah tubuhmu, kamu melihat namaku pada setiap jejak yang ditinggalkannya. Aku menghantui, seperti ikan remora.

Aku menghitung  satu, dua, tiga.  Memotong jariku yang masih menguap walau dia tak punya mulut. Hingga hitungan ke sebelas, menumbuhkannya lagi dengan sekeluarga ludah yang memicingkan mata. Lalu aku melupakan apa yang kupenggal pada hitungan kesebelas.

Mataku  terbuka, dan sudah berjalan pelan-pelan, aku masih mengantuk, ditabrak kenangan bukan pilihan yang ingin aku dapatkan. Tak ada satu orangpun yang lari,  kurasa karena hanya kamu yang menghadiri kremasi ini.

Aku  mati, hanya ingatanmu yang melihatnya begitu.


Cahya Bagus  Mandalukita

Noted: kamu bertanya mengenai  judul sajak ini? ah alasannya sederhana kok, agar google yang baik hati lebih mudah membantumu mencarinya.

Friday, February 7, 2014

Lima Goresan, Perihal Kehilangan




I.  Hujan, dan Kenangan yang Datang Menumpang  


Aku ingin bertanya perihal hujan di kotamu, berapa kali  mereka datang mengunjungimu dalam sebulan? Apakah mereka datang tiba-tiba, atau terlebih dulu mengetuk halamanmu dengan rintik  gerimis? Apa hujan di tempatmu cukup ramah untuk membiarkanmu bermain saat mereka mengunjungi rumput kebunmu? Masihkah kamu menyukai bermain di bawah hujan? 


Aku sendiri tak pernah memahami hujan, apa alasan mereka mengunjungiku, juga perasaan mereka padaku. Jika kamu bertanya padaku, aku sangat mencintai hujan. Bukan pelangi yang membuatku bahagia. Aku suka melihat rumput-rumput tersenyum memandang pelangi saat senja, seolah mengucapkan selamat tinggal pada orang terkasihnya yang baru saja berlalu, aku juga menggilai bunga mawar dengan bulir air pada kelopaknya, aku jatuh cinta pada suara burung di  hutan belakang saat pagi  setelah hujan semalaman, meskipun aku tak  mengetahui alasan kicau mereka,  entah mereka  memaki  hujan yang merusak  percintaan mereka  pada  malam sebelumnya,  atau  berterima kasih padanya karena menyejukkan pagi.


Apakah kalian memahami  mekanisme hujan?  Aku tidak. Bukan,  bukan siklus terjadinya hujan, untuk yang satu itu aku paham di  luar kepala, siklus itu sudah kupelajari bahkan saat aku di sekolah dasar. Maksudku mekanisme kerja mereka, bagaimana mereka  menyimpan semua rekaman kenangan, bagaimana  mereka mengantarkannya  pada kepalamu, dan menyingkronkan dengan hatimu, lalu membuatmu  tersenyum, menitikkan air mata,  atau termenung karenanya. Merusak  sisa hari pertamamu bulan ini yang telah bahagia melihat rekening gaji yang sudah bertambah. 


Ambil selembar kertas, darimanapun asalnya, buku catatan, bill restoran, novel  yang sudah selesai kamu  baca, apapun, aku tak mempermasalahkan sumbernya, dan sebatang pensil,  atau pulpen. Mulailah menulis  semua hal  yang melintas di  otakmu  saat memandang bulir-bulir air yang dijatuhkan Tuhan dari  langit.  Tidak perlu  kamu  sampaikan padaku hasilnya, simpan saja sendiri untukmu.  Aku  tak memerlukan hal-hal terkait  kenanganmu, jika disana tercantum nama ibumu, segeralah menghubungi  beliau,  selagi sempat. Aku sendiri menyimpan daftar  itu pada  dompetku, sekedar mengingatkanku  pada semua hal  yang berharga (atau bisa jadi hanya sebentar singgah) di sampingku.


Semua kenangan yang direkam olehnya, oleh hujan, sebagian besar mengenai  perihal kehilangan. Entah kenapa hujan menjadi perantara paling melankolis bagi (mungkin) kita, sejujurnya aku  menyukai hujan, tapi tidak dengan kenangan yang datang menumpang padanya. Saat bulir hujan yang kucintai  itu menghilang, mereka hanya menyisakan hal bernama kenangan. Menyebalkan bukan? Aku masih mencari  cara menikmati hujan tanpa kenangan. Bagaimana denganmu? Beritahukan padaku jika kamu  sudah menemukan caranya,  bersediakah?



II.  Ulat dan Sepohon Daun Jeruk Nipis

Bolehkah aku mengetahui pikiranmu tentang seekor ulat? Ah tidak, ulat bukan hewan melata,dia lebih terlihat seperti merangkak perlahan buatku. Apa kamu jijik melihatnya? Aku cukup mahfum, hampir semua hewan invertebrata memiliki tubuh yang bisa jadi membuatmu merinding. Walaupun tidak buatku, aku tidak jijik memandang ulat. Lagipula jarang aku menyempatkan untuk menyisihkan waktuku memandang ulat. Bagiku dia hanya  seorang anak kecil  yang sedang menjalani kehidupannya sebelum dewasa. Apakah ada seseorang yang jijik padaku saat aku balita? Rasanya tidak, karenanya aku merasa tidak adil jika harus menghakimi tubuh kecil ulat yang tak mengetahui apapun tentang pikiranku, tentangnya.


Ulat kupu-kupu yang aku tak tahu apa namanya, jika kamu mau sedikit mencoba mengerti tentang kehidupannya, mengajarkanmu banyak hal tentang kesabaran dan ketabahan hidup. Menurutku kisah hidupmu tak ada sebiji padi daripada kehidupan seekor ulat.  Apakah kamu ditinggalkan ibumu sebelum kamu sempat bertanya pada beliau  bagaimana cara berjalan? Atau mencari makan? Atau cara merajut kepompong keras itu?


Ya begitulah kehidupan seekor ulat, seekor kupu-kupu betina (mungkin mereka memanggilnya ibu) meninggalkan beberapa puluh telur di  balik sepotong daun, pada sepohon daun jeruk nipis beberapa hari yang lalu. Berharap  dunia akan menjaga dan membantunya bertahan menjadi seekor  kupu-kupu  yang melanjutkan kehidupannya. Aku memperkirakan beberapa puluh telur ulat itu adalah jumlah yang cukup untuk membuat sepohon daun jeruk nipis ini menjadi sepohon jeruk nipis berdaun ulat.  Entah kenapa  hanya satu ulat  jeruk nipis ini yang terlihat di sini. Banyak kemungkinan yang terlintas di benakku, bisa jadi dia ulat yang pertama kali keluar  dari telur kecilnya yang menjadi terlalu sempit  setelah dia tumbuh dan berkaki, lalu  memakan ssaudara-saudaranya  yang belum cukup  umur untuk  melihat dunia, atau dia  hanya  si  bungsu  yang  lahir belakangan,  sementara saudaranya  yang lahir lebih dulu meregang nyawa pada paruh nuri kelaparan, jika cerita  terakhir benar, maka takdirlah yang membantunya  melanjutkan hidup. 


Tak  butuh waktu lama baginya  untuk belajar merangkak dan mulai mengunyah. Rasanya tak sekalipun dengan tedeng aling-aling ulat kecil ini memohon ijin pada pohon jeruk  nipis  itu untuk menghabiskan daunnya, mana paham dia tentang perih yang dirasakan si pohon saat bagian tubuhnya robek oleh gigi-gigi kecil itu. Alih-alih menggelitik, gigi-gigi itu lebih menimbulkan perih kurasa. Tak salah juga  sebenarnya, apa yang kamu harap diketahui ulat kecil yang ditinggalkan ibunya sebelum menetas mengenai sopan santun, tak seulatpun yang mengajarkan hal itu padanya.  Tak paham juga aku darimana dia mengerti cara menggunakan kaki-kaki kecilnya, juga  cara mengunyah. Entah apa dia punya tenggat waktu untuk  menjadi kepompong, yang aku tahu ulat kecil itu tak juga berhenti mengunyah.


Jika ulat itu mengetahui perihal ketabahan,  maka  pohon jeruk nipis punya  satu perihal luar  biasa  lainnya.  Kamu perlu belajar darinya mengenai keikhlasan. Tak sekalipun pohon itu  mencoba  menancapkan duri saat ulat menggerogoti daunnya. Padahal dengan ukuran durinya, ulat sekecil itu pasti mati seketika. Tapi dia membiarkan anak kecil itu menggerogoti bagian tubuhnya, menggantikan ibu kupu-kupu menyuapinya hingga anak kecil itu cukup kuat merajut kepompongnya sendiri. Mungkin sembari berharap anak kecil itu tak cukup tega memakan daun muda miliknya.  Menumbuhkan tunas daun tak semudah yang kamu kira, seperti membesarkan anak kukira. Bisa jadi daun itu menjadi cukup bagus untuk berfotosintesis, atau tanggal jika tak cukup kuat menahan terpaan angin. Apa kamu berpikir kehilangan tunas itu bukan masalah besar? Pikirkan lagi, kamu kira darimana asal kambium besar pohon beringin di depan keraton jogjakarta? Ya, dari setunas kecil daun yang dibesarkan dengan susah payah, apa kamu masih berpikir itu bukan masalah besar?

Genap seminggu sudah ulat kecil itu menjadi parasit pada dahan-dahan  pohon jeruk nipis. Gerakannya  melambat, sepertinya  kulitnya  sudah terlalu  sempit  untuk tubuhnya yang menggembung karena tak berhenti mengunyah. Sekarang kalian mengakuinya kan?  ulat bukan reptil  melata yang bisa berganti kulit saat tubuhnya  membesar.  Mungkin itu juga  yang menjadi alasan sebenarnya seekor  ulat merajut kepompong, setidaknya  dengan begitu mereka  berpuasa makan. Tubuh yang berat bukan gegaman yang bagus untuk melanjutkan perjalanan. Bukan menginginkan dirinya menjadi kupu-kupu,  bagaimana mungkin kamu menginginkan menjadi sesuatu yang meninggalkanmu dalam bentuk telur? Aku makin membenci kupu-kupu. Selain perihal meninggalkan para telur itu, sepertinya mereka menjadi teladan bagi para wanita. Meletakkan pemikiran brilian bahwa untuk menjadi cantik kamu harus berhenti makan. Lihat saja ulat buruk  rupa yang berhenti makan, sesaat mereka akan tersiksa menjadi kepompong yang tak bisa melakukan apapun, tapi setelahnya mereka menjadi kupu-kupu cantik  dengan sayap  yang mengagumkan. Jika benar mereka yang membuat para gadis berpikiran untuk menyiksa diri dengan “sumpahtakmakan” mereka, sepertinya aku benar-benar akan membumihanguskan kupu-kupu di seluruh dunia.  Tak pernah tega aku melihat para wanita berdiet, Terlalu menyiksa bagi mataku.


Benar saja,  tak  sampai sehari ulat itu sudah menjadi kepompong berwarna hijau muda. Tersamar dengan sangat cantik diantara daun-daun segar jeruk nipis belia. Kamu pernah mendengar tapa Arjuna saat mencari pusaka panahnya? Kepompong mirip seperti  itu, mereka bersemedi, tapa tanpa makan dan minum, hanya saja  tanpa  menggemparkan istana betara guru. Menurutku mereka lebih hebat dari Arjuna, tanpa perlu membuat para  dewata itu cemas kelimpungan setengah mati, mereka mendapatkan sebuah pusaka. Sepasang sayap cantik yang entah sebuah anugerah atau kutukan bagi mereka. Bagaimana tidak, sayap-sayap itu yang membuat mereka begitu mengagumkan, dan sayap-sayap  itu pula  yang membuat  beberapa  dari mereka harus bergelut dengan formalin dan menjadi cindera mata pada sebuah bingkai keemasan.


Tiga hari setelahnya, kepompong itu bergerak, seperti baru membuka  mata dari tidur  panjang. Aku rasa, dari caranya  bergerak dia tidak menguap, otak kepompong tak membutuhkan oksigen saat bosan, atau mungkin karena dia  tak  memiliki mulut, juga hidung.  Aku jadi berpikir  bagaimana cara dia  bernafas, rasanya  kulit kepompong itu terlalu keras  untuk rembesan udara. Ah sudahlah, mungkin kepompong tak perlu bernafas untuk hidup, toh kenyataannya  dia  tetap hidup. 


Ada sesosok aneh yang beringsut keluar  dari dalam kepompong hijau muda, mirip kakek tua  keriput, kisut. Entah sejak kapan dia berada di  dalam sana, juga bagaimana cara dia keluar  dari penjara hijau muda keras itu. Kuperhatikan dia tak bergigi, juga tak  bertanduk. Sesaat dia terdiam di sana,  berjemur pada matahari pagi. Sayapnya seperti kerupuk, membutuhkan panas untuk mengembang. Hanya saja  dia menggunakan terik  matahari dan hembusan angin, bukan minyak kelapa. Tak  lama,  dia pergi tanpa  mengucapkan sepatah selamat tinggal  pada jeruk nipis, dan meninggalkan sepotong kenangan pada bekas kepompong hijau muda. Sekarang aku tak bisa  memutuskan pada siapa aku harus  lebih mengiba,  pada seekor ulat yang  sudah sempurna menjadi  kupu-kupu, menjadi perihal yang pernah meninggalkannya dan melakukan hal  yang  sama, meninggalkan sepatah dahan jeruk nipis, atau pada  jeruk nipis muda, yang ditinggalkan sebatang kara.


III.   Airmata dan Pipi Gadis Pengamen Kecil


Aku melihat  sepasang sayap  malaikat kecil, duduk sambil memegang  uang recehan. Lingkaran logam yang tak cukup untuk  menjadi segerombolan dan menggemerincing. Tangannya  kehilangan tongkat kebahagiaan, mungkin seorang raksasa menukarnya dengan batang kayu kecil yang berisik saat lempeng pipih ujungnya  bercumbu.


Matanya abu-abu, tak  sedalam lautan, tak juga segelap dasar palung laut. Matamu dengan mudah bisa  melihat apa isi di dalamnya, kosong. Sama kosongnya dengan lambung yang tak  terisi makanan apapun sejak siang tadi,  pada tubuh yang sama. Mata-mata yang lain memandangnya  berbelas kasihan penuh kesombongan. Kebanyakan manusia  seperti itu, merasa dirinya lebih baik daripada yang lainnya. Sedang nurani sendiri lebih memilih  untuk  memeluknya.


Matamu langit mendung,  kelabu. Mendung seperti karung beras kelebihan beban, tapi matamu  tak pernah berhujan deras, menggerimis  pada sebuah pipi yang terlihat seperti kawah tanah, cekung dan coklat. Air mata sedikit meredakan perih yang dirasakan hati, padahal dia mengering pada sebuah pipi. Mungkin pipi  adalah pintu masuk hati, sekarang aku tahu kenapa  ibuku suka mengecup pipiku. Sekedar menyejukkan hati. Paragraf ini aneh, terlalu banyak kata hati.  Bukti bahwa  jariku tak begitu  pandai menyusun kata-kata.

Kukutip dari  seorang teman, “hidup tak selalu monokrom”. Maaf kawan jika  ada yang salah dari yang kuucapkan. Tapi  kamu sepertinya harus  datang kesini dan melihat ini, apakah abu-abu  adalah monokrom yang kamu maksud,  atau sesuatu yang lain?


Sepotong malaikat yang sudah tertidur,  dengan pipi coklat tanah yang sudah berkerak, ditinggalkan air mata.


IV.  Kakek dan Pensil Kayu


Aku tak bisa menulis tentang ini, cinta puluhan tahun hanya  bisa kamu rasakan saat mengalaminya, bukan membacanya. Hanya saja mereka saling kehilangan saat pensil kayu itu habis.  Melukis segores rambut gadis yang menikah dengannya 50 tahun yang lalu. Itu saja.


V.  Remaja dan Kawan Lama


Kalian pernah saling  jatuh cinta saat sekolah, atau menyerahkan diri pada satu ketulusan. Barangkali suatu saat menjadi hutan dengan hanya dua pohon merah yang tak lagi saling menyapa, diam dan kaku. Tapi  bukankah kalian tak peduli akan masa depan? Genggaman kalian adalah masa depan bagi kalian, dan tak ada seorangpun yang memprotesnya.


Gadis itu selalu berada pada  sebuah pilihan,  tetap merasa tersakiti atau mati. Hei nona, tahukah kamu bahwa pria disampingmu juga  memutuskan menancapkanmu pada dadanya? Pilihannya sama, membawamu bagaimanapun tertatihnya, atau mencabutnya dan lebih dari terluka. Tapi bukankah kalian tak pernah peduli rasa sakit? Kalian saling menghujam dan tetap mencoba bahagia.


Selamat siang pagi. Seperti sengaja kamu datang terlambat hari ini. Memberi waktu lebih lama bagi mereka untuk beristirahat? Ah ya, telinga mereka butuh tidur, setelah semalaman menguping percakapan dua manusia jatuh hati. Tapi bukankah kalian tak peduli orang lain? Guru kalian hanya lalat kerbau  yang mengganggu jika kalian tertidur di kelas.


Mulut kalian menjadi terlalu tajam dan jantung kalian tak mengijinkan belati itu menancap lagi, jadi kalian sekarang tak lagi ingin mati? Sekarang kalian mulai peduli?


Pada satu perjalanan kamu meninggalkan sepasang hati kecil  pada panti asuhan. Kaki kalian berjalan menjauh.  Mereka menjadi  sepasang anak kecil  yang ditinggalkan pada pasar malam, kecil  dan tak tahu harus kemana, sekarang kalian mulai peduli?

Ya, lupakan saja. Kalian juga sudah tak ingin saling mengingat. Sudah tak ingat lagi menjadi tak peduli?




Sekarang mulailah mengingat, berapa banyak dunia ini kehilangan?


Cahya Bagus Mandalukita


Twitter Bird Gadget